Søren Kierkegaard : Sang Ksatria Iman

Seorang pria terbaring lemah di Rumah Sakit Frederiks, Kopenhagen. Bertahun-tahun penyakit dan pergulatan batin telah menggerogoti tubuhnya, tetapi semangatnya belum sepenuhnya padam. Seorang sahabat yang duduk di samping tempat tidurnya bertanya apakah ia sedang menderita. Pria itu tersenyum tipis. “Tidak ada orang yang menderita lebih daripada saya,” jawabnya. “Apalagi dengan sengaja.”

Søren Kierkegaard som café-gæst, Christian Olavius Zeuthen, 1843

Søren Kierkegaard lahir pada 5 Mei 1813 di Kopenhagen sebagai anak ketujuh dari keluarga yang cukup berada, tetapi dibayangi oleh kecemasan dan rasa bersalah yang mendalam. Ayahnya, Michael Pedersen Kierkegaard, adalah seorang Kristen yang sangat religius sekaligus dihantui keyakinan bahwa dosa yang pernah ia lakukan di masa muda telah mendatangkan kutukan bagi keluarganya.

Lima dari tujuh anaknya meninggal pada usia muda.

Sejak kecil, Søren tumbuh dalam bayang-bayang keyakinan mengerikan bahwa tidak seorang pun dalam keluarganya akan hidup melewati usia Kristus, tiga puluh tiga tahun.

Rumah keluarga Kierkegaard tidak hanya akrab dengan kematian, tetapi juga dengan kecemasan.

Meski hidup berkecukupan, sang ayah menghabiskan sebagian besar waktunya membaca kitab-kitab teologi dan berbicara tentang kehidupan seolah segala sesuatu memiliki konsekuensi kekal. Dari lingkungan seperti itulah Søren menyerap gagasan bahwa hidup adalah ujian, bahwa kebahagiaan mungkin patut dicurigai, dan bahwa penderitaan adalah harga yang harus dibayar untuk menjalani hidup dengan sungguh-sungguh.

Secara fisik ia lemah dan sering sakit.

Ia cerdas, bahkan luar biasa cerdas. Namun kecerdasannya sering kali membuatnya terasing. Lidahnya tajam, humornya sinis, dan ia kesulitan membangun kedekatan dengan orang lain. Ketika teman-teman sebayanya mencari pergaulan, Søren justru semakin tenggelam dalam buku, refleksi, dan pergulatan batin.

Kesendirian bukan sekadar keadaan baginya.

Kesendirian adalah cara hidup.

Kematian ibunya, yang menjadi sumber kehangatan di tengah atmosfer rumah yang suram, membuatnya semakin tertutup. Ketika ayahnya meninggal pada tahun 1838, Søren yang saat itu berusia dua puluh lima tahun mendapati dirinya benar-benar sendirian. Ia mewarisi cukup uang untuk hidup tanpa bekerja, tetapi sekaligus kehilangan jangkar yang selama ini membentuk seluruh dunia batinnya.

Namun Søren tidak pernah mencoba melarikan diri dari penderitaan.

Sebaliknya, ia mulai melihat penderitaan sebagai bagian penting dari kehidupan spiritual manusia. Baginya, hubungan dengan Tuhan bukanlah sesuatu yang nyaman. Ia bukan tempat perlindungan dari kecemasan, melainkan sesuatu yang justru menuntut keberanian untuk menghadapinya.

Bagi Søren, kehidupan spiritual bukanlah bagian dari hidup.

Itulah hidup itu sendiri.

Dan keyakinan inilah yang kelak membawanya pada keputusan paling menyakitkan dalam hidupnya.

Wanita yang Dicintai, Kehidupan yang Ditinggalkan

Saat berusia dua puluh empat tahun, Søren bertemu seorang perempuan bernama Regine Olsen.

Regine cerdas, hangat, dan penuh semangat hidup.

Mereka jatuh cinta.

Hubungan mereka berkembang dengan cepat hingga akhirnya bertunangan dan mulai membayangkan masa depan bersama. Untuk pertama kalinya, Søren merasakan sesuatu yang selama ini terasa jauh darinya: kebahagiaan yang sederhana dan manusiawi.

Namun justru ketika kebahagiaan itu semakin dekat, kegelisahannya semakin besar.

Ia mulai merasa bahwa pernikahan akan menjauhkannya dari panggilan yang ia yakini harus dijalani. Ia percaya hidupnya memiliki tugas khusus yang menuntut kesendirian dan pengorbanan. Pernikahan, dengan segala kehangatan dan tuntutannya, akan mengikatnya pada kehidupan yang terlalu biasa.

Dan akhirnya ia memilih pergi.

Søren mengembalikan cincin pertunangan mereka dan mengakhiri hubungan itu tanpa penjelasan yang memadai.

Regine yang patah hati berusaha menemuinya. Ia datang ke rumah Søren dan memohon agar diberi alasan. Namun Søren menolak menemuinya.

Pilihan itu menghancurkan mereka berdua.

Tetapi Søren tetap bertahan pada keyakinannya bahwa jalan hidup yang harus ia tempuh tidak dapat dijalani bersama siapa pun.

Sepanjang sisa hidupnya, Regine tidak pernah benar-benar meninggalkan pikirannya.

Justru sebaliknya.

Dalam banyak tulisannya, Regine hadir sebagai sosok yang terus menghantui sekaligus menginspirasinya. Ia pernah menulis bahwa seluruh karya yang ia hasilkan seharusnya dipandang sebagai monumen bagi perempuan yang dicintainya itu.

Rasa kehilangan tersebut kemudian berubah menjadi sesuatu yang lain.

Menjadi filsafat.

“She was the one I loved. My existence must unconditionally accentuate her life.
My writing should be considered a monument to her honour and memory.
I carry her with me into history.”

Either/Or: Beban Sebuah Pilihan

Pada tahun 1843, dua tahun setelah pertunangannya berakhir, Søren menerbitkan Either/Or, karya besar pertamanya.

Buku ini bukan sekadar pembahasan teoritis tentang etika atau moralitas, tapi refleksi mendalam tentang pilihan.

Melalui dua tokoh yang mewakili dua cara hidup berbeda, Søren mengajukan pertanyaan yang akan terus muncul sepanjang sejarah eksistensialisme:

Bagaimana seharusnya seseorang menjalani hidupnya?

Apakah kita hidup untuk kesenangan dan pengalaman?

Ataukah untuk komitmen, tanggung jawab, dan pengorbanan?

Yang menarik, Søren tidak pernah memberikan jawaban yang pasti. Ia justru menunjukkan bahwa penderitaan terbesar sering kali bukan berasal dari pilihan yang salah, melainkan dari kenyataan bahwa kita harus memilih.

Tidak ada jalan yang bebas dari penyesalan. Tidak ada keputusan yang sepenuhnya aman. Kita tetap harus memilih, dan setelah itu hidup dengan konsekuensinya.

Di sinilah Kierkegaard mulai memperkenalkan gagasan yang kelak menjadi inti eksistensialisme.

Menjadi manusia berarti mengambil keputusan di tengah ketidakpastian. Tidak ada sistem filsafat yang dapat memilih untuk kita. Tidak ada rumus yang dapat menjamin hasilnya. Pada akhirnya, kita sendirilah yang harus menanggung kebebasan tersebut.

“I see it all perfectly; there are two possible situations — one can either do this or that. My honest opinion and my friendly advice is this: do it or do not do it — you will regret both.”

Namun bagi Søren, pertanyaan yang lebih sulit masih menunggu.

Bagaimana jika pilihan yang harus diambil justru bertentangan dengan logika?

Bagaimana jika apa yang kita yakini benar tidak dapat dijelaskan kepada siapa pun?

Pertanyaan itulah yang mendorong lahirnya karya berikutnya.

Fear and Trembling: Lompatan Iman

Dalam buku ini, Søren kembali pada kisah Abraham yang diperintahkan Tuhan untuk mengorbankan putranya, Ishak.

Bagi banyak orang, kisah tersebut adalah cerita tentang ketaatan.

Bagi Søren, itu adalah kisah tentang kecemasan.

Bagaimana mungkin Abraham mampu melakukannya?

Bagaimana mungkin seseorang tetap percaya ketika seluruh akal sehatnya berkata bahwa tindakan itu salah?

Søren tidak tertarik pada mukjizat yang menghentikan pisau Abraham. Ia tertarik pada ketakutan yang datang sebelumnya.

Pada kesunyian.

Pada keraguan.

Pada langkah-langkah panjang yang harus ditempuh seseorang ketika tidak ada seorang pun yang dapat memahami pilihannya.

Di sinilah muncul salah satu gagasan paling terkenal dalam pemikirannya: leap of faith, lompatan iman.

Iman bukanlah kepastian. Iman justru dimulai ketika kepastian berakhir. Ketika tidak ada lagi jaminan. Ketika logika tidak lagi mampu membawa kita lebih jauh. Dan seseorang tetap melangkah.

Banyak pembaca melihat buku ini sebagai cara Søren memahami keputusannya sendiri untuk meninggalkan Regine.

Seperti Abraham yang harus melepaskan sesuatu yang paling dicintainya, Søren merasa dirinya juga dipanggil untuk melakukan pengorbanan yang tidak dapat dijelaskan kepada orang lain.

Benar atau salah, hanya dirinya yang dapat menanggung pilihan tersebut.

Dan di sinilah lahir salah satu gagasan paling radikal dalam sejarah filsafat modern.

Kierkegaard mulai mempertanyakan anggapan bahwa kebenaran selalu ditemukan melalui sistem yang objektif dan universal.

Baginya, yang paling menentukan dalam kehidupan manusia justru adalah kebenaran yang bersifat subjektif: apa yang kita yakini, apa yang kita alami, apa yang kita pertaruhkan, dan pilihan-pilihan yang kita ambil ketika tidak ada kepastian.

Pada momen-momen terpenting dalam hidup, manusia berdiri sendirian.

Tidak ada sistem. Tidak ada masyarakat. Tidak ada otoritas yang dapat mengambil keputusan itu untuknya. Hanya dirinya sendiri.

Jauh sebelum istilah “eksistensialisme” dikenal, Kierkegaard telah membuka jalannya. Ia menempatkan individu di atas sistem, pilihan di atas kepastian, dan pengalaman hidup di atas teori-teori yang mengklaim dapat menjelaskan segalanya.

Bagi Kierkegaard, hidup yang sungguh-sungguh tidak lahir dari sekadar mengikuti apa yang sudah ditentukan oleh masyarakat, tradisi, atau filsafat. Hidup menuntut keputusan. Hidup menuntut komitmen.

Dan bersama komitmen itu datang pula seluruh konsekuensinya: kebebasan, kecemasan, ketidakpastian, dan tanggung jawab untuk menjadi diri sendiri.

Pada momen-momen terpenting dalam hidup, manusia berdiri sendirian.

Tidak ada sistem. Tidak ada masyarakat. Tidak ada otoritas yang dapat mengambil keputusan itu untuknya. Hanya dirinya sendiri.

The Sacrifice of Isaac, Rembrandt van Rijn, 1635

Hidup yang Dijalani ke Depan

Pada musim gugur tahun 1855, Søren berdiri di jalan-jalan Kopenhagen membagikan jurnal yang ia terbitkan sendiri.

Ia berbicara kepada siapa saja yang bersedia mendengarkan. Tentang iman. Tentang cinta. Tentang kehidupan yang menurutnya telah dilupakan banyak orang.

Tak lama kemudian ia jatuh pingsan di jalan.

Ia tidak pernah benar-benar pulih.

Beberapa minggu setelahnya, Søren Kierkegaard meninggal dunia pada usia empat puluh dua tahun.

Sepuluh tahun lebih lama dari usia yang dahulu diyakini ayahnya tidak akan pernah dicapai oleh siapa pun dalam keluarga mereka.

Ketika meninggal, karya-karyanya masih dianggap aneh dan sulit dipahami.

Namun dunia berubah.

Pada abad ke-20, para pembaca mulai menemukan kembali tulisan-tulisannya. Mereka menemukan pemikir yang berbicara tentang kecemasan di tengah dunia yang kehilangan kepastian.

Tentang kebebasan di tengah tekanan untuk menyesuaikan diri. Tentang keberanian untuk menjadi diri sendiri ketika tidak ada lagi jawaban yang pasti.

Belakangan, sejarah akan memberinya gelar yang tidak pernah ia gunakan untuk dirinya sendiri.

Eksistensialis pertama.

Mungkin itulah warisan terbesar Kierkegaard.

Bahwa hidup tidak bisa dijalani melalui sistem, teori, atau keyakinan orang lain.

Pada akhirnya, setiap manusia harus memilih jalannya sendiri dan menerima seluruh konsekuensinya.

Hidup memang hanya dapat dipahami dengan melihat ke belakang. Tetapi hidup harus dijalani dengan melangkah ke depan.

Life must be understood backwards.
But it must be lived forwards.

soren kierkegaard

Tahun 1843 menjadi titik awal dari sesuatu yang baru.

Dua buku yang lahir dari patah hati dan pergulatan batin seorang pria kesepian perlahan menyalakan percikan yang kelak dikenal sebagai eksistensialisme.

Dan seolah sejarah sudah menyiapkan jawabannya, setahun kemudian, pada 1844, seorang anak lahir di Jerman.

Kelak ia akan mengambil obor yang ditinggalkan Kierkegaard dan mengarahkannya ke langit.

Bukan untuk mencari Tuhan.

Melainkan untuk mempertanyakan-Nya.

>> Lanjut ke Friedrich Nietzsche
Tonton Video Terkait