Eksistensialisme: Tanggung Jawab dan Pilihan dalam Hidup

Trauma Perang Dunia II memaksa manusia menghadapi kenyataan yang terasa absurd dan rapuh. Dalam situasi inilah Sartre mengembangkan eksistensialisme sebagai filsafat yang tidak hanya mempertanyakan makna hidup, kebebasan, pilihan, dan tanggung jawab individu ketika berbagai kepastian yang selama ini menjadi pegangan mulai runtuh.

The Son of Man, René Magritte, 1964. 

Jika fenomenologi mengajak filsafat kembali kepada pengalaman manusia, maka generasi filsuf setelahnya mulai mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar:

Apa yang harus kita lakukan dengan pengalaman itu?

Pertanyaan ini menjadi semakin mendesak pada abad ke-20. Dua perang dunia, genosida, krisis politik, dan berbagai bentuk kekerasan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya memaksa banyak orang mempertanyakan kembali keyakinan yang selama ini mereka anggap pasti.

Kemajuan ilmu pengetahuan tidak mampu mencegah perang. Ideologi politik yang menjanjikan masa depan yang lebih baik sering kali berakhir dalam penindasan. Bahkan agama, bagi sebagian orang, tidak lagi memberikan jawaban yang memuaskan terhadap penderitaan yang mereka saksikan.

Dalam situasi seperti itulah eksistensialisme berkembang.

Eksistensialisme bukanlah sebuah sistem filsafat yang lahir dari ruang kuliah yang tenang. Ia tumbuh dari pengalaman hidup yang nyata: perang, pengasingan, diskriminasi, kehilangan, dan pencarian makna di tengah dunia yang terasa semakin tidak pasti.

Tokoh-tokoh yang kemudian dikenal sebagai filsuf eksistensialis tidak hanya menulis tentang krisis. Mereka mengalaminya sendiri.

Karl Jaspers, pemikir pertama yang menggunakan istilah Existenzphilosophie atau “filsafat eksistensi”, hidup di tengah runtuhnya Kekaisaran Jerman dan kebangkitan Nazisme yang kemudian mengucilkannya dari dunia akademik karena istrinya berdarah Yahudi.

Gabriel Marcel, yang kemudian dikenal sebagai tokoh utama eksistensialisme Kristen, menyaksikan kehancuran dua perang dunia dan merumuskan sebuah filsafat yang tetap mempertahankan harapan, kesetiaan, dan hubungan manusia dengan sesuatu yang melampaui dirinya sendiri

Pengalaman-pengalaman tersebut membentuk pertanyaan yang menjadi pusat eksistensialisme:

Jika dunia tidak memberikan makna yang pasti, bagaimana manusia harus hidup?

Dan jika tidak ada jawaban yang sudah tersedia, siapa yang bertanggung jawab untuk menciptakannya?

Di antara berbagai jawaban yang muncul dari tradisi eksistensialisme, tidak ada yang lebih radikal daripada jawaban Jean-Paul Sartre.

Menurut Sartre, manusia tidak menemukan makna hidup yang telah tersedia sebelumnya. Manusialah yang harus menciptakannya. Tidak ada hakikat tetap yang menentukan siapa diri kita. Tidak ada naskah yang telah ditulis sebelum kita lahir.

Kita hadir terlebih dahulu di dunia, lalu membentuk diri kita melalui pilihan-pilihan yang kita ambil.

Gagasan inilah yang kemudian dirangkum Sartre dalam salah satu kalimat paling terkenal dalam sejarah filsafat.

Existence Precedes Essence

Untuk memahami gagasan ini, bayangkan seorang pembuat pisau.

Sebelum pisau itu dibuat, bentuk dan fungsinya sudah ditentukan terlebih dahulu. Ia dirancang untuk memotong. Tujuannya telah ada bahkan sebelum benda itu hadir di dunia.

Dengan kata lain, esensinya mendahului keberadaannya.

Menurut Sartre, manusia tidak seperti itu.

Tidak ada tujuan hidup yang dapat dibuktikan secara universal dan berlaku bagi semua orang. Tidak ada hakikat manusia yang sepenuhnya menentukan masa depan seseorang.

Kita lahir terlebih dahulu, lalu membentuk identitas kita melalui pilihan, tindakan, dan keputusan yang diambil sepanjang hidup.

“Man first of all exists,
encounters himself,
surges up in the world,
and defines himself afterwards”

JEAn-paul sartre

Pandangan ini merupakan kritik terhadap tradisi filsafat yang dikenal sebagai esensialisme, yaitu keyakinan bahwa setiap makhluk memiliki hakikat atau tujuan bawaan yang menentukan apa yang seharusnya ia menjadi.

Dalam berbagai bentuknya, esensialisme dapat ditemukan dalam pemikiran keagamaan, filsafat klasik, maupun berbagai teori sosial yang menganggap identitas manusia telah ditentukan sebelumnya oleh Tuhan, alam, atau masyarakat.

Eksistensialisme menolak pandangan tersebut.

Makna hidup bukan sesuatu yang ditemukan seperti benda yang tersembunyi dan menunggu untuk diungkap. Makna hidup adalah sesuatu yang dibangun melalui cara kita menjalani kehidupan.

Pandangan ini memberikan kebebasan yang sangat besar, tetapi sekaligus menghadirkan tanggung jawab yang tidak kalah besar.

Karena jika tidak ada tujuan yang telah ditentukan sebelumnya, maka setiap pilihan yang kita buat ikut membentuk siapa diri kita nantinya.

Kebebasan dan Tanggung Jawab

Pada tahun 1943, di tengah Perang Dunia II, Sartre menerbitkan karya besarnya Being and Nothingness.

Dalam buku tersebut ia mengembangkan salah satu gagasan paling penting dalam eksistensialisme:

“Man is nothing else but what he makes of himself.”

Manusia, menurut Sartre, pada akhirnya adalah hasil dari pilihan-pilihan yang ia ambil.

Pandangan ini membawa konsekuensi yang tidak nyaman.

Jika kita benar-benar bebas, maka kita juga bertanggung jawab atas kehidupan yang kita jalani.

Sartre menyebut perasaan ini sebagai anguish atau kecemasan eksistensial. Kecemasan tersebut muncul ketika seseorang menyadari bahwa tidak ada otoritas eksternal yang dapat sepenuhnya mengambil keputusan untuknya.

Banyak orang mencoba menghindari beban tersebut dengan meyakinkan diri bahwa mereka sebenarnya tidak memiliki pilihan. Mereka menyalahkan keadaan, pekerjaan, keluarga, atau peran sosial yang mereka jalani. Mereka menganggap diri mereka hanya menjalankan fungsi yang telah ditentukan.

Sartre menyebut sikap ini sebagai bad faith (mauvaise foi), yaitu bentuk penipuan terhadap diri sendiri yang membuat seseorang berpura-pura bahwa ia tidak bebas.

Padahal, menurut Sartre, bahkan ketika seseorang memilih untuk menyerah atau tidak bertindak, ia tetap sedang membuat pilihan. Karena itu Sartre menulis:

Yang dimaksud Sartre bukanlah bahwa kebebasan adalah hukuman. Ia ingin menunjukkan bahwa kebebasan tidak dapat dihindari. Kita tidak memilih untuk dilahirkan, tetapi setelah berada di dunia, kita tidak bisa menghindari tanggung jawab atas pilihan yang kita ambil.

Bagi Sartre, hidup yang autentik dimulai ketika seseorang menerima kenyataan tersebut dan berhenti bersembunyi di balik alasan-alasan yang menutupi kebebasannya sendiri.

Seiring berkembangnya pemikiran eksistensialis, perhatian mereka tidak lagi hanya tertuju pada individu, tetapi juga pada hubungan manusia dengan orang lain.

Jika setiap orang bebas menentukan hidupnya sendiri, bagaimana kita hidup bersama dalam dunia yang dihuni oleh sesama manusia yang juga bebas?

Bagi Sartre, kebebasan tidak pernah benar-benar bersifat pribadi. Pilihan yang kita buat selalu memengaruhi orang lain dan ikut membentuk dunia yang kita tinggali bersama.

Karena itu, kebebasan selalu disertai tanggung jawab. Bukan hanya tanggung jawab terhadap diri sendiri, tetapi juga terhadap orang lain dan kondisi yang memungkinkan mereka menjalani kebebasannya sendiri.

Pandangan ini membuat eksistensialisme berkembang melampaui pertanyaan tentang identitas dan makna hidup. Ia juga menjadi refleksi tentang etika, tanggung jawab, dan bagaimana manusia hidup bersama dalam masyarakat.

Dalam pengertian ini, eksistensialisme bukan sekadar ajakan untuk menjadi diri sendiri. Ia juga mengingatkan bahwa kehidupan yang autentik menuntut kita untuk mengakui kebebasan orang lain sebagaimana kita menginginkan kebebasan bagi diri kita sendiri.

Icarus, Henri Matisse, 1943

Kebebasan Manusia yang Terakhir

Jika Sartre berbicara tentang kebebasan sebagai kondisi dasar manusia, Viktor Frankl menunjukkan seperti apa kebebasan itu ketika diuji dalam kenyataan yang paling ekstrem.

Frankl adalah seorang psikiater Austria yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi selama Perang Dunia II. Dalam beberapa tahun, ia kehilangan hampir seluruh hal yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupannya: keluarganya, pekerjaannya, kebebasannya, bahkan identitas sosial yang selama ini ia miliki.

Di kamp-kamp tersebut, para tahanan hidup dalam kondisi yang sulit dibayangkan. Kelaparan, kerja paksa, penyakit, dan kematian menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tidak ada jaminan bahwa hari esok akan datang.

Pengalaman inilah yang kemudian ia tuangkan dalam buku Man’s Search for Meaning, salah satu karya paling berpengaruh tentang makna hidup pada abad ke-20.

Di dalamnya, Frankl mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat sederhana namun mendalam:

Apa yang masih tersisa ketika hampir semua hal telah dirampas?

Ia mengamati bahwa dalam kondisi yang sama, manusia merespons penderitaan dengan cara yang berbeda. Sebagian kehilangan harapan dan menyerah. Sebagian lain tetap mampu mempertahankan martabat, membantu sesama tahanan, atau menemukan alasan untuk bertahan hidup.

Dari pengamatan tersebut, Frankl sampai pada kesimpulan yang kemudian menjadi inti pemikirannya:

Segala sesuatu dapat dirampas dari manusia kecuali satu hal, yaitu kebebasan untuk menentukan sikap terhadap keadaan yang dihadapinya.

Bagi Frankl, manusia bukan hanya makhluk yang mencari kesenangan atau kekuasaan. Yang paling mendasar adalah pencarian makna. Kita ingin mengetahui bahwa hidup kita memiliki arti, bahwa penderitaan yang kita alami bukanlah sesuatu yang sepenuhnya sia-sia.

Berbeda dengan banyak pemikir eksistensialis yang menekankan penciptaan makna, Frankl percaya bahwa makna dapat ditemukan dalam berbagai situasi kehidupan. Dalam pekerjaan yang kita lakukan, dalam hubungan yang kita bangun, dalam tanggung jawab yang kita emban, bahkan dalam cara kita menghadapi penderitaan yang tidak dapat dihindari.

Karena itu, kebebasan dalam pandangan Frankl bukan hanya tentang memiliki banyak pilihan. Kebebasan juga berarti kemampuan untuk tetap memilih sikap dan nilai yang akan kita pegang ketika pilihan-pilihan tersebut hampir tidak ada.

Melalui Frankl, eksistensialisme menemukan salah satu bentuknya yang paling manusiawi. Ia menunjukkan bahwa makna tidak selalu muncul ketika hidup berjalan sesuai harapan. Terkadang makna justru ditemukan ketika kita memutuskan untuk tetap hidup, tetap mencintai, tetap berharap, atau tetap bertahan di tengah keadaan yang tidak pernah kita pilih.

Dengan cara itu, Frankl mengingatkan bahwa kebebasan manusia mungkin dapat dibatasi, dikendalikan, atau bahkan dirampas dalam banyak hal. Namun selama seseorang masih mampu memilih bagaimana ia akan merespons kehidupannya, selalu ada ruang bagi makna dan martabat manusia.

Warisan Eksistensialisme

Seiring waktu, pengaruh eksistensialisme meluas jauh melampaui dunia filsafat.

Gagasan tentang kebebasan, tanggung jawab, identitas, dan pencarian makna menemukan bentuknya dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari sastra, psikologi, seni, pendidikan, hingga berbagai gerakan sosial yang memperjuangkan hak manusia untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.

Pemikiran Simone de Beauvoir, misalnya, membantu meletakkan fondasi bagi filsafat feminis modern melalui analisisnya tentang kebebasan dan pengalaman hidup perempuan. Di bidang psikologi, Viktor Frankl mengembangkan logoterapi yang menempatkan pencarian makna sebagai kebutuhan mendasar manusia. Sementara dalam sastra dan budaya populer, tema-tema eksistensial terus muncul dalam berbagai bentuk, dari novel dan film hingga musik dan karya seni kontemporer.

Eksistensialisme tidak menawarkan resep hidup yang berlaku untuk semua orang. Namun ia meninggalkan beberapa pelajaran yang tetap relevan hingga hari ini.

Bahwa kebebasan selalu disertai tanggung jawab.

Bahwa identitas bukan sesuatu yang diberikan begitu saja, melainkan sesuatu yang dibentuk melalui pilihan dan tindakan.

Bahwa hidup yang autentik sering kali menuntut keberanian untuk berpikir dan bertindak secara mandiri.

Dan bahwa bahkan dalam situasi yang sulit sekalipun, manusia masih memiliki kemampuan untuk menentukan bagaimana ia akan merespons kehidupannya.

Di atas segalanya, eksistensialisme mengingatkan bahwa kehidupan bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja kepada kita. Ia adalah sesuatu yang terus kita bentuk melalui cara kita hidup, memilih, dan berhubungan dengan orang lain.

Namun perjalanan ini belum berakhir.

Banyak pemikir eksistensialis percaya bahwa manusia dapat menciptakan atau menemukan makna bagi kehidupannya. Tetapi bagaimana jika pencarian tersebut tidak pernah benar-benar berhasil?

Bagaimana jika alam semesta tidak memberikan tujuan yang pasti?

Bagaimana jika tidak ada jawaban yang menunggu untuk ditemukan?

Pertanyaan inilah yang kemudian membawa kita pada salah satu gagasan paling berpengaruh dalam filsafat abad ke-20.

>> Lanjut ke Absurdisme
Tonton Video Terkait: