Techno-Existentialism dan Pertanyaan Lama di Dunia yang Baru

Pagi dimulai dengan sesuatu yang sangat biasa.

Saya bangun, mengambil ponsel, lalu melihat dunia.

Berita yang muncul telah dipilih berdasarkan apa yang pernah saya baca. Media sosial menyusun apa yang mungkin ingin saya lihat.

Masuk ke mobil, Spotify memilih playlist yang biasa saya dengarkan pagi hari. Google Maps menentukan jalan mana yang sebaiknya saya ambil supaya paling cepat sampai kantor.

Di dalam laptop, sesuatu sudah menunggu.

Artificial intelligence.

Saya menggunakannya untuk bekerja, mencari informasi, menulis, berdiskusi, bahkan sesekali untuk memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.

Anehnya, tidak ada satu pun dari semua ini yang terasa aneh.

Sebelum saya benar-benar memulai hari, sebagian kecil dari dunia yang akan saya lihat sudah dipilihkan untuk saya. Sepanjang hari, ada sesuatu yang berpikir bersama saya.

Saya lahir di awal 1980-an. Cukup tua untuk mengingat kehidupan sebelum internet, tetapi cukup muda untuk ikut tumbuh bersamanya.

Saya pernah mengenal masa ketika telepon adalah benda yang kita tinggalkan ketika kita keluar rumah. Ketika internet adalah sesuatu yang harus kita sambungkan, gunakan, lalu tinggalkan. Ada dunia digital dan ada dunia nyata, dan batas di antara keduanya masih cukup mudah dikenali.

Batas itu perlahan menghilang.

Teknologi tidak lagi hanya berada di meja. Ia berpindah ke saku, lalu ke hampir setiap bagian kehidupan kita. Ia membantu kita bekerja, menemukan jalan, memilih hiburan, bertemu orang lain, mengingat masa lalu, dan sekarang bahkan membantu kita berpikir dan menciptakan sesuatu.

Seperti kebanyakan orang, saya menikmati teknologi, menggunakannya setiap hari, dan masih merasa takjub melihat apa yang sekarang bisa dilakukannya.

Tapi mungkin justru karena itulah saya mulai bertanya:

Pada titik mana teknologi berhenti sekadar menjadi alat yang membantu kita, dan mulai ikut membentuk cara kita memandang dunia, bahkan diri kita sendiri?

Ketika Teknologi Mulai Membentuk Kita

Pada awalnya, hubungan kita dengan teknologi terasa sederhana.

Kita menciptakan alat untuk membantu melakukan sesuatu.

Namun perlahan, hubungan itu berubah.

Teknologi tidak lagi hanya membantu kita melakukan apa yang sudah kita putuskan. Ia mulai ikut menentukan bagaimana kita membuat keputusan tersebut.

Jauh sebelum itu, seorang filsuf Jerman bernama Martin Heidegger sudah melihat sisi lain dari hubungan manusia dengan teknologi.

Pada tahun 1954, ia menulis sebuah esai berjudul The Question Concerning Technology.

Bagi Heidegger, persoalan teknologi bukan semata tentang alat yang kita gunakan. Kehadiran sebuah teknologi juga dapat mengubah cara kita melihat dunia.

Dengan hadirnya teknologi yang memungkinkan hutan ditebang dan diolah dalam skala besar, misalnya, sebuah hutan dapat terlihat bukan hanya sebagai lingkungan yang hidup, tetapi juga sebagai persediaan kayu yang siap digunakan.

Heidegger sendiri menggunakan sungai sebagai salah satu gambaran. Ketika sungai dibendung untuk menghasilkan listrik, ia tidak lagi hanya hadir sebagai bagian dari bentang alam. Ia juga dilihat sebagai potensi energi yang dapat dihitung dan dimanfaatkan.

Hutannya tidak berubah. Sungainya tetap mengalir.

Yang berubah adalah cara kita melihatnya.

Heidegger menyebut cara pandang ini sebagai enframing.

Dan mungkin hari ini kita dapat melihat sesuatu yang serupa terjadi dalam pengalaman sehari-hari.

Perhatian kini dapat hadir sebagai likes. Hubungan dapat terjalin melalui followers. Percakapan berlangsung melalui layar. Kenangan tersimpan dalam cloud. Sebuah perjalanan bahkan dapat kita lalui tanpa pernah benar-benar mengetahui jalan yang kita lewati.

Bukan berarti pengalaman-pengalaman itu menjadi kurang nyata.

Kita tetap memperhatikan, berhubungan, berbicara, mengingat, dan bepergian.

Tetapi kita mengalaminya dengan cara yang berbeda.

Dalam pemikiran Heidegger, manusia selalu berada di tengah dunia, berhubungan dengan benda, tempat, dan manusia lain. Ia menyebut keberadaan manusia ini sebagai Dasein, atau secara sederhana, being-in-the-world.

Teknologi tidak menghapus keberadaan itu.

Ia mengubah dunia tempat kita berada, dan bersama dengannya, mengubah cara kita mengalami keberadaan kita di dalamnya.

Sesuatu yang sejak dulu menjadi bagian dari eksistensi manusia, kini kita alami dengan cara yang berbeda.

Ketika Teknologi Mulai Menyerupai Kita

Lalu hubungan itu berubah sekali lagi.

Selama sebagian besar sejarahnya, teknologi memperluas kemampuan manusia. Kita membuat mesin yang semakin pintar, semakin cepat, semakin efisien.

Tetapi mesin tetap terasa seperti mesin.

Pada tahun 1950, seorang matematikawan Inggris bernama Alan Turing mengajukan sebuah pertanyaan yang saat itu mungkin terdengar seperti fiksi ilmiah:

Can machines think?

Untuk mencari jawabannya, ia mengusulkan sebuah permainan yang kemudian dikenal sebagai Imitation Game. Seseorang melakukan percakapan melalui teks dengan manusia dan mesin, tanpa mengetahui yang mana di antara keduanya.

Pertanyaannya kemudian menjadi lebih sederhana: dapatkah kita membedakan keduanya hanya dari percakapan tersebut?

Puluhan tahun kemudian, permainan pikiran itu terasa jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Artificial intelligence dapat berbicara dengan kita menggunakan bahasa sehari-hari. Ia menulis, membuat gambar, menggubah musik, menerjemahkan bahasa, membantu memecahkan masalah, bahkan menanggapi pertanyaan dengan cara yang kadang terasa seperti sedang berbicara dengan manusia lain.

Saya sendiri menggunakannya hampir setiap hari.

Kadang sebagai alat. Kadang sebagai asisten. Kadang sebagai teman berdiskusi.

Dan mungkin di sinilah sesuatu kembali berubah.

Teknologi tidak lagi hanya berada di antara kita dan dunia.

Ia mulai melakukan hal-hal yang selama ini kita gunakan untuk menggambarkan diri kita sendiri.

Kita menulis. Ia menulis.

Kita menciptakan. Ia menciptakan.

Kita berbicara. Ia menjawab.

Bahkan sesuatu yang kita sebut kecerdasan kini tidak lagi terasa sepenuhnya eksklusif milik manusia.

Kini, pertanyaannya bukan lagi hanya:

Bisakah mesin semakin menyerupai manusia?

Tetapi:

Ketika mesin semakin mampu melakukan apa yang dilakukan manusia, bagaimana kita melihat diri kita sendiri?

Alan Turing, dengan mesin pemecah kode di Bletchley Park

Techo-Existentialism

Pada akhirnya, teknologi membawa kita kembali pada dua pertanyaan yang sebenarnya sangat tua.

Bagaimana kita berhubungan dengan dunia?

Dan,

Bagaimana kita melihat diri kita sendiri?

Heidegger menunjukkan bahwa teknologi dapat mengubah cara kita mengalami dunia. Turing membawa pertanyaan itu lebih dekat kepada diri kita sendiri: ketika mesin semakin mampu melakukan apa yang dilakukan manusia, apa yang masih membedakan kita?

Di titik inilah saya kembali kepada Jean-Paul Sartre.

Salah satu gagasan paling terkenal Sartre adalah existence precedes essence.

Manusia, menurut Sartre, tidak diciptakan dengan sebuah essence, fungsi, atau tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.

Kita ada terlebih dahulu.

Lalu kita memilih akan menjadi siapa.

Di sinilah mungkin terdapat perbedaan yang lebih mendasar antara manusia dan mesin.

Sebuah mesin dibuat untuk suatu fungsi tertentu. Tujuannya sudah ada sebelum mesin itu sendiri dibuat.

Dalam pengertian Sartre, mesin justru memiliki essence sebelum existence.

Manusia tidak.

Kita tidak didefinisikan oleh fungsi, kegunaan, atau kemampuan tertentu. Kita terus membentuk diri melalui pilihan yang kita ambil.

Sartre bahkan membawa gagasan ini lebih jauh. Bagi manusia, kebebasan bukan sekadar salah satu kemampuan yang kita miliki.

Kita tidak bisa menghindarinya.

Kita selalu berada dalam keadaan tertentu yang tidak kita pilih: lahir pada zaman tertentu, berada di tengah masyarakat tertentu, menghadapi keadaan tertentu. Tetapi bahkan di dalam batas-batas itu, kita tetap harus menentukan bagaimana kita meresponsnya.

Tidak memilih pun merupakan sebuah pilihan.

Maka teknologi dapat mengubah dunia tempat kita hidup. Algoritma dapat menentukan apa yang muncul di layar. Sistem dapat merekomendasikan apa yang sebaiknya kita baca, dengarkan, beli, bahkan pikirkan.

Enframing mungkin memengaruhi cara kita melihat dunia.

Tetapi apa yang kita lakukan di dalam dunia itu tetap menjadi pilihan kita.

Di sinilah paradoks artificial intelligence menjadi menarik.

Mesin dapat meniru semakin banyak hal yang kita lakukan. Ia dapat menulis, menciptakan, berbicara, dan memberikan sesuatu yang terlihat seperti sebuah keputusan.

Tetapi mesin tidak memilih dalam pengertian eksistensial Sartre.

Ia bekerja dalam kondisi yang diberikan kepadanya. Ia menjalankan sistem, merespons input, dan bergerak menuju tujuan berdasarkan bagaimana ia dibangun.

Ia dapat meniru pilihan, tanpa pernah mengalami kebebasan.

Mungkin di sinilah techno-existentialism menemukan tempatnya.

Bukan sebagai perlawanan terhadap teknologi, dan bukan pula usaha mencari kemampuan terakhir yang belum dapat dilakukan mesin.

Tetapi sebagai cara membawa kembali pertanyaan eksistensial ke dunia yang semakin dibentuk oleh teknologi.

Teknologi mengubah bagaimana kita mengalami dunia.

Teknologi mungkin bahkan mengubah bagaimana kita melihat diri sendiri.

Namun pertanyaan tentang apa yang kita lakukan terhadap dunia itu, bagaimana kita berhubungan dengan manusia lain di dalamnya, dan siapa yang kita pilih untuk menjadi, tetap kembali kepada kita.

Technology frames. We choose.

Dan Pertanyaannya Berlanjut

Beberapa waktu lalu, pertanyaan-pertanyaan itu membawa saya menulis di Medium.

Bukan tentang tech review atau perkembangan terbaru artificial intelligence. Saya menulis tentang pertemuan antara teknologi dan eksistensi manusia: tentang AI, kreativitas, kecerdasan, kebebasan, dan makna.

Karena ketika mesin mulai semakin menyerupai kita, mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukan lagi tentang apa yang dapat dilakukan mesin.

Tetapi tentang apa artinya menjadi kita.

Dan mungkin, seperti hampir semua tulisan di website ini, saya tidak benar-benar menemukan jawabannya.

Saya hanya menemukan lebih banyak pertanyaan.

>> Kembali ke Awal

Baca Juga: