Seno Gumira Ajidarma

Manusia itu bebas,
atau ditentukan kodrat?
Dari dasar lautan,
Wisanggeni Sang Buronan,
menyerbu kahyangan
mencari jawab.
Ada pertanyaan yang telah mengikuti manusia selama ribuan tahun.
Apakah kita benar-benar bebas?
Ataukah kehidupan kita, seperti kisah dalam sebuah buku, sebenarnya telah memiliki akhir yang tidak dapat kita ubah?
Berbagai karya sastra dunia, mulai dari Dostoevsky hingga Milan Kundera, mencoba menjawab pertanyaan itu melalui tokoh-tokoh yang mereka ciptakan.
Namun salah satu renungan yang paling membekas justru datang dari tempat yang jauh lebih dekat.
Bukan dari ruang bawah tanah di Rusia.
Bukan dari jalanan Praha.
Melainkan dari dunia wayang yang telah hidup berabad-abad dalam budaya Nusantara.
Melalui Wisanggeni Sang Buronan, Seno Gumira Ajidarma mengangkat pertanyaan yang sama dengan bahasa yang berbeda.
Wisanggeni lahir dengan satu pengetahuan yang tidak dimiliki manusia lain.
Ia mengetahui bahwa hidupnya tidak akan panjang. Bahkan sebelum sempat memilih jalan hidupnya sendiri, para dewa telah menentukan bagaimana kisahnya akan berakhir.
Ia marah.
Ia memberontak.
Ia mempertanyakan langit.
Namun semakin jauh perjalanannya, Wisanggeni menemukan sesuatu yang tidak pernah ia duga.
Mungkin kebebasan bukan berarti mampu mengubah akhir cerita.
Mungkin kebebasan adalah bagaimana kita memilih menjalani setiap halaman sebelum akhirnya tiba.
Kebijaksanaan yang Hidup dalam Cerita
Selama berabad-abad, tradisi filsafat Barat berkembang melalui karya-karya para pemikir yang menyampaikan gagasannya lewat dialog, esai, dan buku. Di Nusantara, perjalanan itu mengambil bentuk yang berbeda.
Banyak renungan tentang kehidupan tidak lahir sebagai sistem filsafat yang tertulis, melainkan hidup di dalam cerita. Wayang, hikayat, tembang, hingga sastra menjadi ruang tempat berbagai generasi mewariskan pertanyaan dan kebijaksanaan tentang kepemimpinan, keberanian, keadilan, kesetiaan, hingga makna kehidupan.
Wayang sendiri telah lama melampaui fungsinya sebagai pertunjukan. Selama berabad-abad, ia menjadi medium untuk menyampaikan nilai-nilai kepada masyarakat. Dari kearifan lokal kerajaan-kerajaan Jawa, hingga kemudian menjadi sarana dakwah pada masa penyebaran Islam, wayang terus beradaptasi mengikuti zamannya, tanpa kehilangan perannya sebagai ruang refleksi tentang manusia.
Karena itu, ketika Seno Gumira Ajidarma memilih Wisanggeni sebagai tokoh utama novelnya, ia sebenarnya sedang melanjutkan sebuah tradisi yang telah berlangsung sangat lama. Ia menggunakan kisah wayang bukan sekadar untuk menghidupkan kembali Mahabharata, melainkan untuk berbicara kepada Indonesia modern.
Wisanggeni Sang Buronan diterbitkan pada tahun 2000, tidak lama setelah Reformasi 1998, ketika Indonesia sedang memasuki babak baru kebebasan berekspresi setelah puluhan tahun hidup di bawah pemerintahan Orde Baru.
Pada masa itu, sastra menjadi salah satu ruang penting untuk mempertanyakan kekuasaan. Melalui metafora, alegori, dan tokoh-tokoh fiksi, para penulis mengangkat pertanyaan tentang kebebasan, keadilan, dan martabat manusia dengan cara yang sering kali mampu menjangkau persoalan yang melampaui kritik politik itu sendiri.
Seno Gumira Ajidarma adalah salah satu suara paling penting dalam tradisi tersebut.
Namun dalam Wisanggeni Sang Buronan, ia melangkah lebih jauh daripada sekadar berbicara tentang Indonesia pasca-Reformasi.
Ia mengingatkan bahwa sastra bukan hanya tempat sebuah masyarakat mengkritik zamannya.
Sastra juga menjadi tempat sebuah kebudayaan menyimpan dan mewariskan kebijaksanaannya dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Seorang Pencerita yang Melawan Zamannya
Seno Gumira Ajidarma lahir pada tahun 1958 dan dikenal sebagai salah satu sastrawan Indonesia paling berpengaruh pada era modern. Sebelum dikenal luas sebagai novelis, ia lebih dahulu membangun reputasinya sebagai wartawan yang kritis terhadap kekuasaan.
Pada masa Orde Baru, ketika kebebasan pers dibatasi dan berbagai media mengalami pembredelan, Seno menjadi salah satu jurnalis yang terus mencari cara untuk menyampaikan kenyataan. Salah satu peristiwa yang paling dikenal adalah liputannya mengenai pembantaian di Dili, Timor Timur, pada tahun 1991. Ketika ruang bagi laporan jurnalistik semakin sempit, ia memilih jalur sastra untuk menyampaikan hal-hal yang tidak dapat diucapkan secara langsung.
Dari pengalaman itulah lahir karya-karya seperti Saksi Mata, Penembak Misterius, dan Jazz, Parfum dan Insiden, yang merekam kekerasan, ketakutan, dan pembungkaman dengan kekuatan sastra. Kalimat yang sering dikaitkan dengannya, “Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara,” kemudian menjadi salah satu ungkapan paling dikenal dalam sejarah sastra Indonesia modern.
Namun bagi Seno, sastra tidak hanya menjadi ruang untuk mengkritik zamannya.
Seiring perjalanan kepenulisannya, ia semakin banyak kembali kepada tradisi bercerita Nusantara. Cerita silat, dunia wayang, dan mitologi Jawa menjadi medium baru untuk membicarakan persoalan yang sama, tetapi dalam cakrawala yang lebih luas.
Karya-karya seperti Kalathida, Drupadi, hingga Wisanggeni Sang Buronan masih membawa semangat seorang penulis yang peka terhadap kekuasaan dan kebebasan. Namun di balik konteks sosial dan politik yang melatarinya, novel-novel tersebut juga mengangkat pertanyaan yang jauh lebih abadi: tentang pilihan, pengorbanan, keberanian, dan bagaimana manusia menjalani hidup ketika tidak semua hal berada dalam kuasanya.
Di tangan Seno, wayang bukan sekadar warisan budaya.
Ia kembali menjadi ruang untuk berpikir tentang manusia.

Perjalanan Menuju Takdir
Wisanggeni lahir di luar hukum yang telah ditetapkan para dewa.
Keberadaannya tidak pernah direncanakan. Ia seolah muncul di luar lakon yang telah ditulis, sehingga tidak memiliki tempat dalam tatanan dunia wayang. Karena itulah para dewa memutuskan bahwa hidupnya harus segera diakhiri.
Namun justru karena lahir di luar aturan, Wisanggeni tumbuh menjadi ksatria dengan kesaktian yang melampaui banyak tokoh lain. Keberadaannya mulai dipandang sebagai ancaman terhadap keseimbangan yang ingin dipertahankan para dewa.
Ia pun menjadi buronan.
Tetapi Wisanggeni tidak melarikan diri.
Sebaliknya, ia mendatangi kahyangan dan menuntut para dewa. Ia mempertanyakan mengapa seseorang harus dihukum hanya karena keberadaannya sendiri.
Seperti banyak kisah kepahlawanan, novel ini diawali oleh amarah dan pertempuran. Namun menjelang akhir, Seno membawa pembacanya menjauh dari kahyangan dan medan perang.
Di pematang sawah dan di tepi sungai, melalui percakapan sederhana antara Wisanggeni, Semar, dan Sri Kresna, kisah tentang pemberontakan perlahan berubah menjadi renungan tentang kehidupan.
Di sanalah Wisanggeni menemukan jawaban yang tidak pernah ia duga.
Pemberontakan Sebagai Awal Perjalanan
Di awal cerita, Wisanggeni dipenuhi kemarahan.
Baginya, para dewa telah bertindak tidak adil. Ia dihukum bukan karena kesalahannya, tetapi karena keberadaannya sendiri. Maka ia memilih melakukan sesuatu yang bahkan para ksatria lain tidak berani lakukan: menuntut para dewa.
Di hadapan Sri Kresna, ia melontarkan pertanyaan yang menjadi inti seluruh novel:
“Apakah artinya hidup, kalau segenap langkah telah digoreskan takdir?”
Pertanyaan itu lahir dari kemarahan.
Namun Seno tidak pernah menggambarkan kemarahan Wisanggeni sebagai sesuatu yang keliru.
Justru pemberontakan itu adalah bagian dari perjalanannya. Ia harus mempertanyakan dunia terlebih dahulu sebelum mampu berdamai dengannya.
Belajar Melihat Dunia
Jawaban yang dicari Wisanggeni ternyata tidak pernah datang dari para dewa.
Ia justru menemukannya di tempat-tempat yang paling sederhana.
Ketika Semar melihat Wisanggeni terus bergulat dengan takdirnya, ia tidak memberikan nasihat. Ia hanya bertanya kepada seekor burung apakah ia pernah mempertanyakan mengapa dirinya ditakdirkan lahir dari sebuah telur.
Burung itu menjawab,
“Aku hanyalah seekor burung, Pak Semar. Lihatlah indahnya matahari.”
Jawaban itu terdengar begitu sederhana, bahkan nyaris tidak menjawab pertanyaan Wisanggeni.
Namun justru di situlah letak kebijaksanaan yang ditawarkan Seno.
Tidak semua pertanyaan tentang kehidupan harus dijawab dengan penjelasan. Kadang, kita hanya perlu belajar melihat kehidupan yang sedang berlangsung di hadapan kita.
Penerimaan itu kemudian semakin diperdalam ketika Sri Kresna mengajak Wisanggeni memancing di tepi sungai.
Ketika Wisanggeni bertanya tentang hak hidup seekor ikan yang mungkin akan berakhir sebagai santapan mereka, Sri Kresna menjawab dengan tenang,
“Hak hidupnya? Hak hidupnya adalah berenang.”
Sekali lagi, jawabannya bukan sebuah teori.
Melainkan ajakan untuk melihat bahwa setiap makhluk menjalani kehidupannya sebagaimana adanya.
Barangkali manusia pun tidak selalu harus memahami seluruh jalan hidupnya terlebih dahulu sebelum mulai menghidupinya.
Penerimaan Sebagai Akhir Perjalanan
Di penghujung kisah, Wisanggeni akhirnya memandang dunia dan berkata,
“Bumi itu sangat indah.”
Kalimat itu terasa sederhana.
Namun setelah seluruh perjalanan yang telah dilaluinya, mungkin tidak ada kesimpulan yang lebih bijaksana.
Takdirnya tidak berubah.
Para dewa tidak berubah.
Dunia tetap berjalan sebagaimana adanya.
Yang berubah hanyalah cara Wisanggeni memandang kehidupan.
Mungkin di situlah letak kedewasaan yang perlahan diajarkan perjalanan ini.
Bukan pada kemampuan menemukan jawaban untuk setiap pertanyaan.
Bukan pula pada keyakinan bahwa suatu hari kita akan memahami seluruh makna kehidupan.
Melainkan pada keberanian untuk berhenti bertengkar dengan dunia, dan mulai sungguh-sungguh menjalaninya.
Barangkali pada akhirnya, filsafat bukan membawa kita menjauh dari kehidupan.
Justru sebaliknya.
Ia membawa kita kembali kepada kehidupan itu sendiri.
Kepada matahari yang tetap terbit.
Kepada sungai yang terus mengalir.
Kepada orang-orang yang kita cintai.
Kepada bumi yang ternyata masih sangat indah.
Mungkin itulah yang dimaksud Albert Camus ketika ia mengajak kita membayangkan Sisifus berbahagia.
Dan mungkin, setelah semua itu…
yang tersisa hanyalah satu hal lagi.
Belajar tertawa bersama kehidupan.
>> Lanjut ke The Hitchhiker's Guide to the Galaxy
