Seabad sebelumnya, Nietzsche mempertanyakan apakah manusia hanya menggantikan mitos-mitos lama dengan berhala-berhala baru. Postmodernisme melanjutkan kecurigaan itu dengan pertanyaan yang lebih radikal: apakah kebenaran yang kita anggap mutlak benar-benar ada, atau hanya merupakan hasil dari bahasa, budaya, dan struktur kekuasaan yang membentuk cara kita melihat dunia?

Absurdisme mengajarkan bahwa alam semesta tidak memberikan jawaban yang kita cari. Namun bagi generasi filsuf berikutnya, persoalannya ternyata tidak berhenti di sana.
Bagaimana jika masalahnya bukan hanya dunia yang diam?
Bagaimana jika cara kita memahami dunia juga bermasalah?
Selama berabad-abad, filsafat Barat dibangun di atas keyakinan bahwa manusia dapat menemukan kebenaran melalui akal, sains, dan pengetahuan. Sejak Era Pencerahan, banyak orang percaya bahwa rasionalitas akan membebaskan manusia dari takhayul, konflik, dan ketidakpastian.
Namun abad ke-20 memberikan alasan untuk meragukan keyakinan tersebut.
Perang dunia, kolonialisme, totalitarianisme, dan berbagai bentuk penindasan modern menunjukkan bahwa kemajuan tidak selalu berjalan seiring dengan kebijaksanaan. Semakin banyak pemikir mulai bertanya apakah manusia benar-benar telah membebaskan dirinya dari dogma, atau hanya mengganti berhala lama dengan berhala yang baru.
Di antara para pengkritik modernitas, tidak ada yang lebih berpengaruh daripada Friedrich Nietzsche.
Nietzsche dan Kematian Tuhan
Pada tahun 1882, Nietzsche menulis salah satu bagian paling terkenal dalam sejarah filsafat modern:
“God is dead. God remains dead. And we have killed him.”
Kalimat ini sering disalahpahami sebagai pernyataan ateisme yang penuh kemenangan.
Padahal yang dimaksud Nietzsche jauh lebih kompleks.
Ia tidak sedang merayakan kematian Tuhan. Ia sedang menggambarkan krisis yang akan dihadapi masyarakat modern setelah kehilangan sumber makna yang selama berabad-abad menjadi fondasi kehidupan mereka.
Agama, tradisi, dan nilai-nilai yang sebelumnya dianggap mutlak mulai kehilangan pengaruhnya. Sains dan rasionalitas menggantikan banyak fungsi yang sebelumnya diisi oleh keyakinan religius.
Namun Nietzsche melihat sebuah bahaya.
Jika manusia berhasil menghancurkan sistem kepercayaan lama, apa yang akan menggantikannya?
Menurutnya, modernitas tidak benar-benar menghapus dogma. Ia hanya menciptakan dogma baru.
Kemajuan.
Objektivitas.
Moralitas universal.
Kebenaran ilmiah.
Bagi Nietzsche, semua itu berpotensi menjadi “berhala” baru yang diterima tanpa dipertanyakan.
Ia khawatir bahwa manusia modern telah kehilangan kemampuan untuk menciptakan nilai-nilainya sendiri dan justru menggantungkan diri pada sistem-sistem baru yang dianggap sama mutlaknya dengan agama yang sebelumnya mereka tinggalkan.
Pemikiran Nietzsche menjadi titik awal bagi berbagai kritik terhadap modernitas yang akan berkembang sepanjang abad ke-20.
Jika filsafat modern mencari fondasi yang kokoh bagi pengetahuan, para pemikir postmodern justru mulai mempertanyakan apakah fondasi semacam itu benar-benar ada.
Mereka tidak selalu menolak sains, logika, atau pengetahuan.
Yang mereka pertanyakan adalah klaim bahwa satu sistem pemikiran dapat menjelaskan seluruh realitas secara universal.
Postmodernisme muncul bukan sebagai sebuah teori tunggal, melainkan sebagai sikap skeptis terhadap berbagai “cerita besar” yang selama ini digunakan untuk menjelaskan dunia.
Cerita tentang kemajuan, rasionalitas, dan sejarah yang bergerak menuju tujuan tertentu. Cerita tentang kebenaran yang berlaku bagi semua orang di semua tempat.
Para pemikir postmodern tidak selalu mengatakan bahwa cerita-cerita tersebut salah. Mereka hanya mempertanyakan apakah cerita tersebut benar-benar mewakili semua orang.
Para Arsitek Keraguan
Salah satu tokoh yang paling sering dikaitkan dengan postmodernisme adalah Jean-François Lyotard.
Dalam bukunya The Postmodern Condition (1979), ia memperkenalkan sebuah gagasan yang kemudian menjadi ciri khas postmodernisme:“Incredulity toward meta-narratives.”
Secara sederhana, Lyotard mengajak kita untuk bersikap skeptis terhadap narasi besar yang mengklaim mampu menjelaskan seluruh pengalaman manusia.
Menurutnya, tidak ada satu cerita tunggal yang dapat mewakili keragaman pengalaman manusia yang begitu luas.
Pengetahuan bukanlah sebuah bangunan besar yang utuh.
Ia terdiri dari banyak perspektif, konteks, dan pengalaman yang berbeda.
Jika Lyotard mempertanyakan narasi, Jacques Derrida mempertanyakan bahasa yang digunakan untuk membangun narasi tersebut.
Melalui pendekatan yang dikenal sebagai deconstruction, Derrida menunjukkan bahwa makna tidak pernah sepenuhnya stabil.
Kata-kata memperoleh maknanya dari hubungan dengan kata-kata lain. Karena hubungan tersebut selalu berubah, makna pun tidak pernah benar-benar tetap.
Akibatnya, teks sering kali mengandung kontradiksi dan asumsi tersembunyi yang tidak disadari oleh penulisnya sendiri.
Derrida tidak berusaha menghancurkan makna.
Ia hanya menunjukkan bahwa makna jauh lebih rapuh daripada yang selama ini kita bayangkan.
Jika Derrida mempertanyakan bahasa, Michel Foucault mempertanyakan hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan.
Alih-alih bertanya:
“Apa yang benar?”
Foucault lebih tertarik pada pertanyaan:
“Siapa yang menentukan apa yang dianggap benar?”
Melalui kajiannya tentang rumah sakit jiwa, penjara, seksualitas, dan berbagai institusi sosial lainnya, Foucault menunjukkan bahwa banyak hal yang kita anggap alami, normal, atau masuk akal sebenarnya merupakan hasil dari proses sejarah yang panjang.
Menurutnya, kekuasaan tidak hanya bekerja melalui larangan, hukuman, atau paksaan.
Kekuasaan juga bekerja dengan cara yang jauh lebih halus: membentuk pengetahuan, menciptakan kategori, dan menentukan bagaimana realitas dipahami.
Dengan kata lain, kekuasaan tidak sekadar mengendalikan manusia di dalam suatu realitas. Kekuasaan ikut membentuk realitas itu sendiri.
Apa yang dianggap waras atau gila, sehat atau sakit, normal atau menyimpang, bukanlah kategori yang sepenuhnya netral. Kategori-kategori tersebut lahir dari jaringan institusi, praktik sosial, dan sistem pengetahuan yang berkembang sepanjang sejarah.
Karena itu, bagi Foucault, pengetahuan dan kekuasaan tidak dapat dipisahkan. Setiap sistem pengetahuan menghasilkan bentuk kekuasaannya sendiri, dan setiap bentuk kekuasaan pada saat yang sama menciptakan cara tertentu untuk memahami dunia.
Foucault juga menolak pandangan bahwa kekuasaan hanya bersifat represif. Menurutnya, masyarakat modern tidak terutama mengendalikan individu melalui ancaman atau kekerasan, melainkan melalui disiplin dan pengawasan yang terus-menerus.
Dalam bukunya Discipline and Punish, ia menggunakan konsep Panopticon, sebuah rancangan penjara yang memungkinkan para tahanan merasa selalu diawasi meskipun mereka tidak pernah tahu apakah penjaga benar-benar sedang melihat mereka.
Akibatnya, pengawasan tidak lagi memerlukan paksaan yang terlihat. Individu mulai mengawasi dirinya sendiri.
Bagi Foucault, prinsip yang sama bekerja jauh melampaui tembok penjara. Sekolah, rumah sakit, kantor, militer, hingga berbagai institusi modern membentuk perilaku manusia melalui sistem observasi, evaluasi, dan pencatatan yang terus-menerus.
Di era digital, gagasan ini terasa semakin relevan. Kamera pengawas, algoritma media sosial, data pengguna, sistem rating, hingga budaya personal branding menciptakan bentuk-bentuk pengawasan baru yang sering kali diterima secara sukarela.
Kita tidak lagi hanya diawasi oleh orang lain. Kita juga belajar mengawasi diri sendiri.
Karena itu, pertanyaan Foucault bukanlah apakah kekuasaan ada atau tidak. Kekuasaan ada di mana-mana, karena ia hadir dalam setiap hubungan sosial dan setiap sistem pengetahuan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana kekuasaan membentuk cara kita memahami diri sendiri, dan sejauh mana apa yang kita anggap sebagai kebenaran sebenarnya merupakan hasil dari proses tersebut?
Sementara itu, Jean Baudrillard membawa kritik postmodern ke arah yang lebih radikal.
Ia berpendapat bahwa masyarakat modern semakin sulit membedakan antara kenyataan dan representasi.
Kita tidak hanya mengalami dunia secara langsung.
Kita mengalaminya melalui televisi, iklan, media sosial, berita, dan berbagai bentuk representasi lainnya.
Menurut Baudrillard, pada titik tertentu representasi mulai menggantikan realitas itu sendiri.
Kita tidak lagi sekadar mengonsumsi produk.
Kita mengonsumsi citra, simbol, dan identitas yang melekat pada produk tersebut.
Kita tidak hanya mengikuti berita.
Kita mengikuti pertunjukan tentang berita.
Fenomena ini ia sebut sebagai hyperreality, yaitu kondisi ketika batas antara yang nyata dan yang direpresentasikan menjadi semakin kabur.

Relativisme dan Kelelahan Budaya
Postmodernisme pada awalnya hadir sebagai bentuk pembebasan.
Dengan mempertanyakan klaim-klaim objektivitas, ia memberi ruang bagi suara-suara yang selama ini diabaikan. Ia membantu mengungkap bagaimana kekuasaan dapat bersembunyi di balik bahasa netral, institusi, maupun narasi yang mengaku mewakili semua orang.
Namun setiap revolusi intelektual membawa konsekuensinya sendiri.
Jika semua narasi dapat dipertanyakan, apakah masih ada sesuatu yang dapat dijadikan pijakan bersama?
Jika setiap kebenaran bergantung pada perspektif tertentu, bagaimana kita membedakan antara pengetahuan dan opini?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini melahirkan apa yang sering disebut sebagai relativisme.
Pada bentuk yang paling moderat, relativisme mengajarkan kerendahan hati. Ia mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang memiliki akses sempurna terhadap kebenaran.
Namun pada bentuk yang lebih ekstrem, relativisme dapat menimbulkan masalah baru. Jika semua pandangan dianggap sama-sama relatif, maka semakin sulit menjelaskan mengapa satu gagasan lebih layak dipertahankan daripada yang lain.
Akibatnya, sebagian orang mulai mengalami apa yang disebut sebagai kelelahan budaya.
Bukan karena terlalu banyak aturan.
Melainkan karena terlalu sedikit kepastian.
Jika semua makna dianggap sebagai konstruksi, semua kebenaran dipandang relatif, dan semua narasi dapat dibongkar, apa yang tersisa?
Pada titik inilah postmodernisme sering dituduh membuka jalan menuju nihilisme.
Tidak ada fondasi yang pasti, identitas yang tetap, atau kebenaran yang benar-benar final. Yang tersisa hanyalah interpretasi yang terus berubah.
Michel Foucault menggambarkan kemungkinan ini melalui salah satu metafora paling terkenal dalam filsafat modern. Dalam The Order of Things (1966), ia menulis bahwa manusia mungkin hanyalah sebuah penemuan yang relatif baru dalam sejarah pemikiran, yang suatu hari akan menghilang:
“Man is an invention of recent date.
michel foucault
And one perhaps nearing its end …
like a face drawn in the sand
at the edge of the sea.”
Gambaran tersebut terasa sekaligus puitis dan mengganggu.
Sebuah ombak datang perlahan dan menghapus jejak yang sebelumnya tampak begitu penting. Tidak ada ledakan. Tidak ada tragedi besar. Hanya penghapusan yang sunyi.
Dalam gambaran seperti ini, pernyataan Nietzsche bahwa “God is dead” seakan menemukan kelanjutannya.
Jika Tuhan tidak lagi menjadi sumber makna, dan jika rasionalitas gagal menggantikannya, apa yang tersisa?
Bagi Nietzsche, kehancuran nilai-nilai lama membuka kemungkinan untuk menciptakan nilai-nilai baru. Namun dalam pembacaan yang lebih pesimistis terhadap postmodernisme, bahkan kemungkinan itu mulai dipertanyakan.
Yang tersisa hanyalah senjakala para berhala.
Bukan hanya berakhirnya mitos-mitos lama, tetapi juga memudarnya keyakinan bahwa manusia mampu menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik.
Inilah horizon tergelap postmodernisme.
Bukan pembebasan. Melainkan kelelahan. Bukan lahirnya keyakinan baru. Melainkan hilangnya keyakinan itu sendiri.
Namun cerita filsafat tidak berakhir di sana.
Justru ketika berbagai fondasi mulai runtuh, sesuatu yang baru perlahan muncul. Pendekatan filsafat kontemporer yang lebih berorientasi pada kehidupan sehari-hari.
Sebuah babak baru yang tidak lagi terobsesi pada kepastian mutlak, tetapi juga tidak menyerah pada keputusasaan.
Dan di sanalah perjalanan kita berlanjut.
>> Lanjut ke Pragmatisme
Tonton Video Terkait:
