
Saya tidak percaya pada afterlife, tapi jika harus membayangkannya, entah kenapa saya selalu teringat pada film Coco.
Film animasi Pixar itu bercerita tentang Miguel, seorang anak yang tanpa sengaja memasuki dunia orang mati dan bertemu dengan leluhurnya. Dunia itu penuh warna dan musik, dengan kesibukan serta persoalan yang terasa akrab. Orang-orang yang telah meninggal masih punya hubungan keluarga, kerinduan, bahkan urusan yang belum selesai.
Namun ada satu ketentuan yang membuat dunia itu terasa mengganggu. Keberadaan mereka bergantung pada ingatan orang yang masih hidup. Selama masih ada seseorang yang mengingat, mereka tetap punya tempat di sana. Ketika ingatan terakhir itu hilang, mereka ikut lenyap.
Dengan begitu, seseorang bisa mengalami dua kali kematian. Pertama ketika hidupnya berakhir. Kedua ketika tidak ada lagi yang mengingatnya.
Bukan kebetulan tulisan ini saya buat menjelang Día de Muertos, atau Day of the Dead, yang dirayakan di Meksiko pada 1 dan 2 November. Tradisi mengenang orang yang telah meninggal melalui foto, makanan kesukaan, dan benda-benda personal inilah yang menjadi latar Coco. Ada sesuatu yang menyentuh dalam usaha menyediakan tempat bagi mereka yang sudah tidak hadir.
Bagi saya, kemungkinan untuk tetap dikenal lewat sesuatu yang tertinggal punya daya tarik tersendiri. Saya sadar harapan itu ikut menggerakkan apa yang saya kerjakan saat ini. Ada kesenangan menciptakan sesuatu, sekaligus ketakutan bahwa waktu saya habis sebelum ada sesuatu yang cukup berarti untuk ditinggalkan.
Karena itu, gagasan berdamai dengan keterbatasan hidup masih menyisakan satu pertanyaan untuk saya. Apakah menerima bahwa hidup akan berakhir juga berarti saya harus rela dilupakan?
Tangan Tanpa Nama
Ketika memikirkan hal ini, saya teringat pada sesuatu yang jauh lebih tua daripada tulisan: gambar tangan di dinding gua prasejarah.
Tepatnya, ini bukan gambar, melainkan cetakan. Untuk membuatnya, tangan ditempelkan ke dinding, lalu pewarna disemburkan di sekelilingnya. Ketika tangan ditarik, yang tertinggal adalah bentuk kosong yang dikelilingi warna. Kita melihat tempat sebuah tangan pernah berada.
Kita tidak perlu menengok jauh. Salah satu yang tertua di dunia ada di Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, berusia setidaknya 67.800 tahun, seni cadas tertua yang pernah diketahui. Bahkan tentang kapan persisnya dibuat, kita hanya bisa mengatakan “setidaknya”.
Bagi saya, gambar semacam itu terasa seperti usaha manusia untuk meninggalkan sesuatu dari keberadaannya. Setidaknya, begitulah saya membacanya sekarang. Mungkin maknanya sama sekali berbeda. Mungkin itu sebenarnya adalah semacam tanda ritual, penanda wilayah, atau sesuatu yang tidak terbayangkan oleh saya.
Apa pun itu, jejak tangannya masih sampai kepada saya, dan saya ingin tahu lebih banyak. Siapa dia? Apa yang penting baginya? Seperti apa dunia yang ia lihat? Sedikit sekali yang bisa saya ketahui, tetapi peninggalannya masih membuat seseorang puluhan ribu tahun kemudian berhenti dan bertanya-tanya.
Lalu saya membayangkan orang yang meninggalkan gambar itu. Dengan segala yang ia miliki saat itu, apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan? Apakah jejak tersebut sudah memenuhi keinginannya, atau masih ada sesuatu yang belum berhasil ia ungkapkan?
Ketika ia menarik tangannya dari dinding dan melihat bentuk yang tertinggal, apakah ia merasa sudah cukup?
Jika pembuat gambar itu tinggal di dunia Coco, apakah ia sudah lama menghilang karena tak seorang pun lagi mengenalnya? Atau apakah jejak tangan yang masih membuat saya memikirkan dirinya sudah cukup untuk membuatnya tetap ada?

Kendali yang Masih Ingin Dipegang
Saya mengenali keresahan itu dalam cara saya bekerja. Ketika terlibat dalam sebuah proyek, saya ingin mengetahui perkembangannya, ikut menentukan arahnya, dan mempunyai kendali atas hasil akhirnya. Keterlibatan itu kadang terasa obsesif, bahkan posesif.
Ada kepuasan ketika sebuah gagasan berkembang menjadi program, kampanye, atau sesuatu yang hasilnya nyata. Ada pemikiran, pilihan, dan tenaga saya yang ikut membentuknya. Hubungan saya dengan hasil pekerjaan itu kadang terasa lebih personal daripada yang dapat dijelaskan melalui pencapaian atau tanggung jawab.
Pola yang sama hadir dalam proyek-proyek pribadi saya.
Ketika menyusun website ini, ada semangat akademik dan idealisme untuk memperkenalkan pemikiran, tokoh, serta buku-buku yang membentuk filosofi hidup saya. Saya memilih apa yang ingin dibahas, mencari hubungan antargagasan, lalu berusaha menjelaskannya dengan cara yang terasa dekat.
Tetapi sejujurnya, ada alasan lain yang ikut tumbuh selama mengerjakannya. Tulisan-tulisan itu perlahan memperlihatkan bagaimana saya memahami kehidupan, sekaligus bagaimana saya sendiri belum tuntas menjalani apa yang saya tulis. Semakin banyak yang saya sampaikan, semakin banyak pula bagian diri yang terasa tertinggal di sana.
Penulisan novel memberi ruang untuk mengembangkan sesuatu lebih jauh. Saya dapat membangun cerita, memberi kehidupan kepada tokoh, dan mengisinya dengan pertanyaan dari pemikiran saya. Semakin jauh saya menulis, semakin banyak potongan diri yang saya tempatkan di dalamnya. Semakin sulit pula menjaga jarak dari apa yang saya kerjakan.
Ketika hasilnya belum sesuai dengan yang saya bayangkan, rasanya masih ada bagian yang perlu dikerjakan, diperbaiki, atau dipertahankan. Website ini mengalami setidaknya tiga kali perubahan total, bahkan sempat beberapa kali berganti nama. Draf novel saya sudah memasuki revisi ketujuh.
Artikel ini pun sudah direvisi empat kali. Dua kali sebelum ditayangkan, dan dua kali setelahnya.
Ada ironi dalam kebiasaan itu, mengingat betapa sering saya membahas absurditas dan keterbatasan kendali. Memahami gagasan tersebut ternyata belum membuat saya lebih mudah menerima batasnya dalam pekerjaan sendiri.
Selama masih bisa mengubah website atau merevisi naskah, saya merasa mempunyai kesempatan untuk menentukan apa yang akan saya tinggalkan. Tetapi bisakah saya benar-benar menerima bahwa, setelah semua usaha ini, saya tetap tidak dapat menentukan berapa lama saya akan hadir melalui sesuatu yang saya tinggalkan?
Camus meminta kita membayangkan Sisifus berbahagia meskipun batunya akan selalu menggelinding turun lagi. Saya bisa membayangkan revisi ketujuh sebagai usaha mendorong batu itu ke puncak sekali lagi. Selalu ada bagian yang perlu diperbaiki, lalu saya kembali mengerjakannya.
Perjuangan Sisifus berlangsung tanpa janji bahwa batu itu akhirnya akan menetap di puncak. Saya memahami hal tersebut.
Tapi saya curiga saya masih menuntut janji itu.
Menerima Batas Kehidupan
Mungkin selama ini saya membayangkan penerimaan sebagai keadaan ketika saya akhirnya merasa cukup. Saya sudah meninggalkan sesuatu yang berarti, lalu dapat melepasnya dengan tenang. Tetapi gambaran itu masih meminta kepastian bahwa usaha saya akan berlanjut. Saya ingin menerima keterbatasan sambil memastikan ada bagian diri saya yang lolos darinya.
Martin Heidegger membahas kehidupan manusia sebagai being-toward-death. Dalam Being and Time, kematian menjadi bagian dari cara kita memahami kehidupan. Kita membuat rencana, memilih pekerjaan, membangun hubungan, dan menciptakan sesuatu dalam kehidupan yang suatu hari akan berakhir. Kita tidak selalu memikirkan akhir itu, tetapi kemungkinan tersebut tetap membatasi apa yang dapat kita jalani.
Menghadapi kenyataan ini dapat membuat pilihan terasa lebih penting. Saya mempunyai waktu yang terbatas, sehingga perlu menentukan apa yang ingin saya kerjakan di dalamnya. Menulis adalah salah satu pilihan tersebut. Saya dapat menjalaninya dengan sungguh-sungguh tanpa mempunyai kepastian bahwa tulisan itu akan membuat saya terus dikenang.
Batas lain muncul ketika apa yang saya kerjakan sampai kepada orang lain.
Dalam Pyrrhus et Cinéas, Simone de Beauvoir membahas bagaimana proyek seseorang dapat memperoleh kelanjutan melalui orang lain. Sesuatu yang saya mulai mungkin diteruskan, dikembangkan, atau diberi arti baru oleh mereka yang menjumpainya.
Namun, orang-orang itu mempunyai kebebasan sendiri. Dalam The Ethics of Ambiguity, Beauvoir menghubungkan kebebasan kita dengan kebebasan orang lain. Dalam konteks tulisan, saya memahaminya sebagai kesediaan memberi ruang bagi pembaca untuk menyetujui, mempertanyakan, menafsirkan ulang, atau menutup halaman yang saya tulis.
Gambar tangan di gua memperlihatkan kemungkinan itu. Kita tidak mengetahui maksud pembuatnya, tetapi jejaknya kini menjadi bagian dari penelitian, percakapan, dan pertanyaan kita sendiri. Makna yang kita temukan melibatkan kehidupan kita sebagai orang yang menjumpainya.
Dengan demikian, ada dua batas yang perlu saya hadapi. Waktu untuk menciptakan sesuatu akan berakhir. Sementara itu, makna dari apa yang saya ciptakan juga dibentuk oleh orang lain. Saya dapat memilih apa yang ingin saya tinggalkan, tetapi bagaimana dan seberapa lama jejak itu berlanjut tidak sepenuhnya berada di tangan saya.
Tangan yang Saya Tinggalkan
Andai saja ada afterlife seperti dalam Coco. Ada tempat untuk melanjutkan keberadaan, selama seseorang di dunia orang hidup mengingat kita. Saya bisa membayangkan mengapa kemungkinan itu terasa menenangkan.
Tetapi saya tidak percaya ada kehidupan lain yang menunggu. Bagi saya, kesempatan untuk melakukan sesuatu hanya tersedia dalam kehidupan yang sedang berlangsung ini.
Di dalam waktu itulah saya masih bisa memberi bentuk pada sesuatu yang mungkin bertahan melampaui kehadiran saya. Kelanjutannya akan berlangsung dalam kehidupan yang tidak lagi bisa saya arahkan.
Untuk sekarang, pekerjaan, website, dan buku yang saya tulis adalah tangan-tangan yang sedang saya tempelkan ke dinding. Ada bagian dari diri saya di dalamnya, dengan segala keyakinan, keraguan, dan pertanyaan yang masih berubah.
Saya tidak tahu siapa yang kelak akan menjumpainya, atau apa yang akan mereka baca dari sana.
Saya memahami batas itu. Saya berharap suatu hari dapat menerimanya.
Tapi untuk saat ini, saya belum selesai.
>> Baca Filsafat dan Pencarian Makna Hidup

Tinggalkan Balasan