Osamu Dazai

“Now I have neither happiness nor unhappiness. Everything passes.”
Sepanjang hidupnya, Ōba Yōzō merasa tidak pernah memahami bagaimana manusia hidup. Ia takut pada orang lain, takut dihakimi, dan takut memperlihatkan siapa dirinya sebenarnya. Maka ia memilih jalan yang tampak lebih aman: memakai topeng, membuat orang tertawa, dan menjadi pribadi yang diharapkan semua orang.
Namun semakin lama ia memainkan peran tersebut, semakin kabur batas antara topeng dan wajahnya sendiri.
Melalui No Longer Human, Osamu Dazai tidak sekadar menulis kisah tentang kesedihan atau keterasingan.
Ia mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mengganggu.
Apa yang terjadi ketika seseorang menghabiskan seluruh hidupnya menjadi orang lain, hingga akhirnya tidak lagi tahu siapa dirinya sendiri?
Ketika Sebuah Dunia Kehilangan Pijakan
No Longer Human diterbitkan pada tahun 1948, hanya tiga tahun setelah Jepang menyerah dalam Perang Dunia Kedua.
Kekalahan itu bukan sekadar peristiwa militer. Ia mengguncang fondasi cara masyarakat Jepang memahami diri mereka sendiri. Untuk pertama kalinya, Kaisar Hirohito secara terbuka menyatakan bahwa dirinya bukan sosok ilahi. Sebuah keyakinan yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari identitas nasional runtuh dalam waktu singkat.
Bagi banyak orang, bukan hanya negaranya yang berubah.
Cara mereka memandang dunia pun ikut berubah.
Di tengah kekosongan itu lahir sekelompok penulis yang kemudian dikenal sebagai Buraiha atau The Decadent School. Mereka menolak optimisme kosong, baik dari nasionalisme yang baru saja runtuh maupun modernisasi yang datang bersama Jepang pascaperang. Melalui karya-karya mereka, yang dicari bukan jawaban, melainkan kejujuran tentang rasa kehilangan, keterasingan, dan kebingungan menjadi manusia di dunia yang tiba-tiba terasa asing.
Osamu Dazai adalah salah satu suara terpenting dari generasi tersebut.
Namun No Longer Human bukanlah novel tentang perang.
Bahkan perang hampir tidak muncul di dalamnya.
Krisis yang digambarkan Dazai jauh lebih sunyi. Ia bukan hanya krisis sebuah bangsa, melainkan krisis seorang individu yang tidak pernah merasa benar-benar memiliki tempat di antara sesama manusia.
Mungkin itulah sebabnya novel ini tetap terasa relevan hingga hari ini.
Karena cepat atau lambat, banyak orang pernah mengalami momen ketika dunia di sekelilingnya berubah, sementara pertanyaan yang paling sulit justru datang dari dalam dirinya sendiri:
Siapa saya, sebenarnya?
Seorang Penulis yang Terus Memakai Topeng
Sulit memisahkan No Longer Human dari kehidupan Osamu Dazai.
Lahir pada tahun 1909 dari keluarga kaya dan berpengaruh di Jepang utara, Dazai sejak muda merasa tidak pernah benar-benar cocok dengan dunia di sekelilingnya. Di hadapan keluarganya ia memainkan peran sebagai anak yang baik. Di hadapan teman-temannya ia menjadi sosok yang jenaka dan mudah bergaul. Namun di balik semua itu, ia terus bergulat dengan perasaan asing terhadap dirinya sendiri.
Sepanjang hidupnya, Dazai berpindah-pindah antara berbagai identitas. Ia terlibat dalam gerakan politik, menekuni sastra, bergulat dengan kecanduan alkohol dan obat-obatan, beberapa kali mencoba mengakhiri hidupnya, serta menjalani hubungan-hubungan yang rumit. Tidak ada satu pun yang benar-benar memberinya rasa memiliki.
Menulis menjadi satu-satunya tempat di mana ia dapat berbicara tanpa topeng.
Itulah sebabnya banyak pembaca melihat No Longer Human sebagai karya yang paling dekat dengan kehidupan Dazai sendiri. Tokoh Ōba Yōzō memang memiliki begitu banyak kemiripan dengannya. Namun novel ini bukan sekadar autobiografi.
Ia adalah upaya seorang penulis untuk memahami pengalaman yang jauh lebih universal: bagaimana rasanya hidup ketika kita terus berusaha menjadi pribadi yang diharapkan orang lain, hingga perlahan kehilangan hubungan dengan diri sendiri.
Beberapa bulan setelah No Longer Human diterbitkan, Dazai mengakhiri hidupnya pada usia tiga puluh delapan tahun.
Namun warisan yang ia tinggalkan jauh melampaui kisah hidupnya.
Karena yang membuat novel ini terus dibaca bukanlah cara Dazai meninggal.
Melainkan kejujurannya dalam menggambarkan sesuatu yang sering disembunyikan banyak orang: ketakutan bahwa di balik semua peran yang kita mainkan, mungkin kita sendiri sudah tidak lagi mengenal siapa diri kita.

Seorang Pria yang Tidak Pernah Merasa Menjadi Dirinya Sendiri
No Longer Human diceritakan melalui tiga buku catatan milik Ōba Yōzō, seorang pria yang sejak kecil merasa tidak memahami cara manusia hidup.
Ia tidak mengerti mengapa orang-orang berbohong, menjaga sopan santun, atau menyembunyikan perasaan mereka. Dunia terasa seperti sebuah panggung dengan aturan yang tidak pernah berhasil ia pelajari.
Agar dapat bertahan, Yōzō memilih satu cara.
Ia memakai topeng.
Ia menjadi anak yang menyenangkan, teman yang lucu, dan sosok yang selalu mampu membuat orang lain tertawa. Di balik semua itu, ia menyembunyikan ketakutan yang terus tumbuh bahwa jika orang lain melihat dirinya yang sebenarnya, mereka tidak akan pernah menerimanya.
Semakin dewasa, topeng itu justru semakin melekat. Hubungan-hubungannya dipenuhi kepura-puraan. Ia mencari pelarian melalui alkohol, obat-obatan, dan berbagai keputusan yang perlahan menghancurkan hidupnya. Namun tidak satu pun mampu menghilangkan perasaan bahwa dirinya selalu menjadi orang asing, bahkan bagi dirinya sendiri.
Perlahan, Yōzō kehilangan kemampuan untuk membedakan mana kehidupan yang sungguh ia pilih dan mana kehidupan yang selama ini hanya ia mainkan.
Melalui perjalanan tokohnya, Dazai tidak berusaha menjelaskan mengapa seseorang dapat kehilangan arah.
Ia mengajak pembaca merasakan bagaimana rasanya hidup ketika seseorang begitu lama menyesuaikan diri dengan harapan orang lain, hingga akhirnya tidak lagi mengenali dirinya sendiri.
Topeng yang Perlahan Menjadi Wajah
Sejak kecil, Yōzō merasa dirinya berbeda dari orang lain.
Ia tidak memahami cara manusia berhubungan, sehingga memilih satu cara untuk bertahan: membuat semua orang tertawa.
Humor menjadi topengnya.
Semakin berhasil topeng itu bekerja, semakin sulit baginya memperlihatkan dirinya yang sebenarnya.
Dazai menunjukkan bahwa kepura-puraan tidak selalu lahir dari niat untuk menipu.
Kadang seseorang berpura-pura justru karena takut tidak akan diterima jika tampil apa adanya.
Namun setiap topeng yang terus dipakai memiliki harga.
Lama-kelamaan, kita sendiri mulai lupa siapa yang sebenarnya berada di baliknya.
Ketika Kita Tidak Lagi Mengenali Diri Sendiri
“Disqualified as a human being. I had now ceased utterly to be a human being.”
Kalimat ini bukan sekadar ungkapan putus asa.
Ia adalah puncak dari kehidupan yang terlalu lama dijalani sebagai sebuah peran.
Sedikit demi sedikit, Yōzō kehilangan kemampuan untuk membedakan mana dirinya yang sebenarnya dan mana pribadi yang selama ini ia tampilkan demi memenuhi harapan orang lain.
Yang hilang bukan hanya kebahagiaan.
Melainkan identitas.
Melalui Yōzō, Dazai mengingatkan bahwa kehilangan diri sering kali tidak terjadi dalam satu peristiwa besar.
Ia terjadi perlahan, setiap kali kita mengorbankan kejujuran demi penerimaan, hingga pada suatu hari kita tidak lagi mengenali siapa orang yang sedang kita lihat di dalam cermin.
Hidup Melalui Tatapan Orang Lain
“The one thing I must avoid is becoming offensive in their eyes: I shall be nothing, the wind, the sky.”
Yōzō hampir tidak pernah mengambil keputusan berdasarkan apa yang benar-benar ia inginkan.
Yang paling ia takutkan bukanlah kegagalan atau kesepian.
Ia takut membuat orang lain tidak menyukainya.
Karena itu, hampir seluruh hidupnya dihabiskan untuk menyesuaikan diri dengan harapan orang lain. Ia belajar menjadi lucu, menyenangkan, dan tidak mengganggu. Ia lebih memilih menghilangkan dirinya sendiri daripada mengambil risiko ditolak.
Dazai menunjukkan bahwa salah satu bentuk keterasingan yang paling dalam bukanlah terpisah dari masyarakat.
Melainkan hidup sepenuhnya melalui tatapan orang lain.
Ketika penerimaan menjadi tujuan utama, perlahan kita berhenti bertanya apakah kehidupan yang sedang kita jalani benar-benar milik kita sendiri.
Keberanian Menjadi Diri Sendiri
No Longer Human sering dibaca sebagai novel tentang depresi, keterasingan, atau tragedi hidup Osamu Dazai.
Semua itu memang ada di dalamnya.
Namun pertanyaan yang ditinggalkan Dazai sebenarnya jauh lebih dekat dengan kehidupan banyak orang.
Berapa banyak dari diri kita yang benar-benar merupakan pilihan kita sendiri?
Dan berapa banyak yang lahir dari keinginan untuk diterima, disukai, atau memenuhi harapan orang lain?
Mungkin menjadi diri sendiri tidak selalu membuat hidup lebih mudah.
Namun tanpa keberanian itu, kita berisiko menjalani kehidupan yang terasa asing, bahkan ketika melihat bayangan kita sendiri.
Namun perjalanan pencarian ini belum berakhir.
Jika Dazai mempertanyakan mengapa seseorang dapat merasa kehilangan dirinya sendiri, Philip K. Dick akan membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar.
Bagaimana jika suatu hari ada sesuatu yang berpikir seperti manusia, mencintai seperti manusia, bahkan menderita seperti manusia…Tetapi bukan manusia.
Lalu apa sebenarnya yang membuat seseorang layak disebut manusia?
>> Lanjut ke Do Androids Dream of Electric Sheeps?
Tonton Video Terkait:
