Awal Eksistensialisme: Dari Kafe Sebuah Kafe di Paris

Sebagai filsafat yang menempatkan kebebasan individu sebagai pusat perhatiannya, eksistensialisme tidak pernah bisa dipisahkan sepenuhnya dari orang-orang yang menghidupinya. Kafe-kafe di Paris pada awal abad ke-20 bukan sekadar tempat menikmati kopi. Tempat-tempat itu adalah ruang lahirnya gagasan, obsesi, persahabatan, dan bahkan revolusi intelektual.

Jean Paul Sartre, Simone de Beauvoir and friends at the café Les Deux Magots, 1950.

Paris, menjelang tahun 1933.

Di sebuah bar kecil bernama Bec-de-Gaz di Rue du Montparnasse, tiga filsuf muda menghabiskan sore mereka dengan minuman, gosip, dan perdebatan. Simone de Beauvoir yang berusia 25 tahun duduk di samping pasangannya, Jean-Paul Sartre yang saat itu berusia 27 tahun, sementara sahabat mereka Raymond Aron baru saja kembali dari masa studinya di Berlin.

Aron mulai bercerita tentang sebuah gerakan filsafat baru yang sedang berkembang di Jerman: fenomenologi, sebuah cara memahami dunia melalui pengalaman langsung. Dengan penuh antusiasme ia menjelaskan seruan terkenal Edmund Husserl, “Kembali kepada benda-benda itu sendiri!”, sebuah ajakan untuk meninggalkan spekulasi abstrak dan kembali pada pengalaman yang benar-benar dialami manusia.

“Lihatlah, mon petit camarade,” kata Aron sambil mengangkat gelasnya. “Kalau kamu seorang fenomenolog, kamu bisa membangun seluruh filsafat hanya dari segelas koktail ini.”

Sartre terdiam.

Konon wajahnya sampai memucat.

Dalam momen singkat itu, ia melihat kemungkinan baru: sebuah filsafat yang tidak berangkat dari logika murni atau konsep-konsep abstrak, melainkan dari kehidupan yang nyata, berantakan, dan dialami secara langsung.

Menurut banyak kisah, akar modern eksistensialisme memang tumbuh dari kafe-kafe Paris. Tempat-tempat seperti Café de Flore, Les Deux Magots, dan La Rotonde menjadi ruang pertemuan bagi para pemikir yang kelak membentuk wajah filsafat abad ke-20.

Tempat-tempat itu bukan ruang kuliah yang steril, melainkan salon hidup tempat filsafat berlangsung di antara tegukan anggur dan kepulan asap rokok. Di sanalah Beauvoir, Sartre, Camus, Merleau-Ponty, Levinas, Marcel, dan banyak lainnya memperdebatkan kebebasan, makna hidup, dan tanggung jawab manusia. Bukan sebagai teka-teki intelektual yang jauh dari kehidupan, tetapi sebagai persoalan yang mereka hadapi setiap hari.

Namun para pemikir ini tidak menciptakan sesuatu dari nol.

Mereka mewarisi, mengembangkan, dan sering kali memberontak terhadap tradisi filsafat yang datang sebelum mereka. Pemikiran mereka dibentuk bukan hanya oleh akal budi, tetapi juga oleh perjalanan hidup masing-masing. Oleh penyakit dan patah hati, perang dan pengasingan, kelas sosial dan identitas pribadi.

Ambil contoh Edmund Husserl, pendiri fenomenologi.

Sebelum menjadi filsuf, Husserl menempuh pendidikan matematika dan psikologi. Ia berusaha membangun kembali filsafat sebagai ilmu yang ketat tentang pengalaman manusia. Sebuah filsafat yang sistematis, metodis, dan berakar pada apa yang sungguh-sungguh muncul dalam kesadaran.

Proyek intelektualnya lahir sebagai respons terhadap kecenderungan filsafat metafisika Eropa yang menurutnya terlalu jauh dari pengalaman konkret. Husserl ingin membawa filsafat kembali pada apa yang hadir di hadapan kita. Kembali pada apa yang sungguh-sungguh dialami.

Bandingkan dengan Søren Kierkegaard, yang sering disebut sebagai bapak eksistensialisme.

Tulisan-tulisan Kierkegaard lahir dari kesunyian. Hidupnya dibentuk oleh kesehatan yang rapuh, pendidikan agama yang ketat, dan pertunangan yang berakhir tragis. Ia tidak bekerja di laboratorium atau menyusun sistem filsafat yang rapi. Ia bergulat dengan Tuhan melalui buku harian, surat, dan tulisan-tulisan yang diterbitkan dengan berbagai nama samaran.

Buku-bukunya bukan risalah akademik yang sistematis, melainkan jeritan eksistensial yang dipenuhi keraguan, keputusasaan, dan pencarian iman di dunia yang sering kali terasa tidak masuk akal.

Filsafat memang bukan sekadar ekspresi subjektif. Ia tetap membutuhkan logika, analisis, dan kejernihan berpikir. Namun filsafat juga tidak pernah sepenuhnya bebas dari subjektivitas manusia yang menjalankannya.

Dalam tradisi eksistensialisme, kehidupan pribadi dan pemikiran filosofis sering kali saling menembus satu sama lain.

Life becomes ideas, and ideas return to life

Maurice Merleau-Ponty,

“Diskusi bukanlah pertukaran atau benturan ide semata, seolah setiap orang membentuk pikirannya sendiri, menunjukkannya kepada orang lain, lalu kembali memperbaikinya setelah melihat milik yang lain. Baik dengan suara lantang maupun berbisik, setiap orang berbicara dengan sepenuh hati: dengan ide-idenya, obsesinya, dan sejarah pribadi yang membentuk dirinya,” papar Maurice Merleau-Ponty.

Untuk memahami sebuah filsafat secara utuh, kita juga perlu memahami manusia yang menjalaninya.

Konteks penting.

Begitu pula patah hati, revolusi, perang, persahabatan, dan kafe-kafe tempat ide-ide itu lahir.

Karena itu, bab berikutnya tidak dimulai dengan sebuah konsep, melainkan dengan seorang manusia.

Seorang pria yang gelisah, brilian, sangat religius, dan sangat kesepian.

Pria yang meletakkan batu pertama bagi apa yang kelak dikenal sebagai eksistensialisme.

>> Lanjut ke Søren Kierkegaard
Tonton Video Terkait: