Filsafat Kontinental: Pesimisme Kehidupan Modern

Semakin dunia menjadi masuk akal, semakin manusia merasa ada sesuatu yang hilang. Namun di tengah semua kemajuan kehidupan modern itu, pemikir seperti Hegel, Marx, dan Schopenhauer justru kembali ke pertanyaan dasar. Apa arti semua itu bagi kehidupan manusia?

Rain, Steam and Speed – The Great Western Railway,  J. M. W. Turner, 1844.

Era Pencerahan membawa perubahan besar dalam cara manusia memahami dunia.

Melalui sains, observasi, dan akal, manusia berhasil menjelaskan banyak hal yang sebelumnya dianggap misteri. Alam semesta tidak lagi dipandang sebagai tempat yang hanya dapat dipahami melalui wahyu dan tradisi. Ia mulai dapat dipelajari melalui hukum-hukum alam yang dapat diamati, diuji, dan dipahami.

Keberhasilan ini mengubah dunia secara drastis.

Kota-kota tumbuh semakin besar. Industri berkembang pesat. Pengetahuan menyebar lebih luas daripada sebelumnya. Dunia bergerak semakin cepat.

Tetapi pada saat yang sama, banyak orang mulai merasakan sesuatu yang berbeda.

Kehidupan menjadi lebih nyaman, tetapi tidak selalu lebih bermakna.

Kemajuan menjawab banyak pertanyaan tentang bagaimana dunia bekerja. Namun ia tidak selalu mampu menjawab bagaimana manusia harus hidup di dalamnya.

Dari kegelisahan inilah lahir sebuah tradisi pemikiran yang kemudian dikenal sebagai filsafat kontinental.

Filsafat kontinental bukanlah sebuah aliran tunggal.

Ia lebih tepat dipahami sebagai sebuah tradisi besar yang berkembang di daratan Eropa sejak abad ke-19 dan terus memengaruhi pemikiran hingga hari ini.

Berbeda dengan filsafat analitik yang banyak berkembang di Inggris dan Amerika dengan fokus pada logika, bahasa, dan kejelasan argumentasi, filsafat kontinental lebih tertarik pada pengalaman manusia, sejarah, budaya, kesadaran, kebebasan, dan pencarian makna.

Jika filsafat analitik sering bertanya:

“Apa yang benar?”

Maka filsafat kontinental lebih sering bertanya:

“Bagaimana rasanya menjadi manusia?”

Sejarah Sebagai Perjalanan Kesadaran

Salah satu tokoh penting dalam tradisi ini adalah Georg Wilhelm Friedrich Hegel.

Bagi Hegel, dunia bukanlah sesuatu yang diam. Segala sesuatu bergerak, berubah, dan berkembang.

Menurutnya, kemajuan terjadi melalui benturan antara gagasan-gagasan yang berbeda. Ketika sebuah cara pandang bertemu dengan lawannya, keduanya akan menghasilkan pemahaman baru yang lebih berkembang.

Proses ini dikenal sebagai dialektika.

Bagi Hegel, dialektika tidak hanya terjadi dalam perdebatan. Ia terjadi dalam sejarah itu sendiri.

Perubahan sosial, konflik politik, bahkan revolusi, semuanya merupakan bagian dari proses panjang manusia untuk semakin memahami dirinya sendiri dan mencapai kebebasan yang lebih besar.

Sejarah, menurut Hegel, bukan sekadar kumpulan peristiwa. Ia adalah perjalanan kesadaran manusia.

Pandangan ini memberi harapan bahwa perubahan, meskipun sering kali terasa kacau dan menyakitkan, mungkin memiliki arah dan tujuan yang lebih besar.

Ketika Filsafat Turun ke Jalanan

Karl Marx sangat dipengaruhi oleh Hegel, tetapi ia tidak sepakat dengan kesimpulan gurunya.

Jika Hegel melihat sejarah sebagai perkembangan kesadaran, Marx melihat sejarah sebagai perjuangan manusia dalam kondisi kehidupan yang nyata.

Menurut Marx, yang membentuk dunia bukanlah ide-ide besar, melainkan faktor-faktor material seperti pekerjaan, ekonomi, kepemilikan, dan kekuasaan.

Siapa yang memiliki sumber daya.

Siapa yang bekerja.

Dan siapa yang menikmati hasilnya.

Marx melihat bahwa Revolusi Industri telah menciptakan kemajuan yang luar biasa, tetapi juga melahirkan ketimpangan yang besar.

Namun masalahnya tidak hanya soal kemiskinan.

Menurut Marx, banyak orang mulai merasa terasing dari kehidupan mereka sendiri.

Seorang pekerja mungkin menghabiskan seluruh hidupnya membuat suatu produk, tetapi tidak pernah benar-benar memiliki hasil dari pekerjaannya. Ia menjadi bagian kecil dari sebuah mesin ekonomi yang lebih besar.

Marx menyebut kondisi ini sebagai alienasi.

Manusia terasing dari pekerjaannya, dari hasil kerjanya, dari sesama manusia, bahkan dari potensi dirinya sendiri.

Pekerjaan yang seharusnya menjadi sarana untuk mengekspresikan kreativitas dan kemanusiaan justru berubah menjadi sesuatu yang dilakukan semata-mata untuk bertahan hidup.

Karena itu, Marx melihat eksploitasi bukan hanya sebagai persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan kemanusiaan.

Sebuah masyarakat yang baik bukan sekadar masyarakat yang lebih makmur, melainkan masyarakat yang memungkinkan manusia berkembang secara bebas dan utuh.

Pandangan ini membuat Marx mengambil langkah yang berbeda dari banyak filsuf sebelumnya.

Jika filsafat selama berabad-abad berusaha memahami dunia, Marx berpendapat bahwa pemahaman saja tidak cukup.

Melalui Marx, filsafat mulai bergerak keluar dari ruang kuliah dan masuk ke persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Filsafat tidak lagi hanya bertanya apa yang benar, tetapi juga bagaimana manusia dapat membebaskan dirinya dari kondisi yang membuatnya tidak dapat hidup secara utuh sebagai manusia.

“The philosophers have only interpreted the world, in various ways. The point, however, is to change it”.

KARL MARX
The Third-Class Carriage, Honoré Daumier, 1862.

Pesimisme di Tengah Kemajuan

Tidak semua filsuf melihat modernitas dengan optimisme yang sama.

Arthur Schopenhauer justru memandang kehidupan dengan jauh lebih pesimistis.

Ketika banyak orang merayakan kemajuan sains, teknologi, dan industri, Schopenhauer bertanya apakah semua itu benar-benar membuat manusia lebih bahagia.

Menurutnya, manusia digerakkan oleh sesuatu yang ia sebut sebagai kehendak atau will.

Kehendak ini adalah dorongan tanpa henti yang membuat kita selalu menginginkan sesuatu.

Kita ingin lebih banyak.

Lebih sukses.

Lebih kaya.

Lebih dicintai.

Masalahnya, ketika satu keinginan terpenuhi, keinginan lain segera muncul.

Akibatnya, hidup terus bergerak di antara ketidakpuasan dan kebosanan.

Bagi Schopenhauer, penderitaan bukanlah kecelakaan dalam hidup. Ia adalah bagian dari kondisi manusia itu sendiri.

Pandangan ini terdengar suram, tetapi pengaruhnya sangat besar. Pemikirannya menjadi salah satu fondasi penting bagi Friedrich Nietzsche, Sigmund Freud, dan berbagai aliran filsafat modern lainnya.

Lebih dari itu, Schopenhauer mengingatkan bahwa kemajuan dan kebahagiaan tidak selalu berjalan beriringan.

Jalan Menuju Pemikiran Modern

Meskipun memiliki pandangan yang sangat berbeda, Hegel, Marx, dan Schopenhauer sama-sama mencoba menjawab pertanyaan yang lahir dari dunia modern.

Apakah sejarah memiliki tujuan?

Apa yang mendorong perubahan masyarakat?

Mengapa manusia tetap merasa gelisah meskipun dunia semakin maju?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidak lagi berpusat pada alam semesta atau hukum-hukum alam.

Perhatian filsafat mulai bergeser kepada pengalaman manusia itu sendiri.

Kepada kesadaran.

Kepada kebebasan.

Kepada kecemasan.

Dan kepada pencarian makna.

Perubahan arah inilah yang kemudian membuka jalan bagi berbagai pemikiran baru pada abad ke-20. Sebuah pendekatan yang mengajak filsafat kembali kepada pengalaman manusia yang paling langsung dan mendasar.

>> Lanjut ke Fenomenologi
Tonton Video Terkait: