Edmund Husserl: Guru Para Filsuf

Freiburg, 24 Juli 1929. Martin Heidegger baru saja menyelesaikan kuliah publik tentang Being and Time. Hadirin berdiri dan memberikan tepuk tangan panjang. Di tengah keriuhan itu, Edmund Husserl tetap duduk di tempatnya. Sementara yang lain melihat masa depan filsafat, Husserl menyadari bahwa sesuatu sedang menjauh darinya: murid terbaiknya dan fenomenologi yang telah ia bangun sepanjang hidupnya.

Mari kita mundur sejenak ke Café Bec-de-Gaz di Rue du Montparnasse, Paris.

Beberapa saat setelah pertama kali mendengar tentang sebuah filsafat baru yang sedang berkembang di Jerman, Jean-Paul Sartre bergegas meninggalkan meja tempat ia duduk bersama Simone de Beauvoir dan Raymond Aron. Ia berjalan cepat menuju toko buku terdekat.

Di sana ia menemukan sebuah buku karya Emmanuel Levinas berjudul The Theory of Intuition in Husserl’s Phenomenology.

Sartre bahkan tidak sabar menunggu sampai tiba di rumah. Ia mulai membacanya sambil berjalan. Ada sesuatu yang terasa familiar.

Beberapa tahun sebelumnya, ia pernah membaca sebuah manuskrip kuliah karya seorang filsuf Jerman bernama Martin Heidegger. Kini sebuah fakta menarik tiba-tiba muncul di hadapannya.

Levinas dan Heidegger, dua pemikir yang sangat berbeda, ternyata memiliki guru yang sama.

Edmund Husserl.

Nama itu terus muncul.

Seolah-olah di balik berbagai pemikiran baru yang sedang mengubah wajah filsafat Eropa, ada satu sosok yang berdiri diam di belakang semuanya.

Rasa ingin tahu Sartre semakin besar.

Metode Husserl ini, sesuatu yang disebut fenomenologi, tampaknya menyimpan sesuatu yang penting. Sesuatu yang mampu menyalakan antusiasme hampir religius pada para filsuf muda di seluruh Eropa.

Begitu besar ketertarikannya hingga Sartre memutuskan pergi ke Berlin untuk mempelajarinya lebih jauh.

Namun Berlin sebenarnya bukan tempat yang seharusnya ia tuju. Pusat dari revolusi intelektual ini berada lebih jauh ke selatan.

Di sebuah kota universitas kecil bernama Freiburg.

Pada tahun 1920-an, Freiburg adalah kota yang tenang dengan sekitar seratus ribu penduduk. Jalan-jalan berbatu membelah deretan bangunan universitas yang megah. Di pusat kota berdiri sebuah katedral tua dengan menara batu berwarna kemerahan yang menjulang di atas atap-atap rumah. Kota ini sekaligus merupakan pusat intelektual dan benteng Katolik yang kuat.

Freiburg memiliki suasana yang sulit dijelaskan. Tenang, tetapi penuh energi. Damai, tetapi terasa seperti sesuatu yang penting sedang terjadi di balik dinding-dinding ruang kuliahnya.

Konon penduduk kota itu dapat dibagi menjadi tiga kelompok.

Turis.

Umat Katolik.

Dan para fenomenolog.

Kelompok terakhir adalah para mahasiswa yang datang dari berbagai penjuru Eropa untuk belajar kepada seorang profesor filsafat bernama Edmund Husserl, yang mengajar di Universitas Freiburg dari tahun 1916 hingga masa pensiunnya pada tahun 1928.

Emmanuel Levinas adalah salah satu di antara mereka.

Ia pertama kali mengenal fenomenologi bukan dari Husserl secara langsung, melainkan dari seorang mahasiswa yang ia lihat sedang membaca sebuah buku filsafat berbahasa Jerman yang sangat tebal. Karena penasaran, Levinas mencari buku tersebut, membacanya, lalu memutuskan pergi ke Freiburg untuk belajar kepada penulisnya.

Ketika tiba di sana, ia menemukan sesuatu yang lebih besar daripada sebuah teori filsafat. Ia menemukan sebuah gerakan intelektual. Sebuah cara baru memahami dunia.

Bertahun-tahun kemudian ia mengenang pengalaman itu:

“Bagi para mahasiswa muda yang saya temui di Freiburg, filsafat baru ini lebih dari sekadar teori baru. Ia adalah cita-cita hidup yang baru, lembaran baru dalam sejarah, hampir seperti sebuah agama baru.”

Seandainya Sartre pergi ke Freiburg, mungkin ia akan menjadi murid Husserl seperti Levinas. Namun itu tidak pernah terjadi.

Sebaliknya, ia menghabiskan waktunya di Berlin, membaca karya-karya Husserl, bergulat dengan istilah-istilah Jerman yang rumit, dan perlahan membangun versinya sendiri tentang fenomenologi. Ia menghabiskan hampir satu tahun di sana tanpa pernah bertemu langsung dengan orang yang menginspirasinya.

Dan Husserl sendiri kemungkinan besar tidak pernah mendengar nama Sartre.

Mungkin itu yang terbaik.

Sulit membayangkan Husserl yang metodis dan disiplin akan sepenuhnya menyetujui arah radikal yang kelak diambil murid tidak langsungnya itu.

Mereka yang pernah menghadiri kuliah Husserl sering kali terkejut. Sosok yang mereka temui sangat berbeda dari gambaran seorang pemimpin revolusi intelektual.

Husserl berbicara dengan lembut. Ia mengenakan kacamata bulat dan kumis rapi yang membuatnya lebih mirip profesor matematika daripada seorang filsuf yang sedang mengubah arah pemikiran modern.

Saat berbicara, ia sering menggerakkan tangan kanannya perlahan di atas telapak tangan kiri, seolah sedang menggambar sesuatu yang hanya dapat ia lihat sendiri.

Ia juga terkenal karena satu kebiasaan yang membuat sebagian mahasiswanya frustrasi.

Ia terus mengulang gagasan yang sama. Lagi dan lagi. Dari sudut yang berbeda. Dengan kalimat yang berbeda. Sampai ia yakin para pendengarnya benar-benar memahami apa yang ingin ia katakan.

Husserl sendiri menyadari kebiasaan itu.

Ia pernah bercerita tentang sebuah pisau lipat yang diterimanya ketika masih kecil.

Ia begitu menyukai pisau itu sehingga terus mengasahnya berulang kali. Sampai akhirnya bilah pisaunya habis terkikis dan yang tersisa hanyalah gagangnya.

“Mungkin filsafat saya seperti pisau itu,” katanya suatu kali.

Dan mungkin memang demikian.

Karena sepanjang hidupnya, Husserl melakukan satu hal yang sama berulang kali.

Ia terus mengasah sebuah pertanyaan sederhana:

Bagaimana jika kita berhenti berteori sejenak, dan mulai melihat dunia sebagaimana ia sungguh-sungguh dialami?

Untuk memahami mengapa pertanyaan itu begitu penting baginya, kita perlu kembali jauh sebelum Freiburg.

Jauh sebelum fenomenologi.

Jauh sebelum para muridnya datang dari seluruh Eropa untuk mendengarkan kuliahnya.

Kembali kepada seorang anak laki-laki yang sering tertidur di kelas.

The Mad Watchmaker

Edmund Husserl lahir pada 8 April 1859 di kota kecil Prostějov, Moravia, yang kini menjadi bagian dari Republik Ceko. Tidak ada banyak hal yang menunjukkan bahwa anak laki-laki ini kelak akan mengubah arah filsafat modern.

Menurut beberapa teman sekolahnya, Husserl justru dikenal karena kebiasaannya tertidur di kelas. Seorang teman lama bahkan mengingat bagaimana Husserl kadang tidur begitu pulas hingga ketika dibangunkan ia menguap terlalu lebar dan rahangnya terkunci.

Sulit membayangkan bahwa anak yang sering tertidur itu suatu hari akan membangunkan generasi filsuf untuk memperhatikan sesuatu yang selama ini mereka abaikan: pengalaman itu sendiri.

Namun bahkan di masa mudanya, sudah ada tanda-tanda ke mana perhatiannya akan mengarah.

Matematika menariknya. Begitu pula filsafat.

Di tengah pelajaran-pelajaran yang terasa membosankan, kedua bidang itu mampu membuatnya tetap terjaga.

Perjalanan tersebut membawanya ke Universitas Wina, tempat ia bertemu sosok yang akan mengubah hidupnya.

Namanya Franz Brentano.

Seorang filsuf karismatik sekaligus mantan pastor Katolik yang kehilangan posisinya setelah menentang doktrin infalibilitas Paus.

Brentano mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi radikal. Filsafat, katanya, harus kembali kepada pengalaman. Bukan kepada spekulasi. Bukan kepada sistem-sistem besar yang semakin jauh dari kehidupan manusia. Melainkan kepada bagaimana dunia sungguh-sungguh dialami.

Bagi Husserl, gagasan itu seperti percikan api.

Ia mulai membayangkan sebuah filsafat yang tidak dibangun di atas asumsi-asumsi metafisik, tetapi berangkat dari apa yang benar-benar hadir dalam kesadaran manusia.

Dari persepsi. Dari ingatan. Dari waktu. Dari pengalaman sehari-hari.

Bertahun-tahun kemudian, gagasan itu akan berkembang menjadi sesuatu yang disebut fenomenologi.

Namun sebelum fenomenologi mengubah filsafat Eropa, dunia terlebih dahulu berubah dengan cara yang jauh lebih brutal.

Perang Dunia Pertama meletus.

Dan seperti jutaan keluarga lainnya, keluarga Husserl ikut terseret ke dalamnya.

Putrinya, Elli, bekerja sebagai perawat di rumah sakit lapangan.

Putra sulungnya, Gerhart, kembali dari perang dalam keadaan terluka.

Putra bungsunya, Wolfgang, tidak pernah kembali.

Ia tewas pada usia dua puluh tahun.

Kesedihan itu meninggalkan bekas yang dalam. Husserl jarang membicarakannya secara terbuka. Namun di balik ketenangannya, ia sedang menghadapi pertanyaan yang jauh lebih sulit daripada persoalan filsafat mana pun:

Bagaimana seseorang tetap hidup setelah kehilangan sesuatu yang tidak tergantikan?

Sejak saat itu, filsafat bukan lagi sekadar pekerjaan bagi Husserl. Ia menjadi cara bertahan hidup. Cara memahami dunia yang tampak runtuh. Cara menemukan kejernihan di tengah kehilangan.

I had to philosophize.
Otherwise,
I could not live in this world.

edmund husserl

Ketika Husserl tiba di Freiburg pada tahun 1916, ia membawa serta keyakinan itu.

Di ruang kuliahnya, fenomenologi berkembang bukan sebagai sebuah doktrin, melainkan sebagai latihan untuk melihat.

Mahasiswa-mahasiswa datang dari berbagai penjuru Eropa untuk belajar kepadanya. Mereka menemukan seorang profesor yang lembut, teliti, dan hampir obsesif.

Setiap gagasan dibongkar, diperiksa, lalu dibangun kembali. Tidak ada konsep yang terlalu kecil untuk diteliti. Tidak ada asumsi yang terlalu jelas untuk dipertanyakan.

Para mahasiswa menjulukinya “The Mad Watchmaker.”

Julukan itu bukan penghinaan.

Ia mencerminkan cara Husserl bekerja.

Seperti seorang pembuat jam yang membongkar sebuah mesin hingga roda gigi terkecil, Husserl membongkar pengalaman manusia menjadi bagian-bagian paling mendasarnya.

Bagaimana kita melihat. Bagaimana kita mengingat. Bagaimana kita merasakan. Bagaimana dunia muncul dalam kesadaran.

Dari sinilah lahir inti fenomenologi.

Bukan sebuah teori tentang dunia.

Melainkan sebuah disiplin untuk kembali melihat dunia sebagaimana ia menampakkan dirinya.

Itulah seruan Husserl yang paling terkenal. Sebelum menjelaskan dunia. Sebelum menafsirkannya. Sebelum menilai atau menghakiminya. Lihatlah terlebih dahulu.

Karena sering kali, apa yang paling dekat dengan kita adalah apa yang paling jarang kita perhatikan.

Murid yang Melampaui Gurunya

Di antara semua mahasiswa yang datang ke Freiburg, tidak ada yang lebih menonjol daripada Martin Heidegger.

Ketika pertama kali mengenal karya Husserl, Heidegger masih seorang mahasiswa teologi yang sedang mencari arah hidupnya. Fenomenologi memberinya sesuatu yang tidak ia temukan di tempat lain: cara baru untuk mendekati pertanyaan-pertanyaan paling mendasar tentang manusia dan dunia.

Husserl segera melihat bakat luar biasa dalam diri pemuda itu.

Heidegger cerdas, penuh energi, dan memiliki keberanian intelektual yang jarang ditemukan. Ia bukan sekadar murid yang memahami fenomenologi. Ia mampu berpikir bersama fenomenologi.

Pada tahun 1919, Heidegger menjadi asisten Husserl di Freiburg.

Hubungan mereka berkembang cepat.

Di ruang kerja yang dipenuhi manuskrip dan tumpukan catatan, keduanya menghabiskan waktu berjam-jam membahas filsafat. Banyak orang mulai melihat Heidegger sebagai pewaris alami proyek fenomenologi.

Husserl sendiri tampaknya berpikir demikian. Konon suatu kali ia berkata kepada Heidegger:

“You and I are phenomenology.”

Bagi seorang guru yang telah menghabiskan puluhan tahun membangun sebuah metode, sulit membayangkan pujian yang lebih besar daripada itu.

Namun justru karena Heidegger memahami fenomenologi dengan sangat baik, ia mulai melihat sesuatu yang ingin ia ubah.

Bagi Husserl, filsafat harus kembali kepada pengalaman sebagaimana ia hadir dalam kesadaran manusia.

Heidegger menerima titik awal itu. Tetapi ia merasa pertanyaan yang lebih penting masih belum dijawab. Bukan bagaimana dunia muncul dalam kesadaran. Melainkan apa artinya berada di dunia sejak awal.

Perbedaan itu tampak kecil. Namun dari sanalah jalan mereka mulai berpisah.

Pada tahun 1927, Heidegger menerbitkan Being and Time.

Buku itu segera mengguncang dunia filsafat. Banyak pembaca mengenali jejak Husserl di dalamnya. Namun mereka juga melihat sesuatu yang baru.

Jika Husserl mengajarkan cara melihat pengalaman dengan kejernihan yang hampir ilmiah, Heidegger membawa pembacanya kepada pertanyaan yang lebih gelap dan lebih personal: keberadaan, kecemasan, kematian, dan makna hidup manusia.

Fenomenologi telah bergerak ke wilayah yang tidak pernah sepenuhnya dibayangkan oleh penciptanya.

Bagi Husserl, momen itu mungkin terasa campur aduk.

Di satu sisi, ia melihat keberhasilan terbesar dari pekerjaannya. Fenomenologi tidak lagi sekadar metode yang diajarkan di ruang kuliah Freiburg. Ia telah menjadi salah satu kekuatan paling berpengaruh dalam filsafat modern.

Di sisi lain, ia menyaksikan murid yang paling berbakat mengambil jalan yang berbeda dari dirinya.

Namun mungkin inilah nasib semua gagasan besar. Cepat atau lambat, mereka meninggalkan penciptanya. Mereka tumbuh, berubah, dan menemukan kehidupannya sendiri.

Dan tidak ada murid yang menunjukkan hal itu lebih jelas daripada Martin Heidegger.

Husserl belum mengetahuinya saat itu. Tapi perbedaan filosofis mereka hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.

Edmund Husserl and Martin Heidegger, St. Märgen, Switzerland, 1921.

Bayangan di Atas Eropa

Pada tahun 1933, Adolf Hitler menjadi Kanselir Jerman.

Dalam hitungan bulan, kehidupan akademik dan sosial di negara itu berubah secara drastis. Kebijakan-kebijakan baru mulai diberlakukan untuk menyingkirkan warga keturunan Yahudi dari berbagai posisi publik, termasuk universitas.

Husserl lahir dalam keluarga Yahudi dan telah lama berpindah ke agama Kristen. Selama puluhan tahun karier akademiknya, identitas itu nyaris tidak pernah menjadi persoalan. Ia mengajar di universitas-universitas Jerman, membimbing generasi mahasiswa, dan menjadi salah satu filsuf paling dihormati di negaranya.

Kini semua itu tidak lagi penting.

Ia kehilangan hak-hak akademiknya. Namanya mulai dihapus dari berbagai kegiatan universitas. Akses ke perpustakaan yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya dibatasi. Seorang profesor yang telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk filsafat Jerman tiba-tiba diperlakukan sebagai orang luar.

Situasi ini terasa semakin pahit karena Husserl memiliki alasan untuk merasa dirinya bagian dari bangsa yang kini menolaknya. Putranya pernah bertugas dalam militer Jerman selama Perang Dunia Pertama. Ia sendiri telah menghabiskan puluhan tahun membangun tradisi intelektual yang menjadi kebanggaan universitas-universitas Jerman.

Namun sejarah sedang bergerak ke arah yang tidak mengenal jasa masa lalu.

Di tengah perubahan itu, banyak mantan murid dan kolega tetap menjaga hubungan dengannya. Mereka berkunjung, berkirim surat, dan menunjukkan dukungan dengan berbagai cara.

Tetapi ada satu hubungan yang perlahan menghilang.

Hubungannya dengan Heidegger.

Pada saat yang sama ketika Husserl semakin tersingkir dari kehidupan akademik Jerman, Heidegger justru berada di puncak kariernya. Ia diangkat menjadi rektor Universitas Freiburg dan memilih bekerja dalam sistem baru yang sedang dibangun rezim Nazi.

Tidak pernah ada perpisahan besar yang dramatis antara guru dan murid tersebut. Tidak ada pertengkaran terbuka yang menandai berakhirnya hubungan mereka. Yang terjadi lebih menyerupai sebuah jarak yang terus melebar, sampai akhirnya keduanya berdiri di sisi yang berbeda dari sebuah zaman yang sedang berubah.

Bagi Husserl, kehilangan ini tidak hanya bersifat pribadi. Ia juga memiliki makna simbolis yang lebih dalam.

Fenomenologi yang pernah ia bangun sebagai proyek pencarian kejernihan kini berada di tangan generasi baru yang bergerak ke arah berbeda. Dunia akademik yang telah menjadi rumahnya selama puluhan tahun tidak lagi terasa akrab. Bahkan negara yang selama ini ia anggap sebagai bagian dari identitasnya mulai menutup pintu.

Husserl menyaksikan satu per satu hal yang pernah memberinya rasa kepastian berubah di hadapannya. Namun seperti yang telah ia lakukan sepanjang hidup, ia merespons perubahan itu dengan cara yang sama: kembali bekerja, kembali menulis, dan kembali berusaha memahami pengalaman manusia seteliti mungkin.

Filsafat, seperti yang pernah ia katakan setelah kematian putranya, tetap menjadi cara untuk hidup di dunia yang semakin sulit dipahami.

Pengasingan yang Sunyi

Tahun-tahun terakhir kehidupan Edmund Husserl dijalani dalam pengasingan yang sunyi.

Ia tidak lagi memiliki tempat yang sama di dunia akademik Jerman. Namanya dihapus dari berbagai kegiatan universitas. Aksesnya ke perpustakaan dibatasi. Gelar dan penghormatan yang pernah menyertainya perlahan kehilangan arti di tengah perubahan politik yang melanda negaranya.

Namun seperti yang telah ia lakukan sepanjang hidupnya ketika menghadapi kehilangan, Husserl kembali kepada filsafat.

Di ruang kerjanya yang sederhana di Freiburg, ia terus menulis.

Ia merevisi manuskrip-manuskrip lama, mengembangkan gagasan-gagasan baru, dan berusaha menyelesaikan proyek yang telah mengisi hampir seluruh hidupnya. Tangannya semakin lemah. Tubuhnya semakin rapuh. Tetapi keinginannya untuk memahami pengalaman manusia tidak pernah benar-benar padam.

Bagi banyak orang, masa tuanya mungkin tampak seperti sebuah tragedi.

Bagi Husserl sendiri, filsafat tetap menjadi pekerjaan yang belum selesai.

Ia terus kembali kepada pertanyaan yang sama yang telah menemaninya selama puluhan tahun: bagaimana manusia mengalami dunia, dan bagaimana kita dapat melihatnya dengan lebih jernih.

Husserl meninggal pada bulan April 1938 di Freiburg. Tidak ada penghormatan besar dari negara. Tidak ada upacara akademik yang megah. Dunia yang pernah ia bantu bentuk sedang bergerak ke arah yang berbeda.

Namun kisah Husserl tidak berakhir bersama kematiannya.

Salah seorang mantan muridnya, Pastor Herman Leo Van Breda, menyadari bahwa puluhan ribu halaman manuskrip Husserl terancam hilang di bawah rezim Nazi. Dengan usaha yang luar biasa, ia berhasil menyelamatkan dokumen-dokumen tersebut dan membawanya keluar dari Jerman menuju Belgia.

Di sana, manuskrip-manuskrip itu menjadi dasar bagi Husserl Archives di Leuven.

Berkat upaya tersebut, karya Husserl tetap hidup.

Setelah Perang Dunia Kedua berakhir, pengaruhnya justru semakin terasa. Fenomenologi menjadi titik awal bagi banyak arus pemikiran yang membentuk filsafat abad ke-20. Sartre menggunakannya untuk mengembangkan eksistensialisme. Merleau-Ponty membawanya ke dalam kajian tubuh dan persepsi. Levinas menggunakannya untuk membangun filsafat etika. Derrida memulai perjalanannya dari pembacaan kritis terhadap Husserl.

Masing-masing mengambil jalan yang berbeda. Namun semuanya berangkat dari pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang selama puluhan tahun diasah oleh seorang profesor tua di Freiburg.

Husserl tidak pernah bermaksud menjadi seorang nabi atau revolusioner. Ia tidak menawarkan sistem besar yang menjelaskan seluruh kehidupan manusia.

Husserl tidak pernah percaya bahwa filsafat dapat diselesaikan sekali untuk selamanya. Baginya, berpikir adalah proses yang terus menerus dimulai kembali. Setiap generasi harus belajar melihat dunia dengan mata yang segar, melepaskan asumsi-asumsi yang diwarisi, dan kembali kepada pengalaman itu sendiri.

Dan mungkin itulah warisan terbesar Edmund Husserl.

Philosophy must be begun anew.
Radical beginnings. Again and again

edmund husserl
>> Lanjut ke Martin Heidegger

Tonton Video Terkait