Fenomenologi: Kembali Ke Pengalaman Manusia

Pada awal abad ke-20, muncul sebuah pertanyaan yang sederhana sekaligus radikal. Bagaimana jika manusia terlalu sibuk menjelaskan dunia, sampai lupa memperhatikan bagaimana kita mengalaminya? Dari pemikiran Husserl dan Heidegger lahir sebuah gerakan filsafat yang dikenal sebagai fenomenologi.

The Coffee Pot, Paul Cézanne, 1890–1895.

Sejak Era Pencerahan, filsafat dan sains sama-sama berusaha mencari kepastian. Melalui observasi, logika, dan metode ilmiah, manusia berhasil memahami banyak hal yang sebelumnya dianggap misterius. Dunia tampak semakin dapat dijelaskan.

Namun bagi Edmund Husserl, salah satu filsuf paling berpengaruh pada awal abad ke-20, ada sesuatu yang mulai terlewatkan.

Semakin banyak orang berbicara tentang teori, konsep, dan sistem pengetahuan, semakin jauh filsafat bergerak dari pengalaman manusia yang sebenarnya.

Sebelum kita membangun teori tentang dunia, bukankah kita terlebih dahulu mengalami dunia itu?

Sebelum kita menjelaskan sesuatu, bukankah sesuatu itu terlebih dahulu hadir dalam kesadaran kita?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi titik awal fenomenologi.

Kembali Kepada Pengalaman

Husserl merangkum proyek filsafatnya dalam sebuah kalimat yang terkenal:

“Zu den Sachen Selbst!”

“To the things themselves!”

Yang ia maksud bukanlah kembali kepada benda-benda fisik.

Ia mengajak kita kembali kepada pengalaman langsung sebelum pengalaman itu dibungkus oleh teori, asumsi, atau penjelasan.

Bayangkan seseorang sedang menikmati secangkir kopi.

Seorang ahli kimia mungkin menjelaskan komposisinya. Seorang ekonom mungkin membahas rantai pasoknya. Seorang ahli biologi mungkin menjelaskan bagaimana lidah mengenali rasa pahit.

Semua penjelasan itu bisa benar.

Namun sebelum semua itu, ada pengalaman yang jauh lebih sederhana.

Aroma kopi yang tercium. Uap hangat yang naik dari cangkir. Rasa yang muncul saat tegukan pertama. Kenangan yang mungkin ikut hadir bersamanya.

Fenomenologi tertarik pada pengalaman semacam itu.

Bukan pada teori tentang pengalaman, tetapi pada pengalaman itu sendiri.

Namun Husserl tidak hanya mengajak kita memperhatikan pengalaman. Ia juga mencoba memahami bagaimana pengalaman tersebut terbentuk.

Menurut Husserl, kesadaran manusia selalu bersifat intensional. Artinya, kesadaran selalu mengarah kepada sesuatu. Kita tidak pernah sekadar sadar. Kita selalu sadar akan sesuatu: sebuah lagu, wajah seseorang, secangkir kopi, atau kenangan masa lalu.

Karena itu, fenomenologi tidak mempelajari dunia sebagai objek yang berdiri sendiri, tetapi dunia sebagaimana ia muncul dalam kesadaran manusia.

Untuk memahami pengalaman dengan lebih jernih, Husserl mengembangkan metode yang dikenal sebagai epoché atau bracketing.

Secara sederhana, metode ini mengajak kita untuk “menaruh dalam tanda kurung” berbagai asumsi yang kita miliki tentang sesuatu.

Bayangkan kembali secangkir kopi tadi.

Biasanya kita langsung membawa berbagai pengetahuan tentang kopi: jenis bijinya, negara asalnya, kandungan kafeinnya, atau apakah kopi tersebut sehat.

Fenomenologi mengajak kita menunda sementara semua pengetahuan tersebut. Bukan karena pengetahuan itu salah, tetapi karena Husserl ingin melihat bagaimana kopi itu pertama kali hadir dalam pengalaman kita.

Bagaimana aromanya dirasakan. Bagaimana kehangatan cangkir menyentuh tangan. Bagaimana suasana pagi terasa berbeda ketika kopi itu diminum.

Melalui proses inilah fenomenologi berusaha kembali kepada pengalaman yang paling langsung sebelum ia dijelaskan oleh teori atau konsep.

Karena bagi Husserl, dunia tidak pernah hadir kepada kita sebagai kumpulan fakta yang netral, tapi selalu hadir sebagai sesuatu yang bermakna.

Sebuah rumah bukan sekadar bangunan, tapi juga bisa menjadi tempat pulang. Sebuah lagu bukan sekadar rangkaian nada, tapi bisa menjadi pengingat seseorang yang pernah kita cintai. Sebuah jalan bukan sekadar kumpulan aspal, tapi bisa menjadi tempat kita tumbuh, bermain, atau meninggalkan sesuatu di masa lalu.

Artinya, manusia tidak mengalami dunia sebagai pengamat yang berdiri di luar kehidupan. Kita selalu terlibat di dalamnya.

Kita memberi makna, membangun hubungan, dan memahami segala sesuatu melalui pengalaman yang kita jalani. Karena itu, fenomenologi berusaha melihat dunia sebagaimana ia muncul dalam kehidupan manusia sehari-hari.

A Pair of Shoes, Vincent van Gogh, 1887

Pertanyaan yang Lebih Dalam

Salah satu murid Husserl yang paling terkenal adalah Martin Heidegger.

Ia menerima banyak gagasan gurunya, tetapi juga merasa bahwa fenomenologi masih belum menyentuh persoalan yang paling mendasar.

Menurut Heidegger, Husserl masih terlalu berfokus pada kesadaran manusia. Pertanyaan yang lebih penting bukan hanya bagaimana kita mengalami dunia, melainkan apa artinya menjadi manusia yang hidup di dalam dunia tersebut.

Di sinilah Heidegger mulai menggeser fokus fenomenologi.

Menurutnya, manusia bukan pertama-tama makhluk yang mengamati dunia dari dalam pikirannya. Kita bukan penonton yang berdiri di luar kehidupan dan kemudian mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Sebaliknya, kita selalu sudah berada di tengah-tengah dunia.

Bayangkan seorang tukang kayu yang sedang menggunakan palu. Ketika bekerja, ia tidak sedang menganalisis bentuk palu, warna kayu, atau teori tentang alat-alat pertukangan. Ia langsung menggunakannya.

Dunia pertama-tama hadir sebagai sesuatu yang dijalani dan digunakan, bukan sebagai objek yang diamati. Karena itu Heidegger berpendapat bahwa filsafat harus bergerak melampaui kesadaran dan mulai memahami keberadaan manusia itu sendiri.

Untuk menggambarkan kondisi ini, Heidegger menggunakan istilah Dasein, yang secara harfiah berarti “ada-di-sana” (being-there).

Melalui konsep ini, Heidegger ingin menunjukkan bahwa manusia tidak pernah hidup terpisah dari dunia.

Sejak lahir, kita sudah berada di dalam sebuah keluarga. Kita belajar bahasa tertentu. Kita mewarisi budaya tertentu. Kita memiliki kebiasaan, hubungan, pekerjaan, harapan, dan berbagai masalah bahkan sebelum sempat memikirkannya secara filosofis.

Heidegger menyebut kondisi ini sebagai thrownness (Geworfenheit), yaitu kenyataan bahwa kita “dilemparkan” ke dalam dunia tanpa pernah memilih kapan, di mana, atau dalam kondisi seperti apa kita dilahirkan.

Namun justru dari kondisi inilah kehidupan manusia dimulai.

Bagi Heidegger, memahami keberadaan manusia berarti memahami bagaimana kita hidup, memilih, bekerja, mencintai, dan menghadapi kematian di dalam dunia yang sudah lebih dulu ada sebelum kita hadir.

Menemukan Kembali Manusia

Fenomenologi mengubah arah filsafat modern.

Ia tidak mencoba membuktikan keberadaan Tuhan. Ia juga tidak berusaha membangun sistem filsafat yang menjelaskan segala sesuatu.

Sebaliknya, fenomenologi mengajak kita memperhatikan sesuatu yang sering kali terlewatkan.

Pengalaman hidup itu sendiri.

Bagaimana kita melihat. Bagaimana kita mengingat. Bagaimana kita mencintai. Bagaimana kita takut. Bagaimana kita merasakan kehadiran orang lain. Bagaimana kita menjalani kehidupan sehari-hari.

Dalam dunia yang semakin dipenuhi data, teori, dan informasi, fenomenologi mengingatkan bahwa sebelum ada pengetahuan, selalu ada pengalaman.

Sebelum ada penjelasan, selalu ada perjumpaan.

Dan sebelum ada filsafat, selalu ada manusia yang sedang hidup.

Karena pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting bukan hanya bagaimana dunia bekerja.

Melainkan bagaimana kita hidup di dalamnya.

Dan untuk menjawab pertanyaan itu, filsafat harus kembali kepada tempat semuanya bermula

kepada pengalaman manusia itu sendiri.

“Natural objects must be experienced
before any theorizing about them can occur.”

Edmund husserl
>> Lanjut ke Eksistensialisme
Tonton Video Terkait: