Phillip K. Dick

Bayangkan suatu hari Anda bertemu seseorang yang berbicara seperti manusia, tertawa seperti manusia, mencintai seperti manusia, bahkan menangis ketika kehilangan orang yang ia sayangi.
Lalu seseorang memberi tahu Anda bahwa ia bukan manusia.
Apakah Anda akan mempercayainya?
Pertanyaan sederhana itulah yang menjadi jantung Do Androids Dream of Electric Sheep?
Berlatar di bumi yang hancur setelah perang nuklir, Philip K. Dick memperkenalkan dunia tempat manusia hidup berdampingan dengan android yang secara fisik hampir tidak dapat dibedakan dari penciptanya. Satu-satunya cara untuk membedakan keduanya adalah melalui sebuah tes yang dirancang untuk mengukur empati.
Namun semakin jauh cerita berjalan, batas itu mulai kabur.
Melalui novel ini, Philip K. Dick tidak bertanya apakah suatu hari mesin akan menjadi seperti manusia.
Ia justru mengajak kita mempertanyakan sesuatu yang jauh lebih mendasar.
Apa sebenarnya yang membuat kita layak disebut manusia?
Ketika Manusia Mulai Meragukan Dirinya Sendiri
Do Androids Dream of Electric Sheep? diterbitkan pada tahun 1968, ketika dunia berada di tengah Perang Dingin dan bayang-bayang perang nuklir.
Kemajuan teknologi berlangsung sangat cepat. Komputer mulai berkembang, otomatisasi mengubah cara manusia bekerja, dan perlombaan antariksa membuat masa depan terasa semakin dekat. Di saat yang sama, ancaman kehancuran global membuat banyak orang mempertanyakan arah peradaban modern.
Di tengah optimisme terhadap teknologi, muncul pertanyaan yang lebih sunyi.
Bagaimana jika kemajuan yang kita ciptakan justru membuat kita semakin sulit memahami diri sendiri?
Philip K. Dick hidup pada masa ketika batas antara manusia dan mesin mulai terasa semakin kabur. Bukan karena robot sudah hidup di antara manusia, melainkan karena kehidupan modern semakin diatur oleh sistem, teknologi, dan rutinitas yang sering kali mengabaikan sisi paling mendasar dari pengalaman manusia.
Dari kegelisahan itulah lahir Do Androids Dream of Electric Sheep?
Novel ini bukan sekadar membayangkan masa depan yang dipenuhi android.
Ia mengajak pembaca mempertanyakan sesuatu yang jauh lebih dekat.
Bagaimana jika suatu hari kita mampu menciptakan mesin yang berpikir seperti manusia, tetapi justru lupa apa yang sejak awal membuat manusia benar-benar manusia?
Seorang Penulis yang Terus Mempertanyakan Realitas
Philip K. Dick bukanlah penulis fiksi ilmiah dalam pengertian yang biasa.
Ia memang menulis tentang android, perjalanan antariksa, dan masa depan. Namun semua itu hanyalah latar untuk pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apa yang nyata, siapa diri kita, dan apa yang membuat seseorang tetap menjadi manusia?
Lahir pada tahun 1928 di Chicago, Dick menjalani kehidupan yang penuh ketidakpastian. Ia mengalami kesulitan ekonomi, beberapa kali menikah dan bercerai, serta bergulat dengan kecemasan, pengalaman-pengalaman mistis, dan pertanyaan filosofis yang tidak pernah benar-benar meninggalkannya.
Dunia dalam novel-novelnya sering kali terasa rapuh. Ingatan dapat dimanipulasi. Identitas dapat dipalsukan. Kenyataan dapat berubah sewaktu-waktu. Tokoh-tokohnya terus mempertanyakan apakah apa yang mereka lihat benar-benar nyata, atau hanya ilusi yang diciptakan oleh orang lain, teknologi, atau bahkan pikiran mereka sendiri.
Di balik semua kegelisahan itu, Philip K. Dick sebenarnya sedang mencari satu hal.
Bukan teknologi yang paling canggih.
Melainkan sifat paling mendasar yang membuat manusia tetap menjadi manusia.
Pencarian itulah yang mencapai bentuknya yang paling utuh dalam Do Androids Dream of Electric Sheep?
Melalui kisah tentang manusia dan android, Dick tidak sedang membayangkan masa depan.
Ia sedang mengajak kita melihat masa kini dari sudut pandang yang sama sekali baru.

Seorang Pemburu yang Mulai Meragukan Perburuannya
Berlatar di bumi yang hancur akibat perang nuklir, Do Androids Dream of Electric Sheep? mengikuti kisah Rick Deckard, seorang pemburu bayaran yang bertugas memburu dan “memensiunkan” android-android ilegal yang menyamar sebagai manusia.
Tugas itu tampak sederhana.
Android bukan manusia.
Karena itu mereka tidak memiliki hak untuk hidup.
Namun setiap kali Deckard bertemu dengan android yang menjadi targetnya, keyakinan tersebut mulai goyah. Mereka mampu berbicara, berpikir, bercinta, dan mempertahankan hidupnya dengan cara yang tidak jauh berbeda dari manusia.
Jika mereka tampak begitu manusiawi, apa sebenarnya yang membuat mereka berbeda?
Di dunia ini, satu-satunya alat yang diyakini mampu membedakan manusia dan android adalah Voigt-Kampff Test, sebuah tes yang mengukur respons empati terhadap situasi tertentu.
Namun semakin jauh perjalanan Deckard, semakin sulit pula ia mempercayai batas yang selama ini dianggap begitu jelas.
Melalui pencarian itu, Philip K. Dick tidak sedang membangun misteri tentang identitas para android.
Ia justru mengajak pembaca mempertanyakan identitas manusia itu sendiri.
Karena mungkin pertanyaan yang paling penting bukanlah apakah mesin dapat menjadi manusia.
Melainkan apakah manusia masih mampu mempertahankan sifat yang membuat mereka berbeda dari mesin.
Empati sebagai Inti Kemanusiaan
“Empathy, evidently, existed only within the human community.”
Di dunia Do Androids Dream of Electric Sheep?, manusia percaya bahwa empati adalah satu-satunya sifat yang tidak dapat ditiru oleh android.
Karena itulah Voigt-Kampff Test tidak mengukur kecerdasan, kekuatan, atau kemampuan berbicara.
Ia mengukur kemampuan seseorang untuk merasakan penderitaan makhluk lain.
Namun semakin jauh cerita berjalan, keyakinan itu mulai goyah.
Beberapa android menunjukkan kasih sayang dan keinginan untuk hidup. Sementara sebagian manusia justru memperlakukan sesamanya dengan dingin dan tanpa belas kasihan.
Philip K. Dick mengajak kita mempertanyakan apakah kemanusiaan benar-benar ditentukan oleh siapa kita.
Atau oleh bagaimana kita memperlakukan kehidupan di sekitar kita.
Semakin banyak android yang ditemui Deckard, semakin sulit pula ia mempertahankan keyakinan bahwa dunia terbagi secara sederhana antara manusia dan mesin.
Perbedaan yang selama ini dianggap mutlak perlahan kehilangan maknanya.
Jika android mampu mencintai, takut mati, dan berharap untuk tetap hidup, apakah mereka sepenuhnya berbeda dari manusia?
Dan jika manusia kehilangan empati, apakah mereka masih layak disebut manusia?
Dick tidak pernah memberikan jawaban yang pasti.
Ia justru menunjukkan bahwa batas yang paling penting sering kali bukan batas biologis, melainkan batas moral.
Realitas Tidak Selalu Sebagaimana Tampaknya
“The electric things have their lives, too. Paltry as those lives are.”
Dunia dalam novel ini dipenuhi salinan.
Hewan buatan menggantikan hewan yang telah punah. Kenangan dapat dimanipulasi. Identitas dapat disembunyikan. Bahkan kehidupan itu sendiri memiliki tiruannya.
Melalui semua itu, Dick mengajak pembaca mempertanyakan sesuatu yang lebih dalam.
Apakah keaslian ditentukan oleh asal-usulnya?
Ataukah oleh pengalaman yang dijalani dan hubungan yang dibangun selama hidup?
Pada akhirnya, Do Androids Dream of Electric Sheep? bukanlah kisah tentang robot.
Ia adalah kisah tentang manusia yang berusaha memahami dirinya sendiri.
Dick tidak meminta kita takut pada mesin yang menjadi terlalu mirip manusia.
Ia justru meminta kita berhati-hati agar manusia tidak kehilangan sifat yang membuatnya berbeda.
Mungkin menjadi manusia bukan soal memiliki tubuh biologis atau kecerdasan yang lebih tinggi.
Mungkin menjadi manusia berarti tetap mampu merasakan penderitaan orang lain, mengakui nilai kehidupan, dan memilih belas kasih, bahkan ketika dunia tidak memberi alasan untuk melakukannya.
Apa Artinya Menjadi Manusia
Ketika Do Androids Dream of Electric Sheep? diterbitkan pada tahun 1968, android masih merupakan khayalan.
Hari ini, pertanyaannya terasa jauh lebih dekat.
Kecerdasan buatan mampu menulis, berbicara, menciptakan karya seni, bahkan menemani percakapan sehari-hari. Semakin hari, batas antara kemampuan manusia dan mesin terasa semakin kabur.
Namun Philip K. Dick mengingatkan bahwa pertanyaan yang paling penting tidak pernah berubah.
Bukan apakah suatu hari mesin akan menjadi seperti manusia.
Melainkan apakah manusia masih mampu mempertahankan sifat yang membuatnya berbeda.
Empati, pada akhirnya, bukanlah soal mampu merasakan.
Ia adalah kesediaan untuk melihat kehidupan orang lain sebagai sesuatu yang sama berharganya dengan kehidupan kita sendiri.
Mungkin di situlah kemanusiaan bermula.
Namun perjalanan ini belum selesai.
Jika Philip K. Dick menunjukkan bahwa empati membuat kita benar-benar menjadi manusia, Milan Kundera akan mengajukan pertanyaan berikutnya.
Apa yang kita lakukan setelah benar-benar bertemu dengan manusia lain?
Bagaimana kita mencintai, memilih, dan menjalani hidup ketika setiap keputusan hanya terjadi satu kali, tanpa kesempatan untuk diulang?
>> Lanjut ke Unbearable Lightness of Being
Tonton Video Terkait:
