The Death of Ivan Ilyich

Leo Tolstoy

“Ivan Ilyich is dead.”

Kabar itu tiba pada suatu pagi di ruang sidang. Rekan-rekan kerjanya mendengarnya dengan sopan, mengucapkan beberapa kata yang pantas, lalu segera mulai memikirkan hal lain: siapa yang akan menggantikannya, jabatan apa yang mungkin terbuka, dan bagaimana perubahan itu dapat menguntungkan mereka.

Kematian seorang manusia baru saja diumumkan.

Namun kehidupan terus berjalan seperti biasa.

Dengan pembukaan yang sederhana dan hampir dingin ini, Leo Tolstoy menulis salah satu novel paling mengganggu tentang kematian yang pernah ada. Bukan karena ia berbicara tentang bagaimana seseorang meninggal, tetapi karena ia memaksa kita menghadapi pertanyaan yang jauh lebih sulit:

Bagaimana jika hidup yang selama ini kita bangun ternyata bukan hidup yang benar-benar kita inginkan?

Kehidupan yang Tampak Sempurna

Pada paruh kedua abad ke-19, Rusia sedang bergerak menuju dunia yang lebih modern.

Reformasi yang dilakukan Tsar Alexander II membuka berbagai peluang baru bagi kalangan terdidik. Birokrasi berkembang, profesi-profesi baru bermunculan, dan semakin banyak orang percaya bahwa kehidupan yang baik dapat dicapai melalui pendidikan, karier, stabilitas ekonomi, dan status sosial.

Muncullah kelas profesional baru: hakim, pengacara, pegawai pemerintahan, dokter, dan berbagai kelompok terdidik yang menjadi simbol kemajuan Rusia modern.

Bagi banyak orang, keberhasilan memiliki ukuran yang cukup jelas. Mendapatkan pekerjaan yang terhormat, membangun keluarga yang baik, memiliki rumah yang nyaman, dan memperoleh pengakuan dari lingkungan sekitar dianggap sebagai tanda bahwa seseorang telah menjalani hidup dengan benar.

Namun di balik optimisme tersebut, muncul kegelisahan yang lebih dalam.

Kemajuan material membuat hidup menjadi lebih nyaman, tetapi tidak selalu menjawab pertanyaan yang lebih mendasar tentang tujuan hidup, kematian, atau makna dari semua pencapaian tersebut. Banyak pemikir pada masa itu mulai mempertanyakan apakah keberhasilan sosial benar-benar identik dengan kehidupan yang baik.

Leo Tolstoy termasuk di antaranya.

Melalui The Death of Ivan Ilyich, ia mengarahkan perhatiannya pada salah satu keyakinan paling kuat dalam masyarakat modern: bahwa jika seseorang berhasil memenuhi semua ukuran kesuksesan yang ditetapkan oleh dunia, maka ia pasti telah menjalani hidup yang benar.

Tolstoy tidak begitu yakin.

Ketika Tolstoy Kehilangan Jawaban

Pada saat menulis The Death of Ivan Ilyich, Leo Tolstoy bukanlah penulis yang sedang mencari kesuksesan.

Ia sudah menemukannya.

Novel-novel seperti War and Peace dan Anna Karenina telah menjadikannya salah satu penulis paling terkenal di dunia. Ia memiliki tanah yang luas, keluarga besar, kekayaan, dan pengakuan yang diimpikan banyak orang.

Namun di balik semua itu, Tolstoy sedang mengalami krisis yang mendalam.

Dalam autobiografinya, A Confession, ia menulis bahwa pada suatu titik ia mulai dihantui oleh pertanyaan yang tampak sederhana namun tidak pernah bisa ia singkirkan:

Apa arti dari semua ini?

Jika suatu hari ia akan mati, jika keluarganya akan mati, dan jika seluruh pencapaiannya pada akhirnya akan hilang, lalu untuk apa semua usaha tersebut?

Pertanyaan itu bukan sekadar latihan intelektual. Tolstoy mengaku sempat mengalami keputusasaan yang begitu besar hingga beberapa kali memikirkan bunuh diri. Ia menyembunyikan senapan dari dirinya sendiri dan menghindari membawa tali ketika berjalan sendirian karena takut pada pikirannya sendiri.

Krisis tersebut mengubah hidupnya.

Ia mulai mempertanyakan nilai-nilai yang selama ini dianggap sebagai ukuran keberhasilan: status sosial, kekayaan, ambisi, dan pengakuan. Ia mencari jawaban dalam agama, filsafat, dan kehidupan rakyat biasa yang menurutnya menjalani hidup dengan kesederhanaan yang telah hilang dari kalangan elite Rusia.

Dari pergulatan itulah lahir The Death of Ivan Ilyich.

Bukan sebagai cerita tentang kematian.

Melainkan tentang seorang manusia yang baru mulai mempertanyakan hidupnya ketika waktu yang tersisa hampir habis.

Dalam banyak hal, Ivan Ilyich adalah mimpi buruk yang menghantui Tolstoy sendiri:

Bagaimana jika seseorang berhasil memperoleh semua yang diinginkan masyarakat, tetapi tetap gagal menjalani hidup yang bermakna?

Seorang Hakim yang Sedang Sekarat

Ivan Ilyich adalah seorang hakim yang sukses. Sejak muda ia menjalani hidup sebagaimana yang diharapkan masyarakat darinya: membangun karier, menikah, memperoleh status sosial, dan menjaga reputasi sebagai pria yang terhormat.

Tidak ada yang luar biasa dalam hidupnya.

Dan itulah intinya.

Ivan bukan tokoh tragis, pemberontak, atau penjahat. Ia adalah orang biasa yang melakukan apa yang dianggap benar oleh lingkungannya. Hidupnya berjalan sesuai rencana.

Hingga suatu hari ia mengalami kecelakaan kecil saat menata rumah barunya.

Awalnya kejadian itu tampak sepele. Namun rasa sakit yang muncul tidak pernah benar-benar hilang. Kondisinya perlahan memburuk, dan semakin banyak dokter yang ditemuinya, semakin jelas bahwa tidak ada yang dapat dilakukan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ivan Ilyich harus menghadapi sesuatu yang tidak bisa diselesaikan melalui jabatan, uang, atau kerja keras.

Ia harus menghadapi kematian.

Seiring tubuhnya melemah, dunia yang selama ini terasa penting mulai kehilangan maknanya. Karier, status sosial, bahkan hubungan dengan keluarga tampak berbeda ketika dilihat dari ambang kematian.

Dan di tengah penderitaan itu, sebuah pertanyaan yang sederhana namun menghancurkan mulai muncul dalam pikirannya:

Bagaimana jika seluruh hidup yang saya jalani selama ini sebenarnya salah?

Dari titik inilah Tolstoy membawa pembaca ke salah satu perjalanan batin paling mendalam dalam sastra modern. Bukan perjalanan menuju kematian, melainkan perjalanan untuk memahami kehidupan yang telah dijalani.

Kematian sebagai Cermin Kehidupan

“Ivan Ilyich’s life had been most simple and most ordinary and therefore most terrible.”

Salah satu hal paling mengejutkan dari novel ini adalah bahwa Ivan Ilyich bukanlah orang jahat.

Ia tidak melakukan kejahatan besar. Ia tidak menjalani hidup yang penuh dosa atau kegagalan. Sebaliknya, ia melakukan hampir semua hal yang dianggap benar oleh masyarakat di sekitarnya.

Namun justru ketika kematian mendekat, kehidupan yang tampak biasa dan berhasil itu mulai terlihat berbeda.

Tolstoy menggunakan kematian sebagai cermin. Dari jarak yang aman, banyak pilihan hidup tampak masuk akal. Namun ketika seseorang menyadari bahwa waktunya terbatas, pertanyaan yang sebelumnya dapat diabaikan menjadi tidak mungkin dihindari.

Apa yang benar-benar penting?

Apa yang hanya tampak penting?

Dan apakah hidup yang telah dijalani selama ini sungguh bernilai?

Hidup yang Benar atau Hidup yang Dianggap Benar?

Sepanjang hidupnya, Ivan Ilyich berusaha melakukan apa yang dianggap pantas. Ia memilih karier yang baik, membangun reputasi yang baik, dan menjalani kehidupan yang sesuai dengan harapan masyarakat.

Masalahnya bukan karena pilihan-pilihan tersebut salah.

Masalahnya adalah Ivan jarang bertanya apakah pilihan tersebut benar-benar miliknya.

Ketika sakit, ia mulai menyadari bahwa sebagian besar hidupnya dijalani untuk memenuhi standar orang lain. Apa yang dianggap sukses. Apa yang dianggap terhormat. Apa yang dianggap layak.

Novel ini mengangkat pertanyaan yang kemudian menjadi tema utama dalam banyak pemikiran eksistensial:

Apakah kita menjalani hidup yang sungguh kita pilih?

Atau sekadar menjalani hidup yang diwariskan oleh lingkungan, keluarga, dan masyarakat di sekitar kita?

Penyangkalan terhadap Kematian

Bagi Ivan Ilyich, bagian tersulit bukanlah rasa sakit fisik.

Bagian tersulit adalah menerima bahwa dirinya benar-benar akan mati.

Ia mengetahui fakta tersebut secara intelektual. Semua orang tahu bahwa manusia akan mati. Namun mengetahui sesuatu dan sungguh mempercayainya adalah dua hal yang berbeda.

Sepanjang hidup, kematian selalu terasa seperti sesuatu yang terjadi pada orang lain.

Sampai suatu hari tidak lagi.

Tolstoy menggambarkan proses penyangkalan ini dengan ketelitian yang luar biasa. Ketakutan, kemarahan, tawar-menawar, dan keputusasaan muncul silih berganti saat Ivan berusaha mempertahankan dunia yang selama ini ia kenal.

Dalam banyak hal, novel ini menunjukkan sesuatu yang masih relevan hingga hari ini: manusia sering hidup seolah-olah kematian adalah pengecualian, padahal justru itulah satu-satunya kepastian yang kita miliki.

Belas Kasih dan Penerimaan

Di tengah penderitaannya, hanya sedikit orang yang benar-benar mampu menemani Ivan Ilyich.

Sebagian besar keluarga, dokter, dan rekan-rekannya lebih sibuk menjaga kenyamanan mereka sendiri. Mereka berbicara tentang penyakitnya, tetapi menghindari kenyataan bahwa ia sedang sekarat.

Satu pengecualian adalah Gerasim, pelayan muda yang merawatnya tanpa kepura-puraan.

Gerasim tidak mencoba menyangkal kematian. Ia tidak menawarkan jawaban besar. Ia hanya hadir.

Melalui tokoh ini, Tolstoy menunjukkan bahwa ketika semua pencapaian, status, dan ambisi kehilangan maknanya, yang tersisa sering kali adalah sesuatu yang jauh lebih sederhana: kejujuran, belas kasih, dan kemampuan untuk hadir bagi sesama manusia.

Menjelang akhir hidupnya, Ivan mulai memahami sesuatu yang selama ini luput dari dirinya.

Mungkin kehidupan yang baik tidak diukur oleh keberhasilan atau pengakuan.

Mungkin ia diukur oleh cara kita memperlakukan orang lain, dan oleh keberanian untuk menghadapi kenyataan sebagaimana adanya.

Nama yang Masih Dikenang

Lebih dari satu abad setelah diterbitkan, The Death of Ivan Ilyich tetap terasa mengganggu karena pertanyaan yang diajukannya tidak pernah benar-benar menjadi usang.

Sebagian besar dari kita tidak menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan kematian.

Kita sibuk bekerja, membangun karier, membayar tagihan, merencanakan masa depan, dan menyelesaikan berbagai urusan yang terasa mendesak. Hari demi hari berlalu dengan cara yang kurang lebih sama.

Ivan Ilyich melakukan hal yang serupa.

Itulah mengapa kisahnya mungkin terasa lebih relevan hari ini dibandingkan pada masa Tolstoy.

Kita hidup di dunia yang dipenuhi ukuran keberhasilan. Gelar pendidikan, jabatan pekerjaan, penghasilan, rumah, pencapaian, pengikut di media sosial, dan berbagai bentuk pengakuan lainnya sering menjadi cara kita menilai kehidupan, baik milik sendiri maupun milik orang lain.

Tidak ada yang salah dengan hal-hal tersebut.

Namun Tolstoy mengingatkan bahwa ada pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh pencapaian apa pun:

Apakah saya menjalani hidup yang sungguh saya pilih?

Apakah saya memberikan perhatian pada hal-hal yang benar-benar penting?

Dan jika hari ini adalah hari terakhir saya, apakah saya akan merasa telah menggunakan waktu yang diberikan dengan baik?

The Death of Ivan Ilyich tidak menawarkan resep untuk menjalani hidup yang bermakna.

Namun ia melakukan sesuatu yang mungkin lebih berharga.

Ia memaksa kita berhenti sejenak dan mengingat bahwa waktu kita terbatas.

Dan justru karena itulah cara kita menjalani hidup menjadi penting.

Bukan Kisah Kematian

Pada akhirnya, The Death of Ivan Ilyich bukanlah novel tentang kematian.

Ia adalah novel tentang kehidupan yang dilihat dari sudut pandang kematian.

The Death of Ivan Ilyich mengingatkan kita pada sesuatu yang sering terlupakan dalam kesibukan sehari-hari: waktu kita terbatas.

Karena itu pertanyaan tentang bagaimana menjalani hidup tidak pernah benar-benar bisa ditunda. Cepat atau lambat, setiap orang akan sampai pada momen ketika pencapaian, status, dan berbagai ukuran keberhasilan harus berhadapan dengan pertanyaan yang lebih sederhana:

Apakah hidup ini sungguh berarti?

Tolstoy tidak memberikan jawaban yang pasti.

Ia hanya mengingatkan bahwa pertanyaan tersebut layak diajukan sebelum semuanya terlambat.

Namun perjalanan sastra eksistensialis tidak berhenti di sana.

Setelah Tolstoy mengajak kita menghadapi kematian, Franz Kafka akan membawa kita ke persoalan yang berbeda: bagaimana jika dunia itu sendiri tidak pernah memberikan penjelasan?

Karena dalam dunianya, bukan kematian yang paling menakutkan.

Melainkan hidup dalam situasi yang tidak dapat dipahami.

>> Lanjut ke The Trial

Tonton Video Terkait: