Simone de Beauvoir: Menjadi Perempuan

Di kafe-kafe Saint-Germain-des-Prés, para filsuf berbicara tentang kebebasan, pilihan, dan makna hidup. Seringkali menjadi satu-satunya perempuan di ruangan, Simone de Beauvoir mendengarkan, lalu mengajukan pertanyaan yang mengubah arah filsafat abad ke-20: jika manusia itu bebas, mengapa perempuan masih hidup di bawah aturan yang dibuat oleh orang lain?

Pada 5 April 1971, Simone de Beauvoir menandatangani sebuah pengakuan yang dapat membuatnya dipenjara.

Namanya muncul bersama 343 perempuan lain dalam sebuah manifesto yang diterbitkan majalah Le Nouvel Observateur. Mereka secara terbuka menyatakan bahwa mereka pernah melakukan aborsi, tindakan yang saat itu masih dianggap kejahatan di Prancis.

Manifesto itu tidak meminta pengampunan.

Tapi menuntut perubahan.

Bagi banyak orang, tindakan tersebut terasa mengejutkan. Beauvoir saat itu sudah menjadi salah satu intelektual paling terkenal di Eropa. Ia bisa saja tetap menulis dari kejauhan, mengamati perdebatan publik dari meja kerjanya. Namun seperti yang sering terjadi sepanjang hidupnya, ia memilih terlibat secara langsung.

Keputusan itu bukanlah tindakan spontan.

Ia merupakan puncak dari puluhan tahun pemikiran, pengalaman, dan perlawanan terhadap berbagai peran yang sejak kecil berusaha dipaksakan kepadanya: sebagai perempuan, sebagai anak perempuan Katolik yang taat, sebagai calon istri, dan sebagai warga masyarakat yang diharapkan menerima dunia sebagaimana adanya.

Dua puluh tahun sebelumnya, Beauvoir telah mengguncang dunia intelektual melalui Le Deuxième Sexe (The Second Sex). Dalam buku itu ia mengajukan pertanyaan yang sederhana sekaligus radikal:

Mengapa sepanjang sejarah, perempuan hampir selalu diperlakukan sebagai “The Other”—didefinisikan bukan sebagai dirinya sendiri, melainkan melalui hubungannya dengan laki-laki?

Pertanyaan tersebut tidak lahir dari ruang kuliah semata.

Ia lahir dari kehidupan yang dijalani Beauvoir sendiri.

Dan untuk memahami bagaimana seorang perempuan dari keluarga Katolik konservatif dapat menjadi salah satu pemikir paling berpengaruh abad ke-20, kita harus kembali ke Paris beberapa dekade sebelumnya.

Ke masa ketika Simone de Beauvoir masih seorang gadis muda yang mulai menyadari bahwa dunia telah menulis naskah hidupnya jauh sebelum ia sempat memilih sendiri.

Awal Pemberontakan

Jauh sebelum menjadi salah satu intelektual paling berpengaruh abad ke-20, Simone de Beauvoir adalah seorang gadis yang terus-menerus mengajukan pertanyaan yang tidak disukai orang dewasa.

Ia lahir di Paris pada 9 Januari 1908 dalam keluarga Katolik kelas menengah yang masih memegang teguh nilai-nilai tradisional. Seperti banyak perempuan pada zamannya, masa depannya tampak sudah ditentukan: pendidikan yang baik, pernikahan yang baik, lalu kehidupan yang baik sebagai istri dan ibu.

Namun Beauvoir tidak pernah benar-benar menerima naskah itu.

Pada usia empat belas tahun, ia kehilangan keyakinan agamanya dan memutuskan bahwa Tuhan tidak lagi memiliki tempat dalam hidupnya. Keputusan itu menjadi tindakan pembangkangan filosofis pertamanya. Sejak saat itu, kebebasan dan tanggung jawab manusia akan menjadi pusat dari hampir semua hal yang ia pikirkan.

Tetapi pengaruh terbesar dalam masa mudanya bukan datang dari filsuf atau buku.

Melainkan dari seorang sahabat bernama Élisabeth Lacoin, yang akrab dipanggil Zaza.

Mereka bertemu ketika masih anak-anak dan segera menjadi tidak terpisahkan. Beauvoir mengagumi kecerdasan, keberanian, dan semangat hidup Zaza. Bersama-sama mereka membayangkan kehidupan yang lebih luas daripada batas-batas yang disediakan masyarakat bagi perempuan muda Prancis pada masa itu.

Namun jalan hidup mereka perlahan mulai berbeda.

Beauvoir menemukan ruang untuk mengejar pendidikan dan kemandirian intelektual. Zaza tetap terikat oleh tuntutan keluarga Katolik konservatif yang mengharapkannya menjalani kehidupan sesuai aturan yang telah ditentukan.

Tekanan itu semakin berat ketika Zaza dipaksa mengorbankan keinginan dan pilihan hidupnya sendiri demi memenuhi harapan keluarganya.

Pada tahun 1929, Zaza meninggal pada usia dua puluh satu tahun.

Beauvoir tidak pernah benar-benar menerima penjelasan bahwa sahabatnya meninggal karena penyakit. Bertahun-tahun kemudian ia menyebut kematian itu sebagai “pembunuhan oleh lingkungannya.”

Bagi Beauvoir, Zaza menjadi simbol dari sesuatu yang lebih besar: seorang perempuan berbakat yang dihancurkan bukan oleh kelemahan pribadinya, melainkan oleh tuntutan sosial yang menolak memberinya kebebasan untuk menentukan hidupnya sendiri.

Pengalaman itu meninggalkan luka yang tidak pernah sepenuhnya sembuh.

Dan dari luka itulah lahir salah satu keyakinan paling mendasar dalam seluruh pemikiran Beauvoir: tidak seorang pun boleh dipaksa menjalani kehidupan yang dipilihkan oleh orang lain.

Elizabeth “Zaza” Lacoin and Simone de Beauvoir in 1928

Keyakinan itu ia bawa ke Sorbonne, tempat ia mempelajari filsafat, sastra, dan matematika. Kecerdasannya segera menarik perhatian para dosen dan mahasiswa lain. Pada tahun 1929, Beauvoir mengikuti agrégation filsafat, ujian paling bergengsi dalam dunia akademik Prancis.

Ia baru berusia dua puluh satu tahun.

Ketika hasil diumumkan, Beauvoir menjadi perempuan termuda yang pernah lulus ujian tersebut. Hanya satu orang yang memperoleh nilai lebih tinggi darinya: seorang mahasiswa eksentrik bernama Jean-Paul Sartre.

Beauvoir berada di peringkat kedua.

Sartre berada di peringkat pertama.

Dan sejak saat itu, filsafat Prancis tidak akan pernah sama lagi.

Jiwa yang Bebas

Pertemuan Beauvoir dan Sartre segera berkembang menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan intelektual.

Mereka sama-sama ambisius, sama-sama brilian, dan sama-sama tidak puas dengan aturan hidup yang dianggap wajar pada zamannya. Di tengah budaya Prancis yang masih menempatkan pernikahan sebagai tujuan utama perempuan, Beauvoir membayangkan kemungkinan lain.

Mereka menjalin hubungan yang akan berlangsung lebih dari lima puluh tahun, tetapi menolak banyak bentuk komitmen tradisional. Sartre dan Beauvoir menyebut satu sama lain sebagai essential love—hubungan utama yang menjadi pusat kehidupan mereka—sambil tetap membuka ruang bagi hubungan lain di luar itu.

Bagi mereka, kesetiaan tidak diukur melalui eksklusivitas, melainkan kejujuran.

Pilihan tersebut sering menimbulkan kontroversi dan tidak selalu berjalan tanpa rasa sakit. Surat-surat dan catatan harian Beauvoir menunjukkan bahwa kebebasan yang mereka perjuangkan terkadang juga membawa kecemburuan, kesepian, dan keraguan.

Dalam sebuah surat kepada Sartre pada tahun 1947, Beauvoir menulis:

Di balik sosok yang kelak dikenal sebagai salah satu pemikir paling radikal abad ke-20, tersimpan kerinduan yang sangat manusiawi: keinginan akan kesederhanaan di dalam hubungan yang sengaja dibangun di atas kebebasan dan kompleksitas.

Namun Beauvoir tidak pernah menjadikan kerinduan itu sebagai alasan untuk meninggalkan keyakinannya.

Ketika Sartre pernah mengusulkan pernikahan, ia menolaknya. Baginya, pernikahan bukan sekadar hubungan pribadi, melainkan institusi sosial yang terlalu sering membatasi kebebasan perempuan. Ia tidak ingin didefinisikan sebagai istri seseorang, bahkan jika orang itu adalah Sartre.

Hubungan mereka jauh dari sempurna. Namun selama puluhan tahun mereka terus membaca karya satu sama lain, memperdebatkan ide-ide baru, dan saling memengaruhi dalam hampir setiap tahap kehidupan intelektual mereka.

Bagi Beauvoir, cinta bukanlah bentuk kepemilikan.

Cinta adalah pilihan yang harus terus diperbarui.

Pada saat banyak perempuan seusianya masih diharapkan memilih antara pernikahan atau pekerjaan, Simone de Beauvoir sedang membangun sesuatu yang jauh lebih tidak lazim: kehidupan sebagai seorang intelektual publik. Ia sering menjadi satu-satunya perempuan di antara lingkaran filsuf, penulis, dan jurnalis yang memenuhi kafe-kafe Saint-Germain-des-Prés.

Dengan rambut yang selalu ditata sederhana, mantel wol panjang, rokok Gauloises di tangan, dan ketenangan yang khas, Beauvoir menghadapi perdebatan-perdebatan panjang dengan ketajaman yang membuat banyak lawan bicaranya berhati-hati. Ia tidak berbicara paling keras di ruangan itu. Ia tidak perlu.

Di tengah berkembangnya eksistensialisme, Beauvoir mulai memperhatikan sesuatu yang belum sepenuhnya dijelaskan oleh filsafat di sekelilingnya.

Sartre berbicara tentang kebebasan manusia.

Tetapi apakah semua manusia benar-benar memiliki kebebasan yang sama?

Bagaimana dengan mereka yang lahir miskin? Mereka yang hidup di bawah penjajahan? Mereka yang dibatasi oleh norma sosial, agama, atau jenis kelamin mereka?

Pertanyaan-pertanyaan itu semakin sering muncul dalam pengamatannya terhadap kehidupan sehari-hari. Ia melihat perempuan-perempuan cerdas yang didorong untuk mengorbankan ambisi mereka demi pernikahan. Ia melihat bagaimana perempuan sering diperlakukan bukan sebagai individu yang utuh, melainkan sebagai pelengkap kehidupan laki-laki.

Semakin lama, Beauvoir merasa bahwa kebebasan eksistensial saja tidak cukup.

Seseorang mungkin bebas secara filosofis.

Namun kebebasan itu sulit diwujudkan ketika dunia terus-menerus membatasi pilihan yang tersedia baginya.

Dari sinilah arah pemikiran Beauvoir mulai bergerak ke jalannya sendiri.

Hidup Dalam Ambiguitas

Seiring berkembangnya karier intelektualnya, Beauvoir semakin menemukan suaranya sendiri. Ia tertarik pada filsafat, tetapi tidak pernah merasa nyaman dengan pemisahan yang terlalu kaku antara teori dan kehidupan nyata. Karena itu, banyak gagasannya justru muncul melalui novel, memoar, esai, dan pengamatan terhadap pengalaman sehari-hari.

Karya-karya awalnya sudah menunjukkan arah tersebut.

Novel She Came to Stay (L’Invitée, 1943) mengeksplorasi tema-tema yang akan terus muncul dalam seluruh pemikirannya: kebebasan, hasrat, kecemburuan, dan hubungan yang rumit antara diri sendiri dan orang lain. Bagi Beauvoir, identitas bukan sesuatu yang tetap. Ia selalu terbentuk melalui perjumpaan dengan orang lain.

Tema serupa muncul kembali dalam The Blood of Others (Le Sang des Autres, 1945), yang berlatar Prancis di bawah pendudukan Nazi. Di sana Beauvoir mengajukan pertanyaan yang akan menjadi semakin penting baginya: apa arti kebebasan jika pilihan-pilihan kita memengaruhi kehidupan orang lain?

Pertanyaan itu menemukan bentuk filosofisnya yang paling jelas dalam The Ethics of Ambiguity (1947).

Dalam buku tersebut, Beauvoir mengembangkan salah satu gagasan paling khas dalam seluruh pemikirannya: ambiguitas. Menurutnya, manusia selalu hidup di antara berbagai ketegangan yang tidak dapat diselesaikan sepenuhnya. Kita bebas, tetapi juga dibatasi keadaan. Kita adalah subjek yang membuat pilihan, tetapi sekaligus objek yang dipengaruhi oleh dunia di sekitar kita. Kita ingin mandiri, tetapi tidak pernah bisa hidup sepenuhnya sendirian.

Bagi Beauvoir, ambiguitas bukan masalah yang harus dihilangkan.

Ia adalah kondisi dasar kehidupan manusia.

Dari sinilah lahir visi etikanya. Kebebasan bukan sekadar kemampuan untuk memilih. Kebebasan adalah tanggung jawab untuk menggunakan pilihan itu secara bermakna di dunia yang juga dihuni orang lain.

Karena itu, kebebasan tidak pernah benar-benar bersifat individual.

Kalimat sederhana ini menjadi inti dari filsafat Beauvoir. Kita tidak menciptakan makna hidup dalam isolasi. Kita melakukannya bersama orang lain, di dalam dunia yang sama, dengan peluang dan keterbatasan yang sering kali tidak setara.

Gagasan tersebut sebenarnya sudah mulai muncul dalam esai awalnya, Pyrrhus et Cinéas (1944), ketika ia bertanya: tujuan hidup seperti apa yang layak diperjuangkan? Harapan apa yang dapat kita miliki? Dan bagaimana manusia harus hidup ketika tidak ada makna yang telah ditentukan sebelumnya?

Jawaban Beauvoir selalu mengarah ke tempat yang sama.

Manusia memang harus menciptakan maknanya sendiri.

Namun makna itu tidak pernah lahir sendirian.

Ia lahir melalui hubungan kita dengan orang lain, dan melalui tanggung jawab yang muncul dari hubungan tersebut.

Simone de Beauvoir interviewed by French journalists in early 1970

Menjadi Perempuan

Semua pertanyaan yang telah menemani Beauvoir sejak masa mudanya akhirnya bertemu dalam satu karya besar.

Pada tahun 1949, ia menerbitkan Le Deuxième Sexe (The Second Sex), sebuah buku yang mengubah cara dunia memahami perempuan. Menggabungkan filsafat, sejarah, sastra, psikologi, biologi, dan pengalaman hidup sehari-hari, Beauvoir berusaha menjawab satu pertanyaan sederhana:

Mengapa perempuan hampir selalu ditempatkan sebagai pihak kedua dalam sejarah manusia?

Jawabannya terkenal hingga hari ini.

Seseorang tidak dilahirkan sebagai perempuan.

Seseorang menjadi perempuan.

“One is not born, but rather becomes, a woman.”

simone de beauvoir

Dengan kalimat itu, Beauvoir menantang gagasan bahwa peran perempuan ditentukan secara alami oleh biologi atau takdir. Apa yang dianggap “kodrat perempuan”, menurutnya, sering kali merupakan hasil dari proses sosial yang berlangsung selama berabad-abad.

Perempuan diajarkan bagaimana harus berpikir, bertindak, mencintai, bekerja, bahkan bermimpi.

Mereka dibentuk.

Mereka tidak sekadar dilahirkan.

Beauvoir menunjukkan bagaimana sejarah, agama, pendidikan, sastra, dan budaya secara konsisten menempatkan laki-laki sebagai ukuran utama kemanusiaan. Laki-laki menjadi subjek. Perempuan menjadi “yang lain” (the Other), didefinisikan melalui hubungannya dengan laki-laki, bukan melalui dirinya sendiri.

Namun The Second Sex bukanlah buku tentang korban.

Ia adalah buku tentang kebebasan.

Beauvoir percaya bahwa perempuan, seperti semua manusia, tetap memiliki kapasitas untuk memilih, melawan, dan mendefinisikan dirinya sendiri. Kebebasan mungkin dibatasi oleh keadaan, tetapi tidak pernah sepenuhnya dihapuskan.

Karena itulah perubahan tidak hanya membutuhkan kesadaran individu, tetapi juga perubahan sosial yang memungkinkan kebebasan tersebut benar-benar dijalankan.

Ketika pertama kali diterbitkan, buku itu memicu kontroversi besar. Vatikan memasukkannya ke dalam daftar buku terlarang. Banyak kritikus laki-laki menuduhnya tidak bermoral, berbahaya, atau berlebihan.

Namun bagi banyak perempuan, The Second Sex memberikan sesuatu yang belum pernah mereka temukan sebelumnya:

bahasa untuk menjelaskan pengalaman hidup mereka sendiri.

Dalam dekade-dekade berikutnya, buku tersebut menjadi salah satu fondasi terpenting gerakan feminisme modern. Gagasannya tentang gender, kebebasan, dan penindasan memengaruhi generasi aktivis, akademisi, dan penulis di seluruh dunia.

Bagi Beauvoir sendiri, buku itu bukanlah akhir dari sebuah perjalanan intelektual.

Ia justru menjadi awal dari keterlibatan yang lebih besar.

Pada tahun-tahun berikutnya, Beauvoir semakin aktif dalam berbagai isu politik dan sosial. Ia menentang kolonialisme Prancis di Aljazair, mendukung berbagai gerakan kiri, dan memperjuangkan hak-hak perempuan secara lebih terbuka.

Pada tahun 1971, ia menandatangani Manifesto 343, sebuah deklarasi publik yang mengakui bahwa para penandatangan pernah melakukan aborsi ilegal. Tindakan tersebut berisiko membawa konsekuensi hukum, tetapi bagi Beauvoir, isu itu menyentuh prinsip yang sama yang telah ia perjuangkan sepanjang hidupnya:

hak setiap manusia untuk menentukan hidupnya sendiri.

Tema serupa terus muncul dalam karya-karya berikutnya. Dalam The Coming of Age (1970), ia mengkritik cara masyarakat memperlakukan orang lanjut usia. Dalam memoar-memoarnya, ia menelusuri bagaimana identitas seseorang terbentuk melalui pilihan, pengalaman, dan hubungan dengan orang lain.

Topiknya berubah.

Namun pertanyaannya tetap sama.

Bagaimana seseorang dapat hidup sebagai subjek bagi kehidupannya sendiri, alih-alih menjadi objek dari harapan dan definisi yang dibuat orang lain?

Menolak untuk Tunduk

Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, Simone de Beauvoir menyaksikan sesuatu yang sulit dibayangkan ketika ia mulai menulis beberapa dekade sebelumnya.

Gagasan-gagasannya telah menyebar jauh melampaui kafe-kafe Paris. Generasi baru perempuan mulai mempertanyakan peran yang selama berabad-abad dianggap alamiah. Di universitas, ruang kerja, organisasi politik, dan gerakan sosial di berbagai belahan dunia, The Second Sex menjadi bacaan yang membentuk cara baru memahami kebebasan, identitas, dan ketidaksetaraan.

Namun seperti banyak pemikir besar lainnya, pengakuan terhadap kontribusinya datang perlahan.

Selama bertahun-tahun Beauvoir sering dipandang terutama sebagai pasangan Jean-Paul Sartre. Baru setelah kematiannya, semakin banyak filsuf dan sejarawan yang mulai menempatkan karyanya sebagai pencapaian intelektual yang berdiri sendiri. Kini ia diakui sebagai salah satu tokoh terpenting dalam eksistensialisme, etika modern, dan filsafat feminis.

Warisannya tidak terletak pada satu teori tunggal.

Ia mengajarkan bahwa kebebasan selalu hidup di dalam situasi yang nyata. Bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya bebas, tetapi juga tidak pernah sepenuhnya ditentukan oleh keadaan. Bahwa identitas bukan takdir, melainkan sesuatu yang terus dibentuk melalui pilihan, hubungan, dan tindakan.

Dan mungkin yang paling penting, ia menunjukkan bahwa filsafat tidak harus berjarak dari kehidupan.

Ia dapat lahir dari persahabatan. Dari cinta. Dari kehilangan. Dari pekerjaan sehari-hari. Dari tubuh. Dari pengalaman menjadi manusia di dunia yang tidak selalu adil.

Beauvoir sendiri penuh dengan kontradiksi yang tidak pernah berusaha ia sembunyikan.

Perempuan yang memperjuangkan emansipasi perempuan itu tetap bergulat dengan cinta, kecemburuan, dan kesepian. Pemikir yang berbicara tentang kebebasan itu tetap hidup di tengah keterbatasan zamannya. Filsuf yang menulis tentang ambiguitas justru menjalani hidup yang membuktikan bahwa ambiguitas tidak pernah benar-benar dapat dihilangkan.

Namun mungkin di situlah letak kekuatan pemikirannya.

Hidup, menurut Beauvoir, bukanlah sesuatu yang harus diselesaikan.

Tapi harus dijalani.

Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, Beauvoir sering terlihat di Pemakaman Montparnasse. Ia duduk berjam-jam di dekat makam Sartre. Terkadang membawa buku. Terkadang hanya diam. Para pengunjung yang melewatinya mungkin tidak menyadari bahwa perempuan tua dengan mantel dan syal itu adalah orang yang telah membantu mengubah cara dunia memahami kebebasan, cinta, dan identitas.

Ketika Beauvoir meninggal pada tahun 1986, ia dimakamkan di samping Sartre.

Namun warisannya tidak pernah tinggal di sana.

Ia hidup di setiap orang yang berani mempertanyakan peran yang diberikan kepadanya. Di setiap perempuan yang menolak didefinisikan oleh orang lain. Di setiap manusia yang berusaha membentuk hidupnya sendiri di tengah dunia yang penuh batasan.

Simone de Beauvoir tidak menawarkan jawaban yang sederhana.

Ia menawarkan sesuatu yang lebih menuntut:

keberanian untuk menjadi diri sendiri.

Penuh ambiguitas, penuh kebebasan.

“One’s life has value so long as one attributes value to the life of others, by means of love, friendship, indignation, compassion.”

simone de beauvoir
>> Lanjut ke Albert Camus
Tonton Video Terkait