Postmodernisme pernah mempertanyakan hampir segala sesuatu: kebenaran, makna, bahkan identitas manusia itu sendiri. Namun filsafat tidak berakhir di sana. Di tengah perdebatan yang terus berlangsung antara kebenaran absolut dan kebenaran relatif, pragmatisme muncul untuk menawarkan filsafat yang dapat membantu kita hidup.

Selama berabad-abad, para filsuf memperdebatkan satu pertanyaan yang tampaknya sederhana tetapi sulit dijawab:
Apa itu kebenaran?
Sebagian percaya bahwa kebenaran bersifat universal dan dapat ditemukan melalui akal serta observasi. Sebagian lainnya berpendapat bahwa setiap pemahaman manusia selalu dipengaruhi oleh bahasa, budaya, sejarah, dan pengalaman hidup.
Perdebatan ini membentuk banyak perkembangan filsafat modern.
Dari Era Pencerahan hingga postmodernisme, para filsuf terus berusaha memahami apakah manusia dapat menemukan kebenaran yang objektif atau hanya berbagai interpretasi yang saling bersaing.
Namun menjelang akhir abad ke-19, muncul sekelompok pemikir yang mengajukan pertanyaan yang berbeda.
Daripada terus memperdebatkan apakah sebuah gagasan benar secara mutlak, mengapa tidak bertanya:
Apa akibat dari gagasan tersebut?
Apa perbedaan yang ia buat dalam kehidupan nyata?
Dan apakah ia benar-benar membantu kita memahami serta menjalani dunia dengan lebih baik?
Dari pertanyaan inilah lahir pragmatisme.
Charles Sanders Peirce dan Awal Sebuah Perubahan
Salah satu tokoh pertama yang mengembangkan pragmatisme adalah Charles Sanders Peirce, seorang matematikawan, logikawan, dan filsuf Amerika.
Peirce melihat bahwa banyak perdebatan filsafat berlangsung tanpa akhir karena para filsuf sering menggunakan konsep yang tidak memiliki konsekuensi praktis yang jelas.
Menurutnya, makna sebuah gagasan hanya dapat dipahami jika kita melihat dampaknya dalam pengalaman nyata.
Jika sebuah konsep tidak mengubah cara kita berpikir, bertindak, atau memahami dunia, maka konsep tersebut memiliki sedikit makna praktis.
Peirce merumuskan prinsip ini dalam apa yang kemudian dikenal sebagai pragmatic maxim.
Secara sederhana, untuk memahami arti sebuah ide, kita perlu melihat konsekuensi yang mungkin muncul jika ide tersebut benar.
Peirce juga memperkenalkan pandangan yang dikenal sebagai fallibilism.
Menurutnya, manusia tidak pernah memiliki pengetahuan yang sempurna dan final. Setiap keyakinan harus selalu terbuka terhadap revisi jika ditemukan bukti atau pengalaman baru yang lebih baik.
Bagi Peirce, pengetahuan bukanlah sesuatu yang dimiliki sekali untuk selamanya.
Pengetahuan adalah proses yang terus berkembang.
William James dan Kebenaran yang Bekerja
Jika Peirce membangun fondasi pragmatisme, William James membantu memperkenalkannya kepada khalayak yang lebih luas.
James adalah seorang psikolog dan filsuf yang memiliki gaya menulis yang jauh lebih mudah diakses dibandingkan Peirce.
Melalui James, pragmatisme mulai bergerak dari ruang akademik menuju persoalan-persoalan kehidupan sehari-hari.
Dalam bukunya Pragmatism (1907), James menulis:
“It is astonishing to see how many philosophical disputes collapse into insignificance the moment you subject them to this simple test of tracing a concrete consequence.“
Menurut James, banyak perdebatan filsafat menjadi jauh lebih sederhana ketika kita bertanya apa dampak nyata dari gagasan yang sedang diperdebatkan.
Jika dua teori menghasilkan konsekuensi yang sama dalam praktik, mungkin perbedaannya tidak sepenting yang dibayangkan.
“Truth is what works.”
william james
Namun ungkapan tersebut sering disalahpahami.
James tidak mengatakan bahwa segala sesuatu yang berguna otomatis menjadi benar.
Ia berpendapat bahwa sebuah keyakinan memperoleh statusnya sebagai “benar” ketika keyakinan tersebut terus membuktikan dirinya melalui pengalaman dan membantu kita memahami dunia secara konsisten.
Bagi James, kebenaran bukan benda yang diam menunggu untuk ditemukan.
Kebenaran adalah sesuatu yang diuji dalam kehidupan.
Bagaimana Menilai Sebuah Gagasan?
Pragmatisme bukan berarti menerima apa saja yang terasa nyaman atau menguntungkan.
Baik Peirce maupun James tetap menuntut disiplin intelektual yang ketat.
Sebuah gagasan perlu memenuhi beberapa syarat.
Pertama, ia harus memiliki dasar dalam pengalaman dan kenyataan yang dapat diamati.
Kedua, ia harus mampu bertahan ketika diuji dan dikritik.
Ketiga, ia harus terus menunjukkan manfaatnya dalam berbagai situasi dan kondisi yang berbeda.
Dengan kata lain, sebuah gagasan tidak menjadi benar karena kita menyukainya.
Ia menjadi layak dipertahankan karena terus menunjukkan kemampuannya membantu manusia memahami dan menghadapi dunia.
Pragmatisme tidak menggantikan sains.
Sebaliknya, ia melihat metode ilmiah sebagai salah satu contoh terbaik dari cara kerja pencarian kebenaran yang terbuka terhadap koreksi dan pembaruan.
Hidup di Dunia yang Tidak Pasti
Pragmatisme berkembang pada saat dunia menjadi semakin kompleks. Masyarakat menjadi lebih beragam. Pandangan hidup semakin beragam. Dan berbagai keyakinan yang sebelumnya dianggap pasti mulai dipertanyakan.
Dalam situasi seperti ini, pragmatisme menawarkan pendekatan yang berbeda.
Ia tidak meminta kita menemukan fondasi yang absolut. Ia juga tidak meminta kita menyerah pada relativisme yang mengatakan bahwa semua pandangan sama benarnya.
Sebaliknya, pragmatisme mengajak kita menilai gagasan berdasarkan konsekuensinya.
Apakah gagasan tersebut membantu kita memahami masalah?
Apakah ia membantu kita hidup bersama dengan lebih baik?
Apakah ia menghasilkan dampak yang dapat dipertanggungjawabkan?
Pendekatan semacam ini membuat pragmatisme tetap relevan hingga hari ini, baik dalam ilmu pengetahuan, pendidikan, politik, maupun kehidupan sehari-hari.

Filsafat yang Berjalan Bersama Kita
Jika banyak tradisi filsafat berusaha menjelaskan hakikat realitas, pragmatisme lebih tertarik pada bagaimana manusia hidup di dalam realitas tersebut.
Ia tidak menjanjikan kepastian mutlak.
Ia tidak menawarkan sistem yang dapat menjawab semua pertanyaan.
Namun justru di situlah kekuatannya.
Pragmatisme menerima bahwa manusia hidup dalam dunia yang kompleks, berubah, dan sering kali tidak pasti.
Alih-alih mencari jawaban yang sempurna, ia mengajak kita mencari jawaban yang dapat bekerja, diperbaiki, dan diuji kembali ketika keadaan berubah.
Dalam banyak hal, pragmatisme dapat dipandang sebagai respons terhadap perjalanan panjang filsafat modern.
Setelah berabad-abad memperdebatkan Tuhan, kebenaran, makna, bahasa, dan identitas, pragmatisme mengajak kita kembali kepada kehidupan itu sendiri.
Bukan untuk mengabaikan pertanyaan-pertanyaan besar.
Tetapi untuk melihat bagaimana pertanyaan-pertanyaan tersebut memengaruhi cara kita hidup.
“The greatest revolution of our generation
william james
is the discovery that human beings,
by changing the inner attitudes of their minds, can change the outer aspects of their lives”
Dari Ide Menuju Manusia
Dari filsafat Yunani hingga pragmatisme modern, kita telah mengikuti perjalanan panjang tentang bagaimana manusia memahami dirinya sendiri dan dunia tempat ia hidup.
Kita telah melihat lahirnya logika, pencarian makna, keraguan terhadap kepastian, hingga berbagai upaya memahami pengalaman manusia.
Namun filsafat tidak pernah lahir dari ide semata.
Di balik setiap gagasan selalu ada seorang manusia. Seseorang yang hidup pada zamannya. Seseorang yang mengalami cinta, kehilangan, perang, penyakit, kegagalan, dan harapan.
Karena itu, untuk memahami filsafat sepenuhnya, kita juga perlu memahami kehidupan para filsuf yang melahirkannya.
Dan di sanalah perjalanan berikutnya dimulai.
Bukan lagi dari ide-ide besar.
Melainkan dari kehidupan manusia yang melahirkannya.
>> Lanjut ke Awal Eksistensialisme
Tonton Video Terkait:
