Bukankah Luar Biasa Bahwa Kehidupan Itu Ada?

Starry Night, Vincent Van Gogh, 1889

Saya memulai perjalanan ini dengan harapan yang mungkin sama seperti banyak orang.

Bahwa suatu hari saya akan menemukan jawaban.

Jawaban tentang makna hidup.

Tentang kebebasan.

Tentang bagaimana seharusnya menjalani kehidupan.

Saya membayangkan bahwa setelah membaca cukup banyak buku dan novel filsafat, saya akan sampai pada sebuah kesimpulan. Sebuah cara hidup yang paling benar. Sebuah pemikiran yang mampu menjelaskan semuanya.

Namun semakin jauh perjalanan ini membawa saya, semakin saya menyadari bahwa para filsuf tidak sedang memberikan jawaban.

Mereka sedang mengajarkan cara melihat.

Dan perlahan saya menyadari…

yang berubah bukanlah dunia.

Yang berubah adalah saya.

Ketika mulai menulis situs ini, saya mengira sedang menyusun sebuah peta pemikiran. Hari ini, saya merasa yang saya susun sebenarnya adalah sebuah perjalanan.

Saya melihat bagaimana filsafat bergerak dari keyakinan bahwa akal mampu menjelaskan dunia, menuju kesadaran bahwa pengalaman manusia jauh lebih rumit daripada sekadar logika. Dari pencarian kepastian, menuju kebebasan. Dari kebebasan, menuju absurditas. Dan akhirnya, kembali kepada pertanyaan yang jauh lebih sederhana:

Bagaimana kita menjalani kehidupan?

Perjalanan para filsuf ternyata tidak jauh berbeda.

Ada yang menghancurkan nilai-nilai lama.

Ada yang menolak hidup dalam kepura-puraan.

Ada yang memberontak terhadap dunia yang terasa tidak masuk akal.

Namun semakin jauh perjalanan itu berlangsung, semakin sedikit mereka berbicara tentang teori. Semakin banyak mereka berbicara tentang kehidupan.

Perjalanan sastra pun mengikuti pola yang sama.

Ia dimulai dari kesadaran. Lalu membawa kita menghadapi kematian, masyarakat, identitas, dan orang lain. Hingga akhirnya perlahan tiba pada empati, cinta, penerimaan, dan bahkan humor.

Saya tidak pernah merencanakan pola itu sejak awal.

Baru ketika perjalanan ini hampir selesai, saya menyadari bahwa semua jalan itu ternyata mengarah ke tempat yang sama.

Bukan menuju sebuah jawaban.

Melainkan menuju sebuah cara memandang kehidupan.

Eksistensialisme mungkin adalah nama bagi sebuah aliran filsafat.

Namun kata yang paling membekas bagi saya justru bukan -isme.

Melainkan eksistensi.

Bahwa sebelum segala pertanyaan tentang makna, tujuan, atau kebenaran…

kita lebih dahulu ada.

Kita hidup.

Kita mencintai.

Kita kehilangan.

Kita gagal.

Kita tertawa.

Kita menangis.

Kita bertanya.

Mungkin makna terbesar dari eksistensialisme bukanlah memberikan makna kepada kehidupan. Melainkan mengingatkan kita untuk tidak melewatkan kehidupan itu sendiri.

Dulu saya memahami kalimat Albert Camus tentang membayangkan Sisifus berbahagia adalah ajakan untuk bertahan menghadapi absurditas.

Hari ini saya membacanya dengan cara yang berbeda.

Bukan sebagai ajakan untuk sekadar bertahan hidup.

Melainkan untuk benar-benar hidup.

Mungkin pada akhirnya, filsafat memang bukan milik segelintir orang yang lebih paham.

Ia milik manusia biasa.

Ia tidak selalu memberi jawaban tentang kehidupan. Ia mengajarkan kita untuk melihatnya dengan lebih jernih, menjalaninya dengan lebih sadar, dan tetap bersikap ingin tahu di tengah segala ketidakpastiannya.

Dan mungkin, setelah semua perjalanan ini, pertanyaan yang paling penting bukan lagi,

“Apa arti kehidupan?”

Melainkan,

“Bukankah luar biasa bahwa kehidupan itu ada?”

Kembali ke Awal