Absurdisme: Pemberontakan di Dunia Tanpa Makna

Eksistensialisme mengajarkan bahwa manusia bebas membentuk kehidupannya sendiri. Namun bagaimana jika pencarian makna itu tidak pernah menemukan jawaban yang pasti? Bagi Albert Camus, persoalannya bukan bagaimana mengatasi absurditas tersebut, melainkan bagaimana tetap hidup dengan keberanian, kebebasan, dan kesadaran penuh di tengahnya.

Sisyphus, von Stuck, 1920. 

Dalam mitologi Yunani, Sisifus adalah seorang raja yang terkenal karena kecerdikannya. Ia menipu para dewa, menghindari kematian, bahkan berhasil kembali dari dunia orang mati. Namun para dewa tidak melupakan pembangkangannya.

Sebagai hukuman, Sisifus dijatuhi nasib yang tampaknya sederhana, tetapi sangat kejam.

Setiap hari ia harus mendorong sebuah batu besar ke puncak gunung. Dengan seluruh tenaganya ia mendorong batu itu perlahan menuju puncak. Namun tepat sebelum mencapai tujuan, batu tersebut selalu terlepas dan menggelinding kembali ke bawah.

Keesokan harinya, ia harus mengulang pekerjaan yang sama.

Dan begitu seterusnya. Tidak ada akhir. Tidak ada kemenangan. Tidak ada hasil yang dapat dipertahankan. Hanya pengulangan tanpa henti.

Kisah inilah yang dipilih Albert Camus sebagai titik awal untuk menjelaskan salah satu gagasan paling terkenal dalam filsafat abad ke-20.

Bagi Camus, absurditas bukanlah suasana hati, bukan pula sekadar perasaan pesimis terhadap kehidupan.

Absurditas lahir dari benturan antara dua hal.

Di satu sisi, manusia terus mencari makna. Kita ingin memahami mengapa kita ada, mengapa kita menderita, dan apa tujuan dari semua yang kita lakukan.

Di sisi lain, alam semesta tidak memberikan jawaban yang jelas.

Kita bertanya.

Dunia tetap diam.

Kita mencari keteraturan.

Dunia sering kali menunjukkan ketidakpastian.

Bagi Camus, absurditas tidak berada di dalam diri manusia dan tidak pula berada di dalam dunia.

Ia muncul di antara keduanya.

Absurd adalah benturan antara kebutuhan manusia akan makna dan ketidakpedulian alam semesta terhadap kebutuhan tersebut.

Semakin kita menyadari jarak antara harapan dan kenyataan ini, semakin kuat pengalaman absurd yang kita rasakan.

Dalam karya The Myth of Sisyphus, Camus mengajukan apa yang ia sebut sebagai satu-satunya pertanyaan filsafat yang benar-benar serius.

Kalimat ini terdengar ganjil karena menggabungkan hal ringan seperti secangkir kopi dan keputusan mengakhiri hidup.

Namun justru di situlah letak maksud Camus.

Ketika seseorang menyadari absurditas kehidupan, ia dihadapkan pada sebuah pilihan mendasar. Jika hidup tidak memiliki makna yang sudah tersedia, mengapa harus terus menjalaninya?

Mengapa tetap bekerja, mencintai, merencanakan masa depan, atau berusaha mencapai sesuatu jika pada akhirnya semua akan berakhir?

Bagi Camus, pertanyaan tersebut tidak boleh dihindari.

Melainkan, manusia justru harus menghadapinya dengan memilih untuk terus hidup.

Dalam novel A Happy Death, Camus menulis:

Menurut Camus, memutuskan untuk terus hidup di tengah ketidakpastian membutuhkan keberanian yang lebih besar daripada melarikan diri darinya.

Karena itu, memilih untuk tetap hidup bukanlah tindakan naif.

Ia adalah bentuk keberanian.

Gagasan tersebut tidak muncul begitu saja. Ia merupakan bagian dari percakapan panjang tentang kebebasan, iman, penderitaan, dan makna hidup yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Kierkegaard dan Lompatan Iman

Satu abad sebelumnya, seorang filsuf Denmark bernama Søren Kierkegaard juga bergulat dengan persoalan yang serupa dan menawarkan jawabannya sendiri.

Kierkegaard menyadari bahwa ada banyak situasi dalam hidup yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui logika dan penalaran. Pada titik tertentu, manusia harus membuat pilihan tanpa memiliki kepastian penuh.

Menurutnya, ketika akal tidak lagi mampu memberikan jawaban, manusia tetap harus melangkah. Jawaban Kierkegaard terhadap kondisi tersebut adalah apa yang kemudian dikenal sebagai leap of faith atau lompatan iman: keberanian untuk berkomitmen pada sesuatu yang tidak dapat dibuktikan sepenuhnya melalui rasio.

Bagi Kierkegaard, iman bukanlah kebalikan dari keraguan. Justru sebaliknya. Iman hanya memiliki arti ketika kepastian tidak tersedia.

Karena itu, ia tidak melihat iman sebagai sesuatu yang dapat dibuktikan melalui argumen atau logika. Iman adalah keputusan eksistensial. Sebuah pilihan untuk tetap percaya dan berkomitmen meskipun ketidakpastian tidak pernah benar-benar hilang.

Dalam pandangannya, manusia tidak dapat menjalani hidup hanya dengan mengandalkan rasio. Cepat atau lambat, kita akan menghadapi situasi yang menuntut keputusan tanpa jaminan, baik dalam cinta, komitmen, maupun keyakinan. Pada saat itulah seseorang harus mengambil lompatan.

Untuk menjelaskan gagasan tersebut, Kierkegaard menggunakan kisah Abraham dalam tradisi Abrahamik.

Menurut cerita tersebut, Abraham diperintahkan oleh Tuhan untuk mengorbankan putranya, Ishak. Secara moral, logis, dan emosional, perintah itu tampak tidak masuk akal. Namun Abraham tetap memilih untuk taat.

Bagi Kierkegaard, nilai kisah ini bukan terletak pada hasil akhirnya, melainkan pada situasi yang dihadapi Abraham. Ia harus bertindak tanpa kepastian dan tanpa mampu menjelaskan pilihannya melalui logika yang dapat diterima orang lain. Dalam arti tertentu, Abraham melangkah ke dalam sesuatu yang absurd.

Di sinilah Kierkegaard melihat hakikat iman: keberanian untuk tetap berkomitmen ketika rasio telah mencapai batasnya.

Melalui gagasan ini, Kierkegaard menggeser perhatian filsafat dari sistem-sistem abstrak menuju pengalaman individu yang konkret. Pertanyaan tentang makna hidup tidak lagi dijawab oleh tradisi atau otoritas semata, melainkan menjadi sesuatu yang harus dihadapi secara pribadi oleh setiap manusia.

Warisan inilah yang kemudian memengaruhi hampir seluruh tradisi eksistensialisme modern. Bahkan para pemikir yang tidak menerima jawaban religius Kierkegaard tetap mewarisi pertanyaan yang ia ajukan: bagaimana seseorang harus hidup ketika kepastian tidak lagi tersedia?

Salah satu di antaranya adalah Albert Camus.

Meski banyak dipengaruhi oleh Kierkegaard, Camus tidak menerima kesimpulan yang sama. Ia menghargai keberanian Kierkegaard dalam menghadapi ketidakpastian, tetapi menolak langkah terakhir yang diambilnya.

Menurut Camus, ketika seseorang beralih kepada Tuhan atau prinsip transenden untuk menjelaskan absurditas hidup, ia memang memperoleh jawaban. Namun jawaban tersebut datang dengan harga tertentu.

Camus menyebut langkah semacam itu sebagai philosophical suicide.

Bukan karena ia menolak agama secara emosional, melainkan karena ia merasa bahwa lompatan iman menyelesaikan persoalan dengan meninggalkan pertanyaan itu sendiri. Ketika ketidakpastian dijawab dengan keyakinan yang melampaui rasio, absurditas tidak lagi dihadapi secara langsung.

Bagi Camus, dunia tetap tidak memberikan makna yang pasti. Dan keberanian sejati bukanlah menemukan jawaban yang menghibur, melainkan tetap hidup, bertanya, dan melangkah tanpa jawaban tersebut.

The Sacrifice of IsaacRembrandt van Rijn, 1635

Pemberontakan terhadap Absurd

Untuk menjalani hidup secara jujur, Camus mengusulkan apa yang disebutnya sebagai pemberontakan terhadap absurditas.

Pemberontakan ini bukan revolusi politik atau perlawanan bersenjata.

Ia adalah sikap hidup.

Sikap untuk tetap menjalani kehidupan dengan kesadaran penuh bahwa tidak ada makna yang dijamin dari luar diri kita. Untuk tetap mencintai meskipun kehilangan tidak dapat dihindari. Untuk tetap berkarya meskipun tidak ada jaminan bahwa karya tersebut akan bertahan selamanya. Untuk tetap hidup meskipun kita mengetahui bahwa suatu hari kita akan mati.

Camus merangkum sikap ini dengan ungkapan yang sederhana: hidup tanpa banding. Tanpa meminta alam semesta menjelaskan dirinya. Tanpa menunggu keselamatan. Tanpa mengharapkan jawaban yang tidak pernah datang.

Di sinilah Sisifus kembali muncul.

Dalam mitologi Yunani, Sisifus dihukum oleh para dewa untuk mendorong sebuah batu besar ke puncak gunung. Setiap kali hampir mencapai puncak, batu itu akan kembali menggelinding ke bawah. Hukuman tersebut berlangsung selamanya.

Sisifus mengetahui bahwa batu itu akan jatuh. Ia mengetahui bahwa pekerjaannya tidak akan pernah selesai. Ia mengetahui bahwa tidak ada hadiah yang menunggunya di puncak gunung.

Namun ia tetap mendorong batu itu.

Bukan karena ia berharap berhasil. Bukan karena ia percaya bahwa suatu hari hukuman itu akan berakhir. Melainkan karena ia menerima kenyataan tersebut dan tetap memilih untuk bertindak.

Bagi Camus, di situlah letak kebebasan Sisifus.

Para dewa dapat menentukan hukumannya, tetapi mereka tidak dapat menentukan sikapnya terhadap hukuman tersebut.

Justru ketika Sisifus sepenuhnya menyadari nasibnya, ia berhenti menjadi korban dan mulai menjadi pemberontak.

Di akhir The Myth of Sisyphus, Camus menulis salah satu kalimat paling terkenal dalam filsafat modern:

“The struggle itself toward the heights is enough to fill a man’s heart. One must imagine Sisyphus happy.”

albert camus

Inilah sosok yang kemudian dikenal sebagai The Absurd Hero.

Ia bukan pahlawan karena berhasil mengalahkan absurditas. Ia juga bukan pahlawan karena menemukan makna tersembunyi di balik kehidupannya.

Ia adalah pahlawan karena tetap memilih untuk hidup.

Karena tetap bertindak meskipun tidak memiliki semua jawaban.

Karena tetap mampu mencintai kehidupan tanpa menuntut kehidupan terlebih dahulu menjelaskan dirinya.

Bagi Camus, alasan untuk hidup tidak ditemukan dalam makna yang tersembunyi di balik kehidupan. Ia tidak ditemukan dalam tujuan akhir yang menunggu di masa depan ataupun dalam janji keselamatan yang datang dari luar diri kita.

Sebaliknya, kehidupan menemukan nilainya dalam pengalaman hidup itu sendiri: dalam persahabatan, cinta, pekerjaan, kreativitas, keindahan, tawa, dan berbagai momen sederhana yang membentuk keberadaan manusia sehari-hari.

Karena itu, absurdisme bukanlah filsafat keputusasaan.

Ia adalah ajakan untuk mencintai kehidupan sebagaimana adanya, tanpa menuntut agar kehidupan terlebih dahulu memberikan jawaban yang sempurna.

Dan mungkin di situlah letak warisan terbesarnya: keberanian untuk mengatakan “ya” kepada kehidupan, bahkan ketika kehidupan tidak selalu dapat dijelaskan.

Namun pertanyaan yang dibuka oleh absurdisme tidak berhenti pada Camus.

Jika alam semesta tidak memiliki makna yang melekat di dalam dirinya, bagaimana kita memahami kebenaran yang selama ini kita anggap objektif?

Dari sana lahir sebuah cara berpikir baru yang semakin skeptis terhadap kebenaran tunggal, narasi besar, dan klaim objektivitas.

>> Lanjut ke Postmodernisme
Tonton Video Terkait