Buku Yang Menunggu

Apa yang tertulis di dalam buku tidak pernah berubah. Saya yang berubah.

Memasuki bulan terakhir, website yang saya bangun akhirnya mendekati garis akhir.

Sebagian besar tulisan sudah selesai. Biografi para filsuf telah saya tulis ulang dengan referensi yang lebih lengkap. Struktur situs mulai terasa utuh. Yang tersisa hanyalah satu bagian terakhir: literatur.

Pagi itu saya berdiri di depan rak buku.

Bukan untuk mencari referensi baru.

Justru sebaliknya.

Saya mencari buku-buku yang sudah lama saya miliki.

Tangan saya lebih dulu mengambil The Unbearable Lightness of Being dari rak yang selama ini saya anggap sebagai “rak filsafat”. Lalu berpindah ke rak lain dan mengambil Wisanggeni Sang Buronan.

Keduanya saya beli ketika masih kuliah, lebih dari dua puluh tahun yang lalu.

Sampulnya masih terlapisi plastik bening, tapi halaman-halamannya mulai menguning.

Keduanya sudah pernah saya baca. Bahkan, dalam pikiran saya, kisah mereka sudah selesai.

Saya tidak tahu bahwa pagi itu, dua buku lama tersebut justru akan mengubah arah website ini untuk terakhir kalinya.

Dan, tanpa saya sadari, mengubah cara saya memandang filsafat, sastra, bahkan kehidupan.

Berawal dari Sebuah Daftar

Website ini sebenarnya dimulai dengan sesuatu yang sangat sederhana.

Lebih dari dua tahun yang lalu, saya hanya mulai mengumpulkan referensi.

Nama-nama filsuf, urutan sejarah pemikiran, biografi, daftar buku, catatan kecil tentang gagasan-gagasan yang menurut saya menarik.

Tujuannya pun tidak terlalu muluk.

Saya hanya ingin membuat sebuah referensi tentang filsafat, khususnya eksistensialisme, yang lebih mudah diakses dalam Bahasa Indonesia.

Pada tahap itu, website ini hampir sepenuhnya berbicara tentang para pemikir. Literatur bahkan belum menjadi bagian penting dari rencananya.

Kalaupun ada, fungsinya lebih sebagai pelengkap. Daftar awalnya pun terasa cukup mudah ditebak: The Stranger, The Plague, Nausea, No Exit, dan karya-karya lain yang memang identik dengan eksistensialisme.

Saya tidak pernah membayangkan bahwa justru bagian literatur, yang datang belakangan, akan mengubah arah seluruh perjalanan itu.

Ketika Buku-Buku Lama Kembali Dibuka

Ketika mulai menulis bagian literatur, saya sadar bahwa saya tidak ingin sekadar membuat daftar novel yang sering disebut ketika membahas eksistensialisme. Saya ingin kembali membaca buku-buku yang pernah menemani perjalanan saya sendiri.

Saya membeli The Unbearable Lightness of Being ketika masih kuliah, pada masa ketika saya mulai mengenal nama-nama seperti Nietzsche, Sartre, dan Camus. Waktu itu, novel ini terasa seperti semacam starter pack bagi siapa pun yang ingin memasuki dunia filsafat. Saya membacanya dengan semangat mencari ide-ide besar. Saya mengingat pembahasannya tentang eternal recurrence, tentang ringan dan beratnya kehidupan, tentang kebebasan dan pilihan.

Dua puluh tahun kemudian, saya membuka kembali novel yang sama.

Anehnya, hampir semua hal yang dulu saya anggap penting justru bergeser ke latar belakang.

Yang paling membekas justru halaman-halaman terakhirnya.

Tentang Tomas dan Tereza yang akhirnya menemukan ketenangan di sebuah desa kecil.

Tentang Karenin, anjing mereka, yang mengajarkan bentuk cinta yang paling sederhana.

Tentang sebuah tarian.

Saya menutup buku itu dengan perasaan yang sama sekali berbeda.

Buku kedua bahkan lebih mengejutkan.

Saya mengenal Seno Gumira Ajidarma melalui cerita-cerita pendeknya yang kritis terhadap Orde Baru. Jazz, Parfum dan Insiden adalah novel Seno pertama yang saya miliki, memperkenalkan saya pada seorang penulis yang menggunakan sastra untuk melawan kekuasaan.

Karena itu ketika membaca Wisanggeni Sang Buronan bertahun-tahun lalu, perhatian saya langsung tertuju pada tokoh utamanya.

Seorang anak wayang yang menolak tunduk kepada para dewa.

Saya membacanya sebagai kisah pemberontakan.

Bahkan, dalam cara saya membacanya saat itu, ada semacam kritik terhadap otoritas yang dianggap tidak dapat dipertanyakan.

Hari ini, saya menemukan cerita yang berbeda.

Pertempuran-pertempuran besar yang dulu begitu saya nikmati kini terasa hanya sebagai jalan menuju percakapan-percakapan sunyi di bagian akhir.

Percakapan Wisanggeni dengan Semar di pematang sawah.

Percakapannya dengan Sri Kresna di tepi sungai.

Dan kalimat sederhana yang entah bagaimana sama sekali saya lewatkan dulu.

“Bumi itu sangat indah.”

Saat itulah saya mulai menyadari sesuatu.

Bukan buku-buku itu yang berubah.

Saya yang berubah.

Perjalanan yang Tidak Pernah Saya Rencanakan

Baru ketika hampir seluruh website selesai, saya menyadari bahwa semua bagian di dalamnya membentuk sebuah pola.

Padahal saya tidak pernah merencanakannya.

Perjalanan filsafat dalam website ini perlahan bergerak dari kesadaran menuju dekonstruksi.

Dari filsafat Yunani, Pencerahan, filsafat kontinental, hingga fenomenologi, manusia berusaha memahami dunia dan dirinya sendiri. Ada keyakinan bahwa melalui akal, pengalaman, dan refleksi, kita dapat semakin mendekati pemahaman tentang kehidupan.

Lalu semuanya mulai dipertanyakan kembali.

Eksistensialisme menggugat esensi.

Absurdisme menggugat makna.

Postmodernisme bahkan menggugat cara kita memahami kebenaran itu sendiri.

Hampir semua kepastian yang dibangun pada bagian awal perlahan dilepaskan.

Dan setelah semua itu, perjalanan tidak berhenti.

Ia justru berakhir pada pertanyaan yang jauh lebih sederhana.

Jika memang tidak ada jawaban yang mutlak…

bagaimana kita sebaiknya hidup?

Menariknya, pola yang sama muncul ketika saya membaca kembali perjalanan hidup para filsuf. Kesadaran. Pergulatan. Krisis. Dan perlahan, menuju sesuatu yang lebih tenang.

Namun saya baru benar-benar menyadarinya ketika menulis dua artikel literasi terakhir.

Selama bertahun-tahun saya merasa Tomas dan Tereza akhirnya kalah. Mereka meninggalkan Praha. Meninggalkan kehidupan yang dulu mereka kenal. Berakhir di sebuah desa kecil, jauh dari semua ambisi yang pernah mereka miliki.

Demikian pula Wisanggeni.

Dulu saya membaca akhir novelnya sebagai sebuah antiklimaks. Setelah seluruh keberaniannya melawan para dewa, ia justru berhenti bertarung. Seolah-olah menerima nasib yang sejak awal ingin ia lawan.

Hari ini saya melihat keduanya dengan cara yang sama sekali berbeda.

Tomas tidak kalah. Ia memilih apa yang benar-benar berharga baginya.

Wisanggeni tidak menyerah. Ia menemukan kebebasan yang bahkan para dewa tidak dapat ambil darinya.

Mereka tidak menang karena berhasil mengubah dunia.

Mereka menang karena akhirnya berdamai dengan kehidupan yang mereka jalani.

Ketika menyelesaikan dua tulisan itu, saya kembali membuka hampir seluruh bagian website. Saya mengubah beberapa penutup, mengubah nada beberapa tulisan. Bahkan saya menambahkan epilog yang lahir dari cara pandang yang baru.

Tanpa saya sadari, website yang awalnya ingin menjelaskan eksistensialisme perlahan berubah menjadi perjalanan menuju kebijaksanaan.

Saat itu saya pikir semuanya sudah selesai.

Ternyata belum.

Satu Buku Lagi

Beberapa hari kemudian, saya kembali berdiri di depan rak buku.

Kali ini saya mengambil sebuah novel lain.

Life of Pi.

Waktu itu novel karya Yann Martel sedang menjadi bestseller. Saya tertarik pada premisnya. Seorang anak laki-laki yang terdampar di lautan bersama seekor harimau Bengal.

Saya menikmati ceritanya.

Lalu melupakannya.

Bahkan, kalau dipikir-pikir, saya sengaja menjauhkannya. Ketika mulai meninggalkan keyakinan yang dulu saya pegang, Life of Pi, apalagi setelah adaptasi filmnya, terasa seperti sebuah jawaban yang saat itu sudah tidak lagi saya cari. Buku itu perlahan menghilang dari radar saya, bahkan berpindah dari rak yang sering saya buka.

Saat itu, filsafat bagi saya lebih banyak berarti keberanian untuk mempertanyakan.

Membongkar.

Mendekonstruksi.

Hari ini, setelah perjalanan panjang menyelesaikan website ini, saya melihatnya dengan cara yang berbeda.

Di akhir Life of Pi, Yann Martel tidak meminta kita memilih mana cerita yang benar. Ia justru bertanya,

“Cerita mana yang Anda pilih?”

Dan mungkin di situlah saya menemukan sesuatu yang baru.

Selama bertahun-tahun saya melihat filsafat sebagai jalan untuk membongkar berbagai jawaban yang sudah ada.

Tetapi karena saya mulai memahami bahwa pertanyaan terpenting bukan selalu tentang siapa yang benar, melainkan bagaimana manusia berusaha menjalani hidup.

Mungkin pada akhirnya, elemen yang paling penting dari kata eksistensialisme bukanlah -isme.

Melainkan…

eksistensi.

Bahwa sebelum segala keyakinan, manusia lebih dahulu hidup.

Lebih dahulu mencoba memahami dunia dengan cerita yang ia miliki.

Mungkin karena itu buku-buku lama tersebut kembali datang pada waktu yang berbeda.

Bukan untuk mengubah apa yang saya yakini, melainkan untuk mengubah cara saya memandang manusia.

Dan saya mulai percaya, masih ada buku-buku lain di rak yang sedang menunggu.

Dan saya mulai percaya, masih ada buku-buku lain di rak yang sedang menunggu.

Bukan karena saya belum pernah membacanya.

Tapi karena setiap buku punya waktunya sendiri.

Dan mungkin, begitu pula setiap pembaca.

>> Baca Filsafat dan Pencarian Makna Hidup