Life of Pi

Yann Martel

Ada sebuah pertanyaan sederhana di akhir Life of Pi, namun mungkin sangat sulit dijawab.

Jika suatu hari nanti seseorang meminta kita menceritakan kehidupan kita… kisah seperti apa yang akan kita pilih?

Yann Martel tidak mengajukan pertanyaan itu melalui ruang kuliah atau perdebatan filsafat. Ia mengajukannya melalui kisah seorang anak laki-laki berusia enam belas tahun yang terdampar sendirian di tengah Samudra Pasifik bersama seekor harimau Bengal.

Selama berbulan-bulan mereka bertahan hidup di atas sebuah sekoci kecil.

Melewati badai.

Kelaparan.

Keputusasaan.

Seekor hyena.

Seekor zebra yang patah kaki.

Seekor orangutan.

Pulau karnivora yang memangsa penghuninya.

Namun Life of Pi bukan sekadar kisah tentang bertahan hidup.

Ia adalah perjalanan yang menguji batas-batas kekuatan, keyakinan, dan tekad manusia untuk terus hidup ketika dunia tidak lagi masuk akal.

Lalu, ketika perjalanan itu berakhir, muncul sebuah pertanyaan yang jauh lebih mengejutkan daripada semua petualangan tersebut.

Apakah semua itu benar-benar terjadi?

Martel tidak pernah memberikan jawabannya.

Sebaliknya, ia melakukan sesuatu yang jauh lebih menarik.

Ia meminta pembacanya memilih sendiri cerita yang ingin mereka percayai.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, itulah pertanyaan yang terus mengikuti manusia sepanjang hidupnya.

Bukan hanya tentang apa yang benar.

Melainkan tentang kisah seperti apa yang membuat kehidupan tetap layak dijalani.

Mencari Makna Setelah Kepastian

Life of Pi terbit pada tahun 2001, di penghujung sebuah abad yang dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan besar.

Selama abad ke-20, banyak keyakinan yang selama berabad-abad dianggap kokoh mulai dipertanyakan. Perang dunia, perkembangan sains, psikologi modern, hingga pemikiran postmodern membuat manusia semakin sulit mempercayai bahwa ada satu penjelasan tunggal tentang kehidupan.

Di tengah dunia seperti itu, seorang penulis Kanada bernama Yann Martel justru memilih menulis sebuah kisah yang tampak seperti dongeng.

Ia tidak menawarkan argumen untuk membuktikan agama.

Ia juga tidak berusaha membantah sains.

Sebaliknya, Martel mengajukan pertanyaan yang jauh lebih sederhana.

Mengapa manusia selalu bercerita?

Mengapa hampir setiap kebudayaan melahirkan mitos, legenda, kitab suci, dan cerita-cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya?

Barangkali karena sejak dahulu manusia tidak hanya hidup dari fakta.

Kita juga hidup dari cerita yang membantu kita memahami pengalaman, kehilangan, harapan, dan kehidupan itu sendiri.

Ketertarikan inilah yang membawa Martel menulis Life of Pi. Sebuah novel yang memadukan petualangan, filsafat, zoologi, dan berbagai tradisi keagamaan tanpa pernah memaksa pembacanya memilih satu jawaban.

Sebaliknya, ia mengundang kita melakukan sesuatu yang jauh lebih jarang.

Merenungkan mengapa kita memilih mempercayai sebuah cerita.

Sebuah Kisah tentang Bertahan Hidup

Piscine Molitor Patel, atau Pi, bukanlah seorang petualang ataupun pahlawan. Ia adalah remaja enam belas tahun yang tumbuh di sebuah kebun binatang di India. Sejak kecil ia terbiasa hidup di antara berbagai jenis binatang. Ia juga memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap dunia, hingga memilih mempelajari tiga agama sekaligus: Hindu, Kristen, dan Islam. Bagi Pi, ketiganya bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan, melainkan cara-cara yang berbeda untuk mengagumi kehidupan dan Sang Pencipta.

Ketika keluarganya memutuskan pindah ke Kanada bersama sebagian koleksi satwa kebun binatang mereka, kapal yang mereka tumpangi tenggelam di tengah Samudra Pasifik.

Pi menjadi satu-satunya manusia yang selamat.

Bersamanya di atas sekoci hanya tersisa seekor zebra yang patah kaki, seekor hyena, seekor orangutan, dan seekor harimau Bengal bernama Richard Parker.

Perjalanan yang mengikuti kemudian menjadi salah satu kisah bertahan hidup paling terkenal dalam sastra modern.

Berbulan-bulan Pi bertahan di tengah lautan. Ia belajar hidup berdampingan dengan Richard Parker, menghadapi badai, kelaparan, kehausan, dan kesepian. Dalam perjalanan itu ia juga mengalami berbagai peristiwa yang tampaknya mustahil, termasuk sebuah pulau terapung yang dipenuhi tumbuhan karnivora dan ribuan meerkat yang hidup tanpa rasa takut.

Ketika akhirnya Pi ditemukan di pantai Meksiko, kisah yang ia ceritakan dianggap terlalu fantastis untuk dipercaya.

Dua penyelidik dari perusahaan asuransi Jepang terus mendesaknya untuk memberikan penjelasan yang lebih masuk akal.

Maka Pi pun menceritakan sebuah kisah lain.

Kali ini tanpa harimau.

Tanpa pulau misterius.

Tanpa keajaiban.

Hanya manusia.

Dan kekerasan.

Setelah selesai bercerita, Pi tidak pernah mengatakan cerita mana yang benar.

Ia hanya mengajukan satu pertanyaan sederhana kepada kedua penyelidik itu.

“Cerita yang mana yang lebih Anda sukai?”

Cerita yang Kita Pilih

Di akhir novel, banyak pembaca sibuk memperdebatkan satu hal.

Apakah harimau itu benar-benar ada?

Namun mungkin itu bukan pertanyaan yang ingin diajukan Yann Martel.

Pertanyaan yang lebih menarik adalah:

Mengapa Pi memilih menceritakan kisah itu?

Jawabannya mungkin telah muncul jauh sebelum kapal itu tenggelam.

Sejak kecil, Pi tidak pernah menerima begitu saja identitas yang diberikan kepadanya.

Nama Piscine, yang diambil dari sebuah kolam renang di Prancis, terus menjadi bahan ejekan teman-temannya. Pada hari pertama sekolah menengah, ia memutuskan mengubah semuanya.

Di depan kelas, ia menuliskan angka π di seluruh papan tulis, lengkap dengan deretan digitnya yang panjang, lalu memperkenalkan dirinya sebagai Pi.

Sejak hari itu, nama lamanya perlahan menghilang. Ia tidak menghapus masa lalunya, tapi menciptakan cerita baru tentang dirinya.

Hal yang sama terjadi pada keyakinannya.

Pi tidak merasa harus memilih antara Hindu, Kristen, atau Islam. Ia menemukan keindahan dalam ketiganya, lalu merangkai sendiri cara ia memahami Tuhan dan kehidupan.

Dengan caranya sendiri, Pi membentuk identitasnya, bukan sekadar mewarisinya. Keyakinan adalah sesuatu yang harus dijalani, bukan sekedar dipercaya.

Kalimat ini bukan sedang membuktikan keberadaan Tuhan ataupun menolak sains. Semuanya harus terlebih dahulu dialami, sebelum akhirnya diberi makna.

Namun pada akhirnya…

memberi makna saja belum cukup untuk menjalani hidup.

Keinginan untuk Tetap Hidup

Di tengah samudra, ketika hampir semua harapan telah hilang, Pi menemukan sesuatu yang bahkan lebih mendasar.

Tidak ada penjelasan filosofis.

Tidak ada teori.

Hanya pengakuan bahwa di dalam diri manusia terkadang muncul dorongan yang sulit dijelaskan untuk terus bertahan, bahkan ketika semua alasan telah habis.

Di sinilah Life of Pi bertemu dengan Albert Camus.

Dalam The Myth of Sisyphus, Camus menulis bahwa pertanyaan filsafat yang paling serius adalah apakah kehidupan layak dijalani. Namun jawabannya bukanlah menyerah pada absurditas, melainkan tetap memilih hidup, meskipun dunia tidak pernah menjanjikan makna ataupun akhir yang bahagia.

Keberanian itu ternyata tidak selalu muncul dalam situasi hidup dan mati seperti yang dialami Pi.

Lebih sering, ia hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana.

Bangun pagi, menyeduh secangkir kopi, menelepon seseorang yang kita sayangi, melanjutkan pekerjaan yang belum selesai. Atau sekadar memulai satu hari lagi.

Meskipun tidak selalu ada alasan kuat untuk melanjutkan.

Sumber Kekuatan Tak Terduga

Lalu muncul tokoh yang paling aneh dalam seluruh novel.

Richard Parker.

Seekor harimau yang menjadi ancaman terbesar bagi Pi, sekaligus alasan mengapa ia tetap hidup.

Pada akhirnya Pi menyadari,

Paradoks ini mungkin menjadi salah satu gagasan terindah dalam Life of Pi.

Yang menyelamatkan Pi bukanlah harimau itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa keberadaannya memaksa Pi untuk terus hidup.

Selama Richard Parker ada, Pi harus mencari ikan.

Harus membuat air minum.

Harus menjaga sekoci.

Harus terus hidup.

Kadang-kadang, yang membuat kita bertahan bukanlah hilangnya ketakutan.

Melainkan justru sesuatu yang menuntut kita untuk terus melangkah.

Richard Parker menjadi pengingat bahwa kehidupan tidak selalu hadir sebagai sesuatu yang menenangkan. Sering kali ia justru datang sebagai tantangan, tanggung jawab, kehilangan, atau bahkan penderitaan.

Namun justru hal-hal itulah yang membuat kita tetap bergerak.

Filsafat sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan besar.

Apa makna kehidupan?

Bagaimana seharusnya kita hidup?

Apakah kebebasan benar-benar ada?

Namun sebelum semua pertanyaan itu dapat dijawab, ada satu hal yang lebih mendasar: Kita harus terlebih dahulu memiliki alasan untuk tetap hidup.

Dan mungkin itulah yang ditemukan Pi di tengah samudra.

Bukan sebuah jawaban, melainkan sesuatu yang membuatnya terus mendayung.

Terus menunggu matahari terbit.

Terus bertahan hingga hari berikutnya.

Jika Hidup Adalah Cerita

Mungkin pada akhirnya, itulah yang diberikan Life of Pi kepada kita.

Bukan kepastian.

Bukan jawaban.

Melainkan sebuah cara untuk kembali memandang kehidupan.

Cerita tidak hanya membantu Pi bertahan hidup di tengah samudra.

Ia juga membantunya melihat bahwa, di balik segala kehilangan dan penderitaan, kehidupan tetap layak untuk dicintai.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, cerita melakukan hal yang sama kepada kita.

Ia membantu kita memberi makna pada pengalaman.

Mengubah luka menjadi kenangan.

Mengubah kehilangan menjadi kasih sayang.

Dan membuat kita kembali menemukan rasa kagum terhadap kehidupan yang sama.

Namun jika kehidupan adalah sebuah cerita…

bagaimana jika kita juga hanyalah tokoh di dalamnya?

Bagaimana jika ada bagian-bagian yang tidak dapat kita tulis sendiri?

Bagaimana jika akhir cerita itu telah menunggu sejak halaman pertama, dan tidak ada satu pun pilihan yang mampu mengubahnya?

>> Lanjut ke Wisanggeni Sang Buronan
Tonton Video Terkait