Era Pencerahan: Transformasi Pemikiran Manusia

Sejarah manusia tidak pernah diam untuk waktu yang lama. Seiring berkembangnya sains dan munculnya penemuan-penemuan baru, cara manusia memandang dirinya sendiri mulai berubah. Era Pencerahan membawa pemikiran Descartes dan Kant untuk mencari pemahaman bukan dari dari luar, tetapi dari dalam dirinya sendiri.

The Astronomer, Johannes Vermeer, 1668.

Selama berabad-abad, dunia Barat memiliki jawaban yang relatif jelas tentang kehidupan.

Tuhan menciptakan alam semesta. Tuhan menentukan tujuan hidup manusia. Kebenaran berasal dari wahyu, tradisi, dan ajaran agama yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tentu saja tidak semua orang sepakat mengenai detailnya. Namun secara umum, sebagian besar masyarakat hidup dalam sebuah tatanan yang dianggap memiliki makna dan tujuan yang telah ditentukan.

Kemudian dunia mulai berubah.

Pada abad ke-16 dan ke-17, berbagai penemuan ilmiah mulai mengguncang cara manusia memahami realitas. Ketika Nicolaus Copernicus mengusulkan bahwa bumi mengelilingi matahari, bukan sebaliknya, sebuah asumsi yang telah bertahan selama berabad-abad mulai dipertanyakan. Galileo Galilei mengarahkan teleskopnya ke langit dan menemukan bahwa alam semesta jauh lebih rumit daripada yang dibayangkan sebelumnya. Isaac Newton kemudian menunjukkan bahwa pergerakan planet di langit dan jatuhnya sebuah apel di bumi ternyata mengikuti hukum yang sama.

Untuk pertama kalinya, manusia mulai melihat bahwa alam semesta mungkin dapat dipahami tanpa harus selalu bergantung pada otoritas tradisional.

Di saat yang sama, mesin cetak mempercepat penyebaran pengetahuan. Buku menjadi lebih mudah diakses. Ide-ide baru bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Dunia yang selama berabad-abad relatif stabil mulai dipenuhi oleh perubahan.

Perlahan-lahan, sebuah keyakinan baru mulai tumbuh.

Mungkin manusia mampu memahami dunia dengan menggunakan akalnya sendiri.

Sapere Aude

Periode yang kemudian dikenal sebagai Era Pencerahan bukan sekadar kumpulan teori filsafat. Ia adalah perubahan cara pandang terhadap manusia itu sendiri.

Salah satu semboyan yang paling terkenal pada masa ini berasal dari bahasa Latin:

Sapere Aude.

Beranilah menggunakan akalmu sendiri.

Gagasan ini terdengar sederhana bagi kita saat ini. Namun pada masanya, ia merupakan sebuah revolusi.

Jika sebelumnya kebenaran sering kali diterima dari otoritas, kini orang mulai merasa berhak untuk mempertanyakannya. Jika sebelumnya tradisi dianggap cukup sebagai jawaban, kini banyak yang mulai menuntut alasan dan bukti.

Tokoh-tokoh seperti John Locke berbicara tentang hak-hak individu. Jean-Jacques Rousseau mempertanyakan hubungan antara rakyat dan pemerintah. Voltaire mengkritik intoleransi dan membela kebebasan berpikir. Adam Smith mencoba memahami bagaimana masyarakat dapat berkembang melalui kebebasan ekonomi.

Meskipun memiliki pandangan yang berbeda-beda, mereka berbagi keyakinan yang sama: manusia memiliki kemampuan untuk memperbaiki kehidupannya melalui akal, pengetahuan, dan kebebasan.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, banyak orang mulai percaya bahwa masa depan bukanlah sesuatu yang harus diterima begitu saja. Masa depan adalah sesuatu yang bisa dibentuk.

The Thinker, Auguste Rodin, 1904

Apa yang Dapat Dipercaya?

Di tengah perubahan besar ini muncul seorang filsuf Prancis bernama René Descartes.

Ia memulai dengan sebuah pertanyaan yang sangat sederhana namun radikal: Apa yang sebenarnya dapat saya percayai?

Descartes memutuskan untuk meragukan segalanya. Ia meragukan tradisi. Ia meragukan pengetahuan yang diwariskan kepadanya. Ia bahkan meragukan apakah dunia yang ia lihat benar-benar ada.

Jika semua hal bisa diragukan, adakah sesuatu yang pasti?

Pada akhirnya ia menemukan satu hal yang tidak bisa disangkal.

Jika ia sedang meragukan sesuatu, berarti ada seseorang yang sedang berpikir.

Dan jika ia berpikir, maka ia ada.

“Aku berpikir, maka aku ada.”

Kalimat ini sering dianggap sebagai titik awal filsafat modern.

Bukan karena Descartes berhasil menjawab semua pertanyaan, tetapi karena ia memindahkan titik awal pencarian kebenaran. Jika sebelumnya filsafat sering dimulai dari Tuhan atau tradisi, kini filsafat dimulai dari kesadaran manusia itu sendiri.

Untuk pertama kalinya, manusia menjadi pusat penyelidikan filosofi.

“Cogito Ergo Sum”

René descartes

Batas Akal Manusia

Era Pencerahan sangat percaya pada kekuatan akal.

Namun tidak semua filsuf percaya bahwa akal mampu menjawab segala hal.

Pada akhir abad ke-18, Immanuel Kant mengajukan sebuah pertanyaan yang mengubah arah filsafat:

Bagaimana jika kita tidak pernah benar-benar melihat dunia sebagaimana adanya?

Menurut Kant, manusia tidak mengalami realitas secara langsung. Semua yang kita lihat, dengar, dan pahami selalu melewati cara kerja pikiran kita terlebih dahulu.

Bayangkan mengenakan sepasang kacamata yang tidak pernah bisa dilepas. Kita mungkin dapat melihat dunia dengan jelas, tetapi kita tidak pernah bisa melihat bagaimana dunia tampak tanpa kacamata tersebut.

Bagi Kant, pikiran manusia bekerja dengan cara yang serupa.

Ruang, waktu, sebab-akibat, dan berbagai pola yang membantu kita memahami dunia bukan sekadar ditemukan di luar sana. Sebagian merupakan cara pikiran kita mengorganisasi pengalaman agar dapat dimengerti.

Dengan kata lain, kita tidak hanya mengamati dunia. Kita juga ikut membentuk cara dunia itu muncul dalam pengalaman kita.

Gagasan ini menjadi inti dari karya besarnya, Critique of Pure Reason (1781). Dalam buku tersebut, Kant berusaha menjawab pertanyaan yang telah diperdebatkan selama berabad-abad: dari mana pengetahuan berasal?

Jawabannya adalah kombinasi yang tidak terduga. Pengetahuan membutuhkan dunia luar untuk diamati, tetapi juga membutuhkan struktur pikiran manusia untuk memahaminya.

Pandangan ini membawa konsekuensi yang penting.

Akal memang sangat berharga. Namun akal juga memiliki batas.

Kita dapat memahami dunia sebagaimana dunia itu tampak bagi kita. Tetapi bagaimana realitas itu sendiri, terlepas dari cara manusia mengalaminya, mungkin akan selalu berada di luar jangkauan.

Kant menyebut perbedaan ini sebagai fenomena dan noumena: dunia sebagaimana kita mengalaminya, dan dunia sebagaimana adanya pada dirinya sendiri.

Karena itu, meskipun manusia semakin memahami alam semesta, kita tidak pernah menjadi pengamat yang sepenuhnya netral.

Kita selalu terlibat di dalamnya.

Pertanyaan yang Belum Terjawab

Sulit menyangkal keberhasilan Era Pencerahan.

Sains berkembang pesat. Teknologi terus maju. Sistem politik mulai berubah. Pendidikan menjadi lebih luas. Kehidupan manusia mengalami transformasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Banyak masalah yang dahulu dianggap misteri kini memiliki penjelasan yang lebih rasional.

Namun muncul sebuah kenyataan yang menarik.

Semakin banyak manusia memahami dunia, semakin jelas bahwa pengetahuan saja tidak selalu mampu menjawab pertanyaan yang paling pribadi.

Sains dapat menjelaskan bagaimana bintang terbentuk, tetapi tidak selalu dapat menjelaskan mengapa kehilangan terasa begitu menyakitkan.

Akal dapat membantu membangun masyarakat yang lebih maju, tetapi tidak selalu mampu menjawab bagaimana seseorang harus menjalani hidupnya.

Kemajuan menjawab banyak pertanyaan lama. Tetapi ia juga melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru.

Pada akhirnya, warisan terbesar Era Pencerahan mungkin bukanlah teknologi, demokrasi, atau sains.

Warisan terbesarnya adalah kebebasan.

Manusia semakin bebas untuk berpikir sendiri. Bebas untuk mempertanyakan tradisi. Bebas untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.

Namun kebebasan selalu datang bersama konsekuensi.

Jika selama berabad-abad makna hidup diberikan oleh agama, tradisi, dan otoritas, lalu apa yang terjadi ketika semua fondasi itu mulai dipertanyakan?

Jika tidak ada lagi jawaban yang sudah tersedia, siapa yang harus menemukannya?

“Enlightenment is man’s release from his
self-incurred tutelage.”

IMMANUEL KANT
>> Lanjut ke Filsafat Kontinental
Tonton Video Terkait: