Balon Raksasa, Confetti, Kematian dan Tiket Konser

Panggung malam itu dipenuhi warna.

Balon-balon besar melayang di atas kepala penonton. Confetti ditembakkan ke udara, jatuh perlahan di bawah cahaya lampu yang terus berganti warna. Di layar belakang panggung, pelangi, bunga, dan berbagai gambar aneh bergerak mengikuti musik.

Di tengah semuanya berdiri Wayne Coyne.

Usianya sudah lebih dari enam puluh tahun. Rambutnya memutih. Di tangannya ada sesuatu yang tampak seperti bunga raksasa. Entah apa sebenarnya. Pada titik itu saya sudah berhenti mencoba memahami apa yang terjadi di atas panggung.

Di sekitar saya orang-orang bernyanyi, tertawa, mengangkat tangan.

Saya juga.

The Flaming Lips adalah satu-satunya alasan saya datang ke festival malam itu. Saya sudah mendengarkan musik mereka selama bertahun-tahun, tetapi baru kali ini melihat mereka secara langsung.

Dan ternyata mereka bahkan lebih absurd dari yang saya bayangkan.

Semuanya terasa seperti pesta ulang tahun anak-anak yang dirancang oleh seseorang yang sedang mengalami psychedelic trip.

Lalu akhirnya datang lagu yang paling saya tunggu.

Do You Realize??

Saya diam sebentar.

Saya sudah mendengar lagu itu mungkin ratusan kali. Tetapi malam itu, berdiri di antara ribuan orang dengan potongan confetti menempel di pakaian, ada sesuatu yang terasa berbeda.

Musiknya terdengar begitu bahagia.

Hampir terlalu bahagia.

Padahal lagu itu sedang mengingatkan kami tentang sesuatu yang sangat sederhana.

Orang-orang yang kita cintai akan mati.

Kita juga.

Suatu hari semua ini akan selesai.

Aneh rasanya memikirkan kematian ketika sebuah balon raksasa sedang melayang beberapa meter di atas kepala.

Tapi mungkin justru itu yang membuatnya terasa begitu indah.

Tidak ada kesedihan di wajah orang-orang di sekitar saya. Tidak ada suasana muram. Kami tidak sedang berkumpul untuk meratapi kenyataan bahwa hidup akan berakhir.

Kami sedang merayakannya.

Saya ikut bernyanyi.

Tapi ini bukan pertama kalinya sebuah konser membuat saya memikirkan tentang hidup dan kematian.


Beberapa bulan sebelumnya, saya berdiri di barisan paling depan menonton Foo Fighters.

Saya sudah mendengarkan Foo Fighters sejak lama. Cukup lama untuk menghafal lirik sebagian besar lagu yang dimainkan malam itu. Cukup lama juga untuk merasakan bahwa lagu yang sama bisa terdengar berbeda ketika kita mendengarnya pada usia yang berbeda.

Malam itu saya berusia empat puluh lima tahun.

Dave Grohl, yang sudah berusia lima puluhan, berlari dari satu sisi panggung ke sisi lain seperti seseorang yang menolak mengakui bahwa tubuh manusia punya batas. Ia berteriak, tertawa, memainkan gitar, lalu berteriak lagi.

Sulit melihat Foo Fighters dan membayangkan bahwa band ini lahir dari sebuah kematian.

Pada 1994, Kurt Cobain meninggal dan Nirvana berakhir bersamanya. Grohl kehilangan bukan hanya band tempat ia bermain, tetapi juga seseorang yang sangat dekat dengannya. Untuk beberapa waktu ia bahkan tidak yakin ingin kembali bermusik.

Tapi kemudian ia melakukannya.

Ia merekam beberapa lagu sendiri. Dari sana lahir Foo Fighters.

Sebagai remaja di tahun 90-an, saya selalu menyukai cerita itu. Mungkin karena saya sekadar ingin musik Nirvana berlanjut. Atau setidaknya, saya ingin tahu seperti apa reaksi musikal Grohl terhadap tragedi itu.

Tapi ternyata Foo Fighters tidak terdengar seperti musik seseorang yang meratapi kematian.

Mereka terdengar seperti seseorang yang memutuskan untuk tetap hidup setelahnya.

Dan personally, salah satu lagu yang paling tepat menggambarkan itu bagi saya adalah Walk.

Saya sudah menunggu lagu itu, dan mereka memainkannya menjelang akhir konser.

Ada bagian ketika musik terus membesar dan suara Grohl berubah hampir menjadi teriakan. Saya tahu bagian itu akan datang. Saya sudah mendengarnya berkali-kali melalui headphone, speaker mobil, laptop, entah sejak kapan.

Tapi mendengarnya beberapa meter dari panggung terasa berbeda.

I never wanna die.

Kalimat itu diulang lagi.

Dan lagi.

Lalu datang kalimat tentang belajar hidup kembali.

Saya ikut berteriak bersama ribuan orang lainnya.

Tidak ada yang subtle tentang itu.

And I fuckin’ love that.

Bagian itu menyentuh saya lebih keras sekarang dibandingkan ketika saya mendengarnya dulu.

Mungkin karena ketika masih muda, kematian adalah sesuatu yang jauh dari pikiran.

Apalagi belajar untuk hidup kembali.

Kita hanya hidup.

Ada terlalu banyak hal di depan sehingga waktu terasa seperti sesuatu yang tidak perlu dipikirkan. Kita membuat rencana bertahun-tahun ke depan dengan keyakinan aneh bahwa kita akan berada di sana ketika waktunya tiba.

Tentu saja kehidupan tidak berjalan seperti itu.

Orang pergi.

Rencana gagal.

Tubuh mulai memberikan pengingat kecil bahwa ia tidak akan selalu mengikuti keinginan kita.

Beberapa hal yang kita pikir akan selalu ada ternyata bisa hilang begitu saja.

Dan pada suatu titik, mungkin kita merasa jalan kita salah.

Atau simply kita tidak ingin berjalan lagi.

And most of the time, kita memang harus belajar berjalan lagi.

Lebih dari tiga puluh tahun setelah Nirvana berakhir, saya akhirnya melihat Dave Grohl berdiri beberapa meter di depan saya.

Sebuah cerita yang bermula dari kematian ternyata masih berjalan.

Tapi saya tidak pulang dari konser Foo Fighters dengan memikirkan semua itu.

Saya hanya ingat perasaan ketika ikut meneriakkan bagian itu.

I never wanna die.

Lalu suatu hari, saya mendapat kabar bahwa The Flaming Lips akan menggelar konser di Jakarta.


Tujuh belas tahun yang lalu, ketika anak pertama saya lahir, saya membuat sebuah video sederhana tentang kelahirannya

Foto-foto dari rumah sakit. Wajah kecil yang baru beberapa hari saya kenal. Potongan-potongan momen yang waktu itu terasa begitu baru.

Saya memilih Do You Realize?? sebagai musiknya.

Saya tidak terlalu ingat kenapa.

Mungkin karena potongan lirik tentang memiliki wajah paling indah.

Atau mungkin justru karena beberapa saat kemudian lagu itu melakukan hard left turn dan mengingatkan bahwa semua orang yang kita kenal suatu hari akan mati.

Kelahiran seorang anak seharusnya membuat kita memikirkan awal.

Anehnya, saya justru juga memikirkan waktu.

Saya ingat melihatnya untuk pertama kali dan merasakan kebahagiaan yang hampir menakutkan. Ada manusia baru yang tiba-tiba menjadi begitu penting dalam hidup saya.

Lalu muncul sebuah pikiran yang rasanya tidak pantas berada di sana.

Berapa lama kebahagiaan seperti ini bisa bertahan?

Bukan karena saya sedang sedih.

Justru sebaliknya.

Mungkin ketika sesuatu terasa begitu berharga, kita mulai menyadari kemungkinan kehilangannya.

Tujuh belas tahun kemudian, saya berdiri di tengah kerumunan dan mendengar lagu yang sama.

Anak kecil dalam video itu sudah hampir dewasa.

Saya juga bukan orang yang sama.

Lagunya tidak berubah.

Waktu yang berubah.

Saya selalu tahu The Flaming Lips bukan sekadar sekumpulan stoner hippies yang membuat musik aneh.

Di balik semua properti panggung, kostum absurd, dan psychedelic chaos itu, selalu ada sesuatu yang lain dalam musik mereka.

Saya sudah mendengarnya sejak lama.

Tapi malam itu, rasanya seperti saya benar-benar mengerti apa yang sedang mereka rayakan.


Kita sering membayangkan eksistensialisme sebagai filsafat yang muram.

Tidak sepenuhnya salah.

Para pemikir yang kemudian kita kelompokkan ke dalam tradisi ini memang banyak berbicara tentang hal-hal yang tidak terlalu menyenangkan untuk dibicarakan saat makan malam: kematian, kecemasan, absurditas, kebebasan, kesendirian, dan kemungkinan bahwa kita menjalani kehidupan tanpa makna dan tujuan akhir yang telah digariskan.

Albert Camus bahkan memulai The Myth of Sisyphus dengan pertanyaan tentang bunuh diri.

Tidak terlalu menjanjikan.

Tapi anehnya, ketika membaca lebih jauh, saya justru merasa bahwa Camus sedang mengajak kita untuk menghargai kehidupan.

Sisyphus tetap mendorong batunya, meskipun ia tahu batu itu akan kembali jatuh.

Kita juga tetap menjalani hidup, meskipun tahu semuanya akan berakhir.

Kita membiarkan diri kita jatuh cinta. Memutuskan untuk punya anak. Membuat rencana pensiun. Membeli tiket konser beberapa bulan sebelumnya.

Kita tahu tidak ada jaminan semuanya akan terjadi.

Tetap saja kita melakukannya.

Mungkin meaninglessness dan nothing matters memang bukan hal yang sama.

Dan mungkin sesuatu tidak harus berlangsung selamanya untuk menjadi penting.

Justru kesementaraan mengubah cara kita melihatnya.

Sebuah lagu akan selesai.

Sebuah malam akan menjadi ingatan.

Seorang anak tumbuh, dan suatu hari kita menyadari bahwa wajah kecil dalam video tujuh belas tahun lalu sudah tidak ada lagi.

Tidak membuat semua itu menjadi kurang berarti.

Mungkin justru sebaliknya.

The Flaming Lips melakukan sesuatu yang sangat sederhana dengan gagasan itu.

Mereka menyalakan lampu, mengeluarkan balon raksasa, menembakkan confetti ke udara, lalu mengajak semua orang bernyanyi bersama.

Kalau hidup memang terbatas, tidak ada alasan untuk tidak merayakannya.

Mungkin kita tetap akan berduka.

Mungkin kita tetap akan takut.

Tapi sesekali kita bisa tertawa.

Dan mungkin sesekali kita bisa membuatnya menjadi sebuah pesta.

Itulah yang kami lakukan malam itu.

Tapi sebelum semuanya selesai, masih ada satu konser lagi yang ingin saya datangi.


Saya tidak pernah merasa punya fase emo dalam hidup saya.

Tapi My Chemical Romance tetap menjadi bagian dari musik yang saya dengarkan sejak lama. Mungkin musiknya. Mungkin juga attitude mereka yang rebel.

Seperti banyak musik yang kita kenal sejak lama, mereka kemudian sempat menjadi sesuatu yang tinggal di playlist lama.

Sesekali terdengar.

Masih hafal lagunya.

Tidak pernah benar-benar pergi, tapi juga tidak lagi terlalu saya pikirkan.

Lalu 2020 datang.

Pada bulan-bulan pertama pandemi, dunia terasa sangat berbeda.

Jalanan Jakarta yang biasanya penuh mendadak kosong. Restoran tutup. Pusat perbelanjaan sepi. Orang-orang tinggal di rumah dan mencoba memahami sesuatu yang belum benar-benar dipahami siapa pun.

Setiap hari ada angka baru.

Kasus baru.

Kematian baru.

Aturan baru.

Sebagian besar orang yang saya kenal bekerja dari rumah.

Saya tetap pergi ke kantor.

Bukan karena berani.

Saya memang harus pergi.

Saya masih ingat perjalanan pagi pada masa itu. Jalan yang biasanya membuat saya menghabiskan terlalu banyak waktu di dalam mobil bisa dilewati begitu cepat. Lampu-lampu gedung tetap menyala, tetapi banyak ruang di dalamnya kosong.

Ada sesuatu yang tidak wajar melihat sebuah kota besar berhenti bergerak.

Dan pada masa itu, ketakutan terasa berbeda dibanding sekarang ketika kita melihatnya kembali.

Sekarang kita tahu apa yang kemudian terjadi.

Waktu itu tidak.

Kita belum tahu kapan semuanya akan selesai. Belum tahu seberapa berbahaya virus itu sebenarnya. Belum ada vaksin. Bahkan hal sederhana seperti menyentuh gagang pintu, berdiri terlalu dekat dengan seseorang, atau menghirup udara tanpa masker bisa terasa seperti sesuatu yang mengancam hidup.

Untuk pertama kalinya, saya mengalami serangkaian panic attack.

Dan pada masa itulah saya kembali mendengarkan My Chemical Romance.

Saya tidak ingat persis bagaimana mulainya. Mungkin satu lagu muncul di playlist, lalu saya mulai mendengarkan album-album lama mereka lagi.

Album pilihan saya, tentu saja, The Black Parade.

Album yang sejak awal memang tidak pernah malu berbicara tentang kematian.

Ada pasien yang sedang sekarat. Ada ketakutan. Penyesalan. Kehilangan. Ada gagasan tentang kematian sebagai sebuah parade yang datang menjemput kita.

It was the perfect album to channel my anxiety dalam perjalanan menuju kantor di tengah pandemi.

Tapi lagu yang paling melekat pada saya waktu itu adalah lagu terakhir di album ini, very appropriately titled Famous Last Words.

Ada satu kalimat di dalamnya yang terus kembali.

I’m not afraid to keep on living.

Saya tahu itu hanya sebuah lagu.

Tapi saya terus memainkannya setiap kali saya takut untuk turun dari mobil.

Saya memainkannya dalam perjalanan pulang sambil khawatir membawa sesuatu ke rumah.

Saya terus mengulangnya.

Dan setiap kali, saya menaikkan volumenya.


Tahun ini, lebih dari enam tahun setelah pagi-pagi kosong itu, My Chemical Romance akan datang.

Mereka akan memainkan The Black Parade. Seluruh album, dari awal sampai akhir.

Ada sesuatu yang terasa tepat tentang itu.

Saya menemukan kembali album tersebut pada masa ketika dunia seolah berhenti dan tidak seorang pun benar-benar tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

My Chemical Romance sendiri sempat bubar.

Sekarang dunia kembali berjalan. Mereka juga.

Dan saya akan melihat mereka memainkan The Black Parade secara langsung.

Saya belum tahu apakah konser ini benar-benar akan berjalan.

Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di Jakarta antara sekarang dan waktu konser nanti.

Saya bahkan tidak tahu apakah saya benar-benar akan berada di sana ketika waktunya tiba.

Yang saya tahu, saya sudah membeli tiketnya.

Semakin saya memikirkan tiga konser ini, semakin saya menyadari betapa banyak hal dalam hidup yang kita jalani seperti itu.

Kita tahu hidup ini sementara.

Tapi kita tetap membuat rencana seolah-olah masih ada hari esok.

Tentu saja kita tidak pernah benar-benar tahu.

Saya tidak tahu berapa banyak konser yang masih akan saya tonton.

Berapa banyak perjalanan pulang ke rumah.

Berapa banyak ulang tahun.

Berapa banyak pagi ketika saya membuka mata dan mendapati semuanya masih ada.

Tidak seorang pun tahu.

Mungkin itu menakutkan.

Tapi saya tidak lagi yakin itu harus selalu menyedihkan.

Beberapa bulan lagi, kalau semuanya berjalan sesuai rencana, saya akan bertemu My Chemical Romance.

Di sebuah konser yang merayakan kematian.

Di tengah ribuan orang yang masih hidup.

Saya akan berada di sana.

Setidaknya, itu rencananya.

Tiketnya sudah ada.

Back to Home