The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy

Douglas Adams

Bagaimana Jika Akhirnya Kita Menemukan Jawabannya?

Setelah perjalanan panjang melewati filsafat, sastra, kematian, kebebasan, absurditas, cinta, hingga penerimaan, rasanya kita pantas mendapatkan satu hal.

Sebuah jawaban.

Bukan lagi teori rumit atau konsep metafisik yang sulit dibayangkan. Melainkan sebuah panduan yang benar-benar menjelaskan kehidupan, alam semesta, dan segala sesuatu.

Untungnya, seseorang ternyata sudah menulis buku itu.

Pada awal tahun 1970-an, seorang penulis komedi muda bernama Douglas Adams sedang berbaring di sebuah ladang di Austria setelah terlalu banyak minum. Sambil menatap langit malam dengan buku The Hitchhiker’s Guide to Europe di tangannya, muncul sebuah gagasan yang terdengar tidak kalah konyol.

Bagaimana jika ada sebuah buku yang menjadi panduan bagi para pengelana di seluruh galaksi?

Buku itu adalah The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy.

Konon, buku ini akan memberikan jawaban untuk semua pertanyaan kita.

Sayangnya, orang-orang yang harus memandu kita adalah rombongan yang paling tidak meyakinkan di seluruh alam semesta.

Mereka adalah Arthur Dent, manusia paling biasa yang suatu pagi bukan hanya kehilangan rumahnya, tetapi juga seluruh planetnya, padahal ia hanya ingin menikmati secangkir teh. Ford Prefect, seorang peneliti galaksi yang tampaknya lebih percaya pada handuk daripada rencana hidup. Zaphod Beeblebrox, Presiden Galaksi berkepala dua yang karena bosan memutuskan mencuri pesawat paling canggih di alam semesta. Marvin, robot depresi dengan kecerdasan yang nyaris tak terbatas dan semangat hidup yang nyaris tidak ada. Dan Trillian… yang tampaknya menjadi satu-satunya alasan mengapa kapal itu belum benar-benar meledak.

Dan entah bagaimana, rombongan inilah yang dipercaya untuk menjelaskan kehidupan, alam semesta, dan segala sesuatu kepada kita.

Apa yang mungkin bisa salah?

Jawaban untuk Pertanyaan Terbesar tentang Kehidupan, Alam Semesta, dan Segala Sesuatunya

Setelah jutaan tahun perhitungan, komputer paling canggih di alam semesta akhirnya berhasil menemukan Jawaban untuk Pertanyaan Terbesar tentang Kehidupan, Alam Semesta, dan Segala Sesuatunya.

Ketika saat itu tiba, seluruh makhluk yang menunggunya menahan napas.

Jawabannya adalah…

42.

Masalahnya, tidak seorang pun tahu apa arti jawaban itu.

Komputer tersebut meyakinkan mereka bahwa jawabannya sudah benar. Hanya saja, mereka belum mengetahui pertanyaannya.

Tentu saja semua orang langsung meminta komputer itu menjelaskan pertanyaan yang tepat. Sayangnya, untuk menghitung pertanyaan tersebut diperlukan jutaan tahun lagi. Dan seperti banyak proyek besar dalam sejarah, lama-kelamaan semua orang kehilangan minat, lalu lupa mengapa mereka menunggu sejak awal.

Sulit membayangkan cara yang lebih lucu untuk mempermainkan obsesi manusia terhadap jawaban.

Sepanjang sejarah, kita membangun filsafat, agama, sains, bahkan kecerdasan buatan dengan harapan yang sama: bahwa suatu hari nanti kita akan menemukan jawaban terakhir.

Douglas Adams tidak pernah mengatakan bahwa jawaban itu tidak ada.

Ia hanya mengingatkan bahwa mungkin kita terlalu sibuk mencari jawaban, ketika yang sebenarnya kita butuhkan adalah pertanyaan yang tepat.

Panduan untuk Hidup di Alam Semesta

Sebagai sebuah panduan bagi para pengelana antargalaksi, The Hitchhiker’s Guide dipenuhi informasi yang sangat penting.

Misalnya bagaimana cara menumpang pesawat luar angkasa.

Mengapa sebaiknya Anda menghindari pembacaan puisi Vogon.

Atau bagaimana seekor Babel Fish bisa memicu perang antar planet.

Buku itu juga menjelaskan bahwa benda paling berguna yang dapat dimiliki seorang pengelana galaksi adalah…

sebuah handuk.

Sebagai catatan, handuk dapat digunakan sebagai selimut, layar, pelampung, penutup kepala, senjata darurat, sinyal penyelamatan, bahkan, kalau semua fungsi itu tidak diperlukan, untuk mengeringkan badan.

Pendek kata, kalau Anda hanya boleh membawa satu benda untuk menjelajahi galaksi, Douglas Adams menyarankan agar benda itu adalah handuk.

Douglas Adams pernah bercerita bahwa obsesinya terhadap handuk berawal dari pengalaman pribadinya. Ketika bepergian, ia hampir selalu kehilangan handuknya sendiri. Dari kebiasaan kecil yang konyol itu lahirlah salah satu simbol paling terkenal dalam dunia fiksi ilmiah. Bahkan hingga hari ini, para penggemarnya masih merayakan “Towel Day” setiap tanggal 25 Mei dengan membawa handuk ke mana pun mereka pergi.

Namun dari seluruh isi buku tersebut, nasihat yang paling penting justru tidak berada di dalamnya.

Ia dicetak besar-besar di sampul depan.

DON’T PANIC.

Yang menarik, justru dua kata sederhana di sampul buku itulah yang terus hidup jauh melampaui novelnya.

Arthur C. Clarke, penulis 2001: A Space Odyssey, pernah mengatakan bahwa “Don’t Panic” mungkin adalah nasihat terbaik yang pernah diberikan kepada umat manusia.

Puluhan tahun kemudian, ketika roket Falcon Heavy membawa mobil Tesla milik Elon Musk ke luar angkasa, tulisan yang muncul di layar dasbornya…

tentu saja…

DON’T PANIC.

Barangkali karena dua kata itu memang jauh lebih berguna daripada 42, yang konon adalah jawaban untuk kehidupan, alam semesta, dan segala sesuatunya

Pada akhirnya, Don’t Panic bukanlah janji bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Bumi mungkin tetap akan dihancurkan.

Pesawat tetap akan tersesat.

Rencana tetap berantakan.

Dan secangkir teh yang layak ternyata jauh lebih sulit ditemukan daripada kehidupan di planet lain.

Namun di tengah semua kekacauan itu, kita selalu dapat memilih bagaimana menghadapinya.

Dan tentu saja…

jangan lupa membawa handuk.

Tempat Kita di Alam Semesta

Akhir dunia datang dengan cara yang sangat birokratis. Suatu pagi, armada Vogon menghancurkan Bumi untuk memberi jalan bagi pembangunan jalan tol antargalaksi.

Protes manusia tentu tidak banyak membantu.

Menurut Vogon, semua dokumen pembangunan sudah diumumkan jauh-jauh hari. Kalau penghuni Bumi tidak pernah datang untuk membacanya, itu bukan urusan mereka.

Yang membuat semuanya semakin konyol, penghancuran sebuah planet ternyata hanya membutuhkan satu tanda tangan administratif.

Zaphod Beeblebrox, Presiden Galaksi yang bahkan tidak menyadari apa yang sedang ia lakukan, tanpa sengaja menyetujui penghancuran Bumi karena mengira sekelompok orang yang datang kepadanya hanyalah penggemar yang meminta tanda tangan.

Begitulah.

Seluruh sejarah manusia berakhir karena sebuah kesalahpahaman.

Namun Douglas Adams masih belum selesai.

Dalam The Hitchhiker’s Guide, setiap planet memiliki catatan singkat. Peradaban-peradaban besar mendapat penjelasan panjang. Sedangkan entri untuk Bumi hanya berbunyi:

Mostly Harmless.

Dua kata.

Itulah ringkasan seluruh sejarah manusia.

Tidak ada cara yang lebih ironis untuk meruntuhkan ego kita.

Selama ribuan tahun kita membangun kerajaan, menulis kitab suci, menciptakan filsafat, menemukan sains, berdebat tentang kebenaran, bahkan memperebutkan siapa yang paling memahami makna kehidupan.

Mostly harmless.

Di kehidupan nyata, beberapa tahun kemudian seorang astronom bernama Carl Sagan mengajak manusia melakukan hal yang hampir sama.

Pada tahun 1990, ketika Voyager 1 telah berada sekitar enam miliar kilometer dari Bumi, Carl Sagan mengusulkan agar wahana itu melakukan sesuatu yang tidak biasa.

Sebelum melanjutkan perjalanannya menuju ruang antarbintang, kamera Voyager diputar untuk terakhir kalinya, menghadap kembali ke arah asalnya.

Hasilnya adalah sebuah foto yang kemudian dikenal sebagai Pale Blue Dot.

Di tengah hamparan gelap alam semesta, Bumi hanya tampak sebagai sebuah titik kecil yang nyaris tak terlihat.

Sagan tidak mengabadikan gambar itu untuk merendahkan manusia.

Ia justru ingin mengingatkan bahwa alam semesta jauh lebih besar daripada diri kita.

Perspektif kosmis seperti ini tidak menghapus makna kehidupan, tetapi mengembalikan skala.

Ada sesuatu yang berubah ketika kita melihat dunia dari kejauhan.

Bukan hanya cara kita memandang Bumi.

Tetapi juga cara kita memandang diri sendiri.

Banyak kegelisahan yang sebelumnya terasa begitu besar perlahan mengecil. Dan anehnya, ketika kita berhenti menjadi pusat alam semesta…kita justru menjadi lebih bebas untuk menikmati kehidupan.

Mungkin pada akhirnya, kebijaksanaan bukanlah merasa telah memahami alam semesta, melainkan tetap mampu merasa kagum kepadanya.

Dan dari rasa kagum itu, kita belajar menjalani kehidupan dengan sedikit lebih ringan. Sedikit lebih bijaksana.

Dan sesekali…

tertawa bersamanya.

>> Lanjut ke Epilog