Absurdisme: Pemberontakan di Dunia Tanpa Makna

Setelah ribuan tahun bergulat dengan pertanyaan tentang makna hidup, manusia tetap berhadapan dengan dunia yang tidak memberikan jawaban. Menyadari kontradiksi ini, Albert Camus menawarkan tiga kemungkinan: mengakhiri hidup, berserah pada iman, atau yang paling menantang dari semuanya, yaitu hidup dalam pemberontakan.

Monk by the Sea, Caspar David Friedrich, 1808. 

Dalam mitologi Yunani, Sisifus adalah seorang raja yang terkenal karena kecerdikannya. Ia menipu para dewa, menghindari kematian, bahkan berhasil kembali dari dunia orang mati. Namun para dewa tidak melupakan pembangkangannya.

Sebagai hukuman, Sisifus dijatuhi nasib yang tampaknya sederhana, tetapi sangat kejam.

Setiap hari ia harus mendorong sebuah batu besar ke puncak gunung. Dengan seluruh tenaganya ia mendorong batu itu perlahan menuju puncak. Namun tepat sebelum mencapai tujuan, batu tersebut selalu terlepas dan menggelinding kembali ke bawah.

Keesokan harinya, ia harus mengulang pekerjaan yang sama.

Dan begitu seterusnya. Tidak ada akhir. Tidak ada kemenangan. Tidak ada hasil yang dapat dipertahankan. Hanya pengulangan tanpa henti.

Kisah inilah yang dipilih Albert Camus sebagai titik awal untuk menjelaskan salah satu gagasan paling terkenal dalam filsafat abad ke-20.

Bagi Camus, absurditas bukanlah suasana hati, bukan pula sekadar perasaan pesimis terhadap kehidupan.

Absurditas lahir dari benturan antara dua hal.

Di satu sisi, manusia terus mencari makna. Kita ingin memahami mengapa kita ada, mengapa kita menderita, dan apa tujuan dari semua yang kita lakukan.

Di sisi lain, alam semesta tidak memberikan jawaban yang jelas.

Kita bertanya.

Dunia tetap diam.

Kita mencari keteraturan.

Dunia sering kali menunjukkan ketidakpastian.

Bagi Camus, absurditas tidak berada di dalam diri manusia dan tidak pula berada di dalam dunia.

Ia muncul di antara keduanya.

Absurd adalah benturan antara kebutuhan manusia akan makna dan ketidakpedulian alam semesta terhadap kebutuhan tersebut.

Semakin kita menyadari jarak antara harapan dan kenyataan ini, semakin kuat pengalaman absurd yang kita rasakan.

Secangkir Kopi atau Bunuh Diri?

Dalam karya The Myth of Sisyphus, Camus mengajukan apa yang ia sebut sebagai satu-satunya pertanyaan filsafat yang benar-benar serius.

“Should I kill myself, or have a cup of coffee?”

Kalimat ini terdengar ganjil karena menggabungkan dua hal yang sangat berbeda: bunuh diri dan secangkir kopi.

Namun justru di situlah letak maksud Camus.

Ketika seseorang menyadari absurditas kehidupan, ia dihadapkan pada sebuah pilihan mendasar. Jika hidup tidak memiliki makna yang sudah tersedia, mengapa harus terus menjalaninya?

Mengapa tetap bekerja, mencintai, merencanakan masa depan, atau berusaha mencapai sesuatu jika pada akhirnya semua akan berakhir?

Bagi Camus, pertanyaan tersebut tidak boleh dihindari.

Tetapi jawabannya juga bukan mengakhiri hidup.

Dalam novel A Happy Death, Camus menulis:

“But in the end, one needs more courage to live than to kill himself.”

Menurut Camus, hidup di tengah ketidakpastian membutuhkan keberanian yang lebih besar daripada melarikan diri darinya.

Karena itu, memilih untuk tetap hidup bukanlah tindakan naif.

Ia adalah bentuk keberanian.

Kierkegaard dan Lompatan Iman

Satu abad sebelumnya, seorang filsuf bernama Søren Kierkegaard juga bergulat dengan masalah yang serupa.

Kierkegaard menyadari bahwa ada banyak situasi dalam hidup yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui logika dan penalaran. Pada titik tertentu, manusia harus mengambil keputusan tanpa memiliki kepastian penuh.

Jawaban Kierkegaard terhadap kondisi tersebut adalah apa yang kemudian dikenal sebagai leap of faith atau lompatan iman.

Menurutnya, manusia harus berani melangkah meskipun tidak memiliki semua jawaban.

“Life must be understood backwards.
But it must be lived forwards.”

Søren Kierkegaard

Ia percaya, manusia sering kali baru memahami makna berbagai peristiwa setelah semuanya berlalu. Namun kehidupan tidak memberi kita kesempatan untuk menunggu sampai semuanya jelas. Kita tetap harus mengambil keputusan dan terus melangkah ke depan.

Bagi Kierkegaard, iman menjadi cara untuk hidup di tengah ketidakpastian tersebut.

Meskipun banyak dipengaruhi oleh Kierkegaard, Camus tidak menerima kesimpulan yang sama. Menurutnya, lompatan iman justru menghindari persoalan yang sebenarnya.

Ketika seseorang beralih kepada Tuhan atau prinsip transenden untuk menjelaskan absurditas hidup, ia mungkin memperoleh jawaban. Namun bagi Camus, jawaban itu dibayar dengan mengorbankan sesuatu yang sangat berharga: kejujuran intelektual.

Camus menyebut langkah semacam itu sebagai philosophical suicide.

Bukan karena ia menolak agama secara emosional, tetapi karena ia merasa bahwa iman menyelesaikan persoalan absurditas dengan cara meninggalkan pertanyaan itu sendiri.

Bagi Camus, pada akhirnya dunia tetap tidak memberikan makna yang pasti. Dan keberanian sejati bukanlah menemukan jawaban yang menghibur, melainkan tetap hidup tanpa jawaban tersebut.

Le Château des Pyrénées, René Magritte, 1959.

Pemberontakan terhadap Absurd

Untuk menjalani hidup secara jujur, Camus mengusulkan apa yang disebutnya sebagai pemberontakan terhadap absurditas.

Pemberontakan ini bukan revolusi politik atau perlawanan bersenjata.

Ia adalah sikap hidup.

Sikap untuk tetap menjalani kehidupan dengan kesadaran penuh bahwa tidak ada makna yang dijamin dari luar diri kita. Untuk tetap mencintai meskipun kehilangan tidak dapat dihindari. Untuk tetap berkarya meskipun tidak ada jaminan bahwa karya tersebut akan bertahan selamanya. Untuk tetap hidup meskipun kita mengetahui bahwa suatu hari kita akan mati.

Camus merangkum sikap ini dengan ungkapan yang sederhana:

hidup tanpa banding. Tanpa meminta alam semesta menjelaskan dirinya. Tanpa menunggu keselamatan. Tanpa mengharapkan jawaban yang tidak pernah datang.

Di sinilah Sisifus kembali muncul.

Sisifus mengetahui bahwa batu itu akan jatuh. Ia mengetahui bahwa pekerjaannya tidak akan pernah selesai. Ia mengetahui bahwa tidak ada hadiah yang menunggunya di puncak gunung. Namun ia tetap mendorong batu itu.

Bukan karena ia berharap berhasil. Bukan karena ia percaya bahwa suatu hari hukuman itu akan berakhir. Melainkan karena ia menerima kenyataan tersebut dan tetap memilih untuk bertindak.

Bagi Camus, di situlah letak kebebasan Sisifus.

Para dewa dapat menentukan hukumannya, tetapi mereka tidak dapat menentukan sikapnya terhadap hukuman tersebut.

Justru ketika Sisifus sepenuhnya menyadari nasibnya, ia berhenti menjadi korban dan mulai menjadi pemberontak.

Pahlawan Absurd

Di akhir The Myth of Sisyphus, Camus menulis salah satu kalimat paling terkenal dalam filsafat modern:

“The struggle itself toward the heights
is enough to fill a man’s heart.
One must imagine Sisyphus happy.”

Albert camus

Bagi Camus, kebahagiaan tidak ditemukan dalam makna yang tersembunyi di balik kehidupan.

Ia tidak ditemukan dalam janji keselamatan, tujuan akhir, atau makna yang menunggu di masa depan.

Kebahagiaan ditemukan dalam kesadaran penuh terhadap kehidupan yang sedang dijalani saat ini. Dalam tindakan itu sendiri. Dalam perjuangan itu sendiri. Dalam keberanian untuk terus hidup meskipun kita tidak memiliki semua jawaban.

Inilah warisan dari The Absurd Hero.

Hidup tanpa mengetahui alasannya. Terus mendorong batu tanpa mengharapkan keselamatan. Dan tetap mampu tertawa meskipun mengetahui bahwa gunung itu tidak memiliki puncak yang benar-benar dapat dicapai.

Camus mengakhiri filsafatnya tanpa jawaban final, tanpa kebenaran yang mutlak, dan tanpa janji keselamatan. Ia tidak menawarkan peta. Ia hanya menawarkan sebuah cermin.

Dan melalui cermin itu, kita melihat dunia bukan sebagaimana seharusnya, melainkan sebagaimana adanya: acuh tak acuh, tidak selalu masuk akal, tetapi sekaligus indah dan menakjubkan.

Bagi Camus, hidup secara absurd bukan berarti meninggalkan makna. Ia berarti berhenti mengejar makna sebagai tujuan akhir yang harus ditemukan. Yang tersisa adalah kehidupan itu sendiri, yang dijalani hari demi hari dengan kejernihan dan keberanian.

Dalam pemberontakan yang sederhana itu, Camus menawarkan sesuatu yang jarang diberikan oleh filsafat.

Bukan kepastian, melainkan kejernihan.

Bukan ketenangan mutlak, melainkan kebebasan.

Namun pertanyaan yang dibuka oleh absurdisme tidak berhenti pada Camus.

Jika alam semesta tidak memiliki makna yang melekat di dalam dirinya, bagaimana kita memahami kebenaran?

Jika tidak ada jawaban yang pasti, apa yang terjadi pada pengetahuan yang selama ini kita anggap objektif?

Dan jika makna tidak ditemukan, melainkan diciptakan, siapa yang sebenarnya menciptakannya?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang kemudian menarik perhatian generasi pemikir berikutnya.

Jika Camus mempertanyakan diamnya alam semesta, mereka mulai mempertanyakan bahasa, sejarah, identitas, budaya, dan berbagai sistem yang digunakan manusia untuk menjelaskan dunia.

Dari sana lahir sebuah cara berpikir baru yang semakin skeptis terhadap kebenaran tunggal, narasi besar, dan klaim objektivitas.

>> Lanjut ke Postmodernisme
Tonton Video Terkait